
Hanzero terbangun saat Azka menggeliat di pelukannya, berkali kali ia mengerjapkan matanya saat menyadari keadaan Azka dan dirinya yang tanpa busana itu .
Hanz mengingat betul apa yang telah terjadi. Ia kemudian bangun dan duduk disisi Azka yang masih terlelap. Ia memandangi wajah gadis itu dengan dalam, tampak penyesalan dari dirinya dengan apa yang telah ia lakukan pada Nona nya itu .
"Azka.." Tangan Hanz membelai wajah Azka.
"Hanz." sahut Azka lirih , ia terbangun merasakan sentuhan lembut di wajah nya.
"Apa kau baik baik saja.?" tak terasa Hanz meneteskan air mata .
"Kenapa kau menangis..?" Azka segera duduk dan membalut tubuhnya dengan selimut .
"Maaf kan saya Nona, seharusnya semua ini tidak boleh terjadi. Saya benar benar tidak berguna. Saya sudah mengecewakan Tuan Ginanjar. Saya tidak bisa menjaga Nona. Malah saya sendiri yang sudah menghancurkan Nona." ucap Hanz .
"Hanz, ini bukan salahmu, tapi salah kita berdua . Aku juga yang menginginkan nya." jawab Azka meraih tangan Hanz.
"Kehormatan Nona sudah ku rusak , apa Nona tidak menyesal.?" Hanz menatap lekat Azka.
"Aku tidak akan pernah menyesal, karena aku memberikan nya pada Pria yang ku cintai. Asal kau mau bertanggung jawab Hanz.!." jawab Azka yang juga menatap Hanz dengan serius.
"Saya akan bertanggung jawab Nona, saya akan bertanggung jawab." Hanz memegang kedua bahu Azka .
"Jadi , kapan kau akan menemui Ayah ku untuk meminta restu pada nya.?"
"Besok Nona, besok pagi."
"Kau serius Hanz..?"
Hanz mengangguk.
Ia segera meraih pakaiannya dan mengenakan nya, lalu memungut pakaian Azka yang bercecer di ranjang,
Hanz mengenakan pakaian Azka .
"Aku bisa sendiri Hanz.."
"Biar saya Nona, saya yang telah melepasnya." ucap Hanz. Azka hanya terdiam saat satu persatu Hanz memasangkan pakaian nya.
"Apa Nona ingin mandi dulu di sini..?" tanya Hanz sembari menyisir rambut Azka.
"Tidak , aku tidak ada pakaian ganti. Kita pulang saja." jawab Azka.
"Kalau begitu biar saya mandi dulu ya , sebentar saja." ucap Hanz.
Azka hanya mengangguk, dan Hanz segera masuk ke kamar mandi .
Ia mengguyur tubuh nya dengan air dingin, sambil berkali kali mengutuk dirinya sendiri.
"Kenapa aku bisa gila seperti ini,.? Bisa seceroboh begini . Bagaimana kalau Tuan Ginanjar tidak menerimaku dan malah akan menendang ku dari Rumah Utama. Lalu bagaimana nasib Nona ku...?
aaahhhhhh.... aku benar benar tidak berguna."
"Tidak.. apapun yang terjadi aku harus tetap bersama Nona. Kalau pun Tuan Ginanjar menolak ku, aku akan tetap memperjuangkan Nona. Aku sudah menodai nya dan aku harus menikahinya.
Aku tidak mungkin membiarkan Nona menanggung semua ini sendiri."
Pikiran Hanz terlihat sangat kacau sekali. Tapi ia tak ingin terlihat kacau di depan Azka, ia tetap tersenyum saat di depan gadis itu.
"Cepat sekali Hanz.?" sapa Azka melihat Hanz sudah keluar kamar mandi .
"Saya tidak ingin Nona menunggu." jawab nya menghampiri lemari pakaian nya. Ia segera membuka lemari dan meraih pakaian nya dan langsung mengenakan nya.
"Mari Nona." Hanz mengajak Azka untuk segera pulang .
Azka bangun dari duduk nya dan melangkah .
"Hanz,.." Azka berpegangan pada sisi ranjang ,ia merasa kesulitan untuk melangkah.
"Nona." Hanz menghampiri Azka.
"Sakit Hanz , aku susah melangkah."
"Biar ku gendong saja." Hanz tiba tiba paham kondisi Azka. Semua itu karena ulah nya.
"Tapi Hanz .."
Hanz langsung membopong tubuh mungil Azka yang hanya pasrah dan melingkarkan tangan nya di leher Kekasihnya.
Tanpa merasa lelah Hanz membopong Azka sampai di mobil.
__ADS_1
"Kau tidak capek Hanz..?" tanya Azka setelah duduk manis di samping Hanz yang siap melaju.
Hanz hanya tersenyum, " Tidak sebanding dengan yang telah Nona korban kan untuk saya."
Azka membalas senyum nya.
Kini mereka terdiam dan Hanz berfokus pada jalan.
Beberapa lama kemudian Mereka sampai di rumah utama, Hanz kembali membopong Nona nya memasuki rumah utama dan menuju kamar Azka.
"Tuan.. apa yang terjadi pada Nona..?" Berlinda menghampiri dengan wajah panik.
"Tidak apa apa , Nona.. Nona hanya terjatuh dan kaki nya terkilir." jawab Hanz menduduk kan Azka di ranjang.
"Nona.. ? Kenapa bisa jatuh.?" Berlinda terus bertanya dengan penuh kekhawatiran.
"Aku.. aku tersandung Berlinda.. Tidak apa apa, ini sudah baikan juga." jawab Azka sedikit gugup.
"Nona.. itu pasti sakit sekali. Saya akan mengurut nya. Mana yang sakit..?" Berlinda mendekati Azka.
"Ah, tidak perlu Berlinda, tadi Hanz sudah mengurutnya." Azka menatap Hanz seperti memberi isyarat pada Hanz.
"Berlinda.. Siapkan mandi untuk Nona sekarang.!" Hanz segera memberi perintah.
"Baik Tuan." Berlinda pun langsung bergegas menyiapkan keperluan mandi Azka.
Tak lama Berlinda selesai menyiapkan air hangat dan keperluan lainnya.
"Nona , silahkan." Berlinda mempersilahkan Nona nya untuk mandi.
"Siap kan makan malam Nona ,dan bawa ke kamar saja." Hanz kembali memberi perintah pada Berlinda.
"Baik Tuan." Berlinda bergegas ,Hanz segera mengunci pintu setelah Berlinda keluar kamar.
"Mari Nona.. Saya akan membantu." Hanz mendekati Azka.
"Aku bisa sendiri."
"Tapi Nona masih sakit."
"Tidak sesakit yang kau pikirkan. Hanya sedikit nyeri kalau untuk melangkah , bukan berarti tidak bisa mandi sendiri."
Hanz mengangguk, tapi ia tetap memapah Azka hingga masuk ke kamar mandi.
Beberapa saat kemudian Azka membuka pintu.
"Hei, kenapa berdiri disini.?" Azka terkejut melihat Hanz masih berdiri di depan pintu.
"Saya khawatir Nona tidak bisa berjalan."
"Kau ini.. Tidak segitu nya juga Hanz. Aku sudah sembuh." jawab Azka mencoba melangkah Normal meskipun masih merasa kan perih di area sensitif nya.
Azka segera berganti pakaian dan duduk di pinggir ranjang nya.
"Nona.. nanti setelah makan, Nona istirahat ya. Saya akan ke kamar dulu." Hanz mengecup singkat kening Azka.
"Kau juga ya..?" jawab Azka.
Hanz mengangguk sambil tersenyum dan melangkah keluar.
Sampai dikamar nya Hanz kembali dengan pikiran kacau nya.
Setelah pagi menjelang Hanz langsung bersiap untuk pergi ke kampung Halaman Tuan Ginanjar , dengan mengumpul kan seluruh keberanian , Hanz membulatkan tekadnya dan siap menanggung segala kemungkinan yang akan dihadapinya.
"Azka , dengar kan aku. Kau tidak boleh keluar rumah sebelum aku kembali." ucap Hanz sebelum pergi.
"Hanz, aku khawatir. Bagai mana jika Ayah.."
"Azka.. kau jangan khawatir. Aku akan berusaha. Aku butuh doa dan dukungan mu." Hanz memeluk gadis itu.
"Hanz.. aku selalu berdoa. Cepat kabari aku jika sudah sampai di sana. Dan kabari aku apapun yang terjadi." Azka membalas pelukan Hanz dengan sangat hangat .
"Aku berangkat ya.. " tak lupa Hanz mengecup pucuk kepala Azka .
Azka sempat meneteskan air mata saat melihat langkah Hanz meninggalkan nya.
*
__ADS_1
*
*
Sepanjang perjalanan jantung Hanz tak hentinya berdegup kencang. Bayangan ke murkaan Tuan Ginanjar selalu melintas di kepalanya. Namun kemudian bayangan saat ia menikmati tubuh Azka pun melintas seperti memberi kekuatan tersendiri baginya.
Demi mu Nona...
aku akan menghadapi apapun itu.
Hanz segera menenangkan pikiran nya dan fokus menyetir.
Setelah sekian lama melaju , mobil Hanz memasuki kampung dimana Ayah Azka sekarang tinggal. Karena Hanz memang pernah beberapa kali mengantar Ginanjar kesana , Hanz sangat hafal dimana letak Rumah Tuan nya.
Mobil Hanz berhenti di depan rumah yang terlihat megah dan mewah untuk ukuran rumah di perkampungan .
Hanz segera keluar dari mobil dan melangkah mendekati pintu, ia mengetuk pintu berkali kali sampai seseorang membukanya.
"Tuan Hanzero..!!!" Bimo Asisten setia Ginanjar menyapa nya.
"Bimo, apa Tuan Besar ada..?"
"Mari silahkan kan duduk dulu Tuan, saya akan memanggilkan nya." Bimo segera melangkah memanggil Tuan nya .
Hanz duduk di sofa dan berusaha mengatur nafas nya, tegang kini menyelimutinya.
"Hanzero...!!" Ginanjar memekik saat melihat siapa yang datang.
"Tuan.. bagaimana kabar anda..?" sapa Hanz menunduk hormat.
"Aku baik baik saja Hanz.. Mana Azkayra..?" tanya Ginanjar tak melihat Azka bersama Hanz .
"Nona di rumah Tuan, saya sengaja kesini sendiri"' jawab Hanz kembali duduk setelah melihat Ginanjar duduk.
"Kenapa kau tidak membawa Putri ku..? "
"Ada hal penting yang saya ingin bicarakan dengan Tuan."
"Ada apa ini Hanz, apa yang terjadi pada Putri ku.?" tatapan mata Ginanjar penuh kekhawatiran.
"Nona baik baik saja Tuan."
"Ooh syukur lah. Lalu ada masalah apa , Sampai kau datang kemari.?"
"Tuan.. maafkan saya." Hanz menunduk kan pandangan nya.
"Hanz, ada apa. Kau tidak biasanya seperti ini.?" tanya Ginanjar semakin penasaran melihat Hanz yang begitu tegang.
"Saya datang kemari untuk.."
"Kata kan saja Hanz, aku siap mendengar nya." sahut Ginanjar menangkap hal lain dari nada bicara Hanz.
"Sekali lagi, maafkan saya atas kelancangan saya Tuan. Tapi saya harus melakukan nya." Hanz menarik nafas dalam dalam dan Ginanjar masih setia menunggu kelanjutan ucapan Hanz.
"Saya .. Saya ingin melamar Putri Tuan." akhirnya Hanz benar benar mengucap kan kata itu di hadapan Ginanjar .
"Apa..? Kau mau melamar Putri ku untuk kau jadikan istri.??" Ginanjar seperti tidak percaya pada orang yang selama ini sudah benar benar ia percayai.
Hanz mengangguk.
"Kau tidak sedang mabuk kan Hanz..?"
"Tuan saya.."
"Oh.. pasti Azka yang sudah memaksa mu..!"
"Tidak Tuan, saya datang atas keinginan saya sendiri. Maaf kan saya jika saya mengecewakan Tuan, tapi saya benar benar terlanjur mencintai Nona." jawab Hanz, kini berani menatap Ginanjar.
"Omong kosong ..!!!" Ginanjar tiba tiba bangun dari duduk nya.
_____________
*kira kira.. apa ya yang bakalan di lakukan Ginanjar pada Hanzero.
Ditendang dari Rumah Utama ,atau di tembak kepalanya..?
Jangan lupa terus pantengin "Hanzero aku mencintai mu Nona, dan beri dukungan kalian untuk karya ini*.
__ADS_1
Ini adalah novel fantasi pertama ku... coba di kepoin yuk...
siapa tau kalian penggemar cerita Fantasi.. bisa sedikit menghibur...