"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Pilu mencekam.


__ADS_3

Di Rumah sakit itu,


Azkayra terduduk lemas di ujung bangku panjang dan tetap dengan isakan tangis nya, sementara Arwan duduk sedikit jauh dari Nona nya.


Mata Azka sempat berkunang kunang, namun ia masih bisa melihat beberapa dokter yang sibuk mondar mandir masuk kedalam ruangan di mana Hanz di masuk kan.


Entah sudah berapa jam Hanz berada di dalam sana. Azka pun sudah tak peduli lagi dengan rasa lelah yang menyerang tubuh nya. Begitu juga dengan Arwan dan anak buah nya. Apalagi Arwan ,bahkan ia tak peduli jika di dalam kaki nya masih bersarang timah panas yang harusnya sudah di keluar kan dari sana .


Sepertinya Arwan baru saja mendapat telepon dari seseorang,


Dengan tertatih Arwan beranjak dari duduk nya dan keluar dari sana untuk menemui seseorang yang baru saja menelepon nya.


"Tuan Besar." sapa nya ketika sudah berada di luar.


"Apa yang sebenar nya terjadi..?" ucap Seseorang yang di panggil Tuan besar oleh Arwan .


Arwan menceritakan semua yang terjadi secara jelas, membuat Tuan besar nya menggerutu kan gigi nya nampak air mata mulai menetes di ujung matanya.


"Ternyata ini yang membuat perasaan ku beberapa hari ini tidak tenang, dan aku memutuskan untuk ke Ruang Utama. Aku terkejut mendengar penuturan Berlinda."


"Dari mana Tuan tau jika kami berada di rumah sakit ini.?" tanya Arwan merasa belum mengabari Tuan nya yang ternyata Ginanjar Samudra itu.


"Berlinda menelepon salah satu dari kalian." jawab Ginanjar.


"Ampuni kami Tuan, tentang kelalaian ini." ucap Arwan tidak berani menatap Tuan Besar nya.


Ginanjar menepuk bahu Arwan, ia tidak ingin sepenuhnya menyalahkan Arwan atau pun lainnya akan tragedi yang menimpa Putri dan calon menantu nya.


"Aku akan menemani Nona kalian, sementara kau obati dulu luka mu. Setelah itu aku tidak mau Toko itu masih berada di tempat nya lagi. Itu kesalahan mereka dan mereka harus membayar mahal atas kelalaian nya." ucap nya.


"Baik Tuan, Saya memang harus mengeluarkan timah panas ini dulu. Setelah itu saya akan kembali lagi. Besok saya pasti kan Toko itu akan tutup untuk selamanya." jawab Arwan tertatih kembali masuk kedalam rumah sakit.


Sementara Ginanjar dengan beberapa pengawal dan tentunya Bimo asisten setia nya itu juga melangkah memasuki rumah sakit.


Ia segera menghampiri Putri nya yang terlihat sangat kacau itu.


"Azka...!!"


Azka menoleh ,saat ia menyadari siapa yang datang, Azka pun berhambur menubruknya.


"Ayah...!! Hanz ayah. Hanz..! Tolong dia Ayah. Hanz tidak boleh mati. Azka tidak mau jika Hanz sampai mati Ayah..!!" Tangis Azka pecah di dekapan Ginanjar.


"Tenang lah Azka, Hanz pasti akan baik baik saja. Ia laki laki yang kuat. Kau harus percaya itu putri ku." Ginanjar tidak bisa berbuat apa apa selain memeluk erat putri nya.


"Tapi ayah, Hanz tertembak ayah. Hanz tertembak karena melindungi Azka. Seharusnya Azka yang ada di dalam situ bukan Hanz.." Azka kembali menangis pilu.

__ADS_1


"Hanz melakukan itu karena ingin kau selamat Azka, ia sangat mencintai mu. Kau harus bisa kuat demi Hanz, karena jika kau kuat Hanz akan ikut kuat. Kau tidak boleh lemah Azka. Ingat lah perjuangan Hanz untuk mu." ucap Ginanjar mendekap erat Azka.


Di dalam hati nya terselip perasaan khawatir yang begitu dalam, bagaimana jika Hanz tidak selamat? Apa yang akan terjadi pada Putri nya.?


"Ayo duduk lah,." Ginanjar membimbing Azka untuk duduk kembali di bangku, menopang tubuh Putri nya yang lemah itu.


Masih terus menangis di pelukan ayah nya, Azka pun terus bergumam memanggil nama Hanz.


Pilu, itulah perasaan Ginanjar saat ini. Ia mengingat saat ia harus kehilangan Amila, persis seperti apa yang di alami putri nya saat ini .


"Jangan Tuhan.. jangan Kau ulang kehilangan itu, cukup aku yang merasakan kehilangan. Jangan putri ku." rintih dalam hati Ginanjar.


Tak lama berselang dokter membuka pintu, begitu dokter itu muncul di depan pintu Ginanjar langsung berdiri dan menghampiri sang Dokter.


"Dokter .. bagaimana keadaan nya !" tanya Ginanjar.


"Tuan, kami sudah berhasil mengeluarkan peluru itu. Tapi..!" dokter itu menghentikan ucapan nya.


"Tapi apa dokter..!!! " Azka menjerit menghampiri mereka.


"Azka..kau harus tenang." Ginanjar Segera meraih tubuh Putri nya .


"Katakan apa yang terjadi pada nya..??" Teriak Azka.


"Dokter..apa yang terjadi.?" Ginanjar menatap Dokter yang masih saja terdiam itu.


Azka langsung berlari memasuki ruangan dan menghampiri Tubuh Hanzero yang masih tergeletak di atas ranjang. Begitu juga dengan Ginanjar dan dokter itu. Mereka segera menyusul Azkayra.


Arwan yang baru saja datang dari mengobati luka nya pun langsung ikut memasuki ruangan bersama beberapa panak buah nya.


"Hanz.. kau tidak boleh mati Hanz. Kau tidak bisa meninggal kan aku . Hanzero... Bangun...!!!!" Azka terus mengguncang guncang tubuh Hanz.


"Hanz... Kenapa kau diam saja... Bangun Hanz, kau tidak bisa meninggalkan aku ... Kau tidak boleh melakukan ini padaku Hanzero..Bangun...!!!" Azka terus menjerit. Jeritan nya kini benar benar menyayat hati bagi yang mendengar nya.


Suasana pilu memenuhi ruangan itu.


"Azka, kau harus tabah." ucap lirih Ginanjar memeluk putri nya kembali.


" Tidak ayah, Hanz belum mati. Hanz pasti selamat ayah. Hanz sudah berjanji pada Azka, dia akan menikahi Azka Ayah..." gumam Azka meraih tangan Hanz.


"Azka, kau harus kuat nak..!"


"Hanz.. kenapa kau ini Hanz, kau mau mengingkari janji mu padaku setelah apa yang kau lakukan padaku hah..!! Kau tidak bisa seenak diri mu sendiri Hanz. Kau sudah mengambil kehormatan ku. kau harus tanggung jawab Hanz. Jika tidak, aku akan mengadu pada ayah ku , Ayah ku akan menghukum mu jika tau apa yang sudah kau perbuat pada Putri nya. Apa kau tau, ayah ada disini Hanz.. aku benar benar akan mengadukan perbuatan mu pada ayah . Kau dengar aku Hanz..!!" Azka kembali mengguncang kasar tubuh Hanz yang masih saja terdiam itu.


"Azka.. Kau tidak boleh seperti ini. Kasian Hanz, dia pasti sedih melihat mu seperti ini." ucap Ginanjar berusaha menenangkan hati Putri nya.

__ADS_1


"Ayah, kau harus membangunkan nya Ayah. Apa kau tau Hanz sudah menodai putri mu. Kau harus memarahi nya Ayah. Kau harus menghukum nya, karena dia mau lari dari tanggung jawab nya. Ayah...!!! Aku tidak mau kehilangan Hanz Ayah. Azka mohon...!!! Azka mencintai nya Ayah.. Aku mencintai Hanz ..!! " kini tubuh Azka ambruk di pelukan Ginanjar.


Suasana begitu mencekam dan menyayat hati, tidak ada yang tidak mengeluarkan air mata melihat keadaan Azkayra yang begitu terpukul.


Arwan dan para pengawal nya pun ikut terisak.


Begitu juga dengan para suster, mereka tak kuasa melihat adegan di depan mata mereka.Sang dokter pun berkali kali mengusap air matanya dengan Pucuk lengan jas putih nya.


Hanya Ginanjar Samudra yang tetap berusaha tegar untuk menguatkan sang Putri nya, meski hati dan perasaan nya begitu tercabik cabik.


Bagaimana tidak, ia harus menyaksikan Hanzero Pria yang selama ini ia bangga kan , calon menantu nya belum sempat menjadi suami Putri nya itu, harus meregang nyawa hanya karena melindungi Putri nya.


"Dokter...!! Jantung pasien kembali berfungsi..!!" jerit salah satu Suster di tengah suasana yang mencekam itu.


"Beri pertolongan pertama.. Cepat cepat ..!!!" Sang Dokter langsung memberi perintah.


Semua yang ada terkejut.


Begitu juga dengan Ginanjar.


"Tuan, tolong semua keluar." ucap Seorang Suster.


Ginanjar langsung menyeret tubuh azka yang lemah itu, dan membopong nya keluar ruangan.


Semua keluar kecuali para Suster dan Dokter. Suster pun langsung menutup pintu.


Azka masih terisak di pelukan Ginanjar yang terus menepuk dan membelai lembut punggung Putri nya.


"Ayah.. Hanz akan selamat kan Ayah..?" lirih Azka.


"Itu pasti sayang.. pasti.!" ucap Ginanjar demi meyakinkan putri nya.


Tidak bagi Arwan, mulut nya terus komat Kamit seperti dukun yang sedang membaca mantra, ia terus memanjat kan doa kepada Tuhan, ia benar benar tidak ingin Tuan Hanzero nya meninggal begitu saja.


Perasaan bersalah terus bergelut di hati Arwan, ia selalu merasa jika ini semua karena kelalaian nya , dan ia datang terlambat untuk membantu Tuan dan Nona nya itu, sehingga Tuan Hanzero nya harus menghadapi musuh nya seorang diri dan berakhir tragis seperti itu.


_____________________


^^^"Hai semua, Sampai disini dulu ya..?? Karena author lagi ada urusan sedikit nih .. nanti malam akan kita sambung lagi. oke.!!!!^^^


^^^tetap jaga kesehatan dan usaha kan tetep di dalam rumah saja. Karena covid 19 belum juga pergi dari sekitar kita.^^^


...Mending jaga jarak rajin cuci tangan dengan sabun.....


...Dan di rumah saja jika tidak ada keperluan yang penting, di temani author Any yang cantiikkk......"...

__ADS_1


Bye ..bye...!!!!


__ADS_2