
Hanzero tetap saja melangkah menuruni tangga untuk mencari buah strawbery putih yang minta istri nya, padahal ia sendiri masih ragu, Apa ada.?
"Arwan.!" sempat terkejut ketika menatap Arwan sudah di depan pintu.
"Tuan, anda mau kemana.?"
"Kebetulan kau sudah pulang, ayo ikut aku." Hanz bersemangat, setidak nya ada teman untuk berbagi pusing.
Tanpa bertanya Arwan pun mengikuti langkah tuan nya dan membuka kan pintu mobil.
"Kemana ini Tuan.?" tanya Arwan masih menginjak gas.
"Huh.!" menghela nafas.
"Tuan," Arwan menoleh.
"Ah, kemana saja . Yang penting bisa mendapatkan nya."
"Mendapat kan apa Tuan.?" Arwan bingung dengan ucapan Hanz.
"Arwan, apa ada buah strawberry berwarna putih. Kau pernah melihat nya ? Mendadak Nona menginginkan nya."
"Ada Tuan." spontan Arwan menjawab.
"Hei, aku sedang tidak bercanda.!" Hanz mengira Arwan mengada Ngada.
"Ada Tuan, serius. Saya pernah melihat nya di internet. Kalau tidak salah, itu tanaman liar dari Amerika Selatan." jawab Arwan.
"Yang benar saja , apa aku harus ke sana untuk mendapatkan nya.?" Hanz terbelalak.
"Mungkin di sini ada Tuan.? Nama lain buah itu Pineberry kalau tidak salah. Buah hasil persilangan Strawbery apa gitu dengan Nanas kalangan apa ya..? Pokoknya rasa nya pun lebih berasa nanas dari pada Strawbery." jelas Arwan.
"Kau sudah pernah memakannya.?"
Arwan hanya nyengir. "Hehe, Belum.?"
"Lalu dari mana kau tau,?"
"Internet Tuan.?"
"Aaa.. ! Kira kira apa ada di kota ini, aku ragu.." Hanz terlihat frustrasi.
"Kita harus berusaha. Wanita hamil itu Jika tidak dituruti, anak nya bisa ngiler nanti."
"Apa..? Sepertinya kau pengalaman sekali dengan Wanita hamil." Hanz melirik sekretaris nya itu.
"Dari internet Tuan." lagi lagi jawaban Arwan membuat hati Hanz ragu.
"Pokok nya kita harus mendapatkan nya, aku tidak mau Anak ku ngiler nanti nya." ucap Hanz.
Melewati sebuah mall Arwan segera menepi dan memarkirkan mobilnya.
"Kita cari di sini dulu Tuan, mudah mudahan ada."
Mereka berdua pun bergegas memasuki mall tersebut.
Tak butuh waktu lama , Hanz akhirnya menemukan buah itu. Dan segera membelinya dalam jumlah banyak.
__ADS_1
"Ternyata permintaan Azka bukan mengada ada, buah ini benar benar ada." ucap Hanz segera mengajak Arwan pulang setelah selesai membayar buah yang sudah di tangan nya itu.
"Apa rasa nya, Aku penasaran." ucap Hanz merogoh buah itu.
"Jangan Tuan, Nona Azka itu sangat peka. Terlebih saat hamil muda. Nona pasti tau kalau tuan sudah mencicip nya. Iya kalau Nona terima di beri sisa, kalau tidak ? Itu akan menjadi Masalah besar yang akan mempersulit Tuan sendiri nanti nya." Arwan dengan bijak nya berusaha menyadarkan Tuannya.
"Kau benar Arwan, tumben kau jenius." sahut Hanz , menarik kembali tangan nya dan menyimpan rasa penasaran nya .
Sampai di Rumah Utama, Hanz tak sabar lagi dengan hasil pencarian nya yang berhasil menemukan apa yang di ingin kan istri nya. Ia langsung membawa nya pada sang istri.
"Azka, lihat lah. Aku mendapatkan nya." seru Hanz menghampiri Azka di kamar.
"Benar kah Hanz.?" wajah Azka sumringah seperti mendapatkan hadiah mewah, ia segera menyambar kantong plastik dari tangan Hanz dan membuka nya, lalu segera melahap nya.
"Azka, kau tidak mencuci nya dulu.?"
"Ini bersih Hanz, tenang saja." jawab Azka terus melahap buah itu dengan nikmat nya.
"Enak.?" tanya Hanz melihat Azka sangat menikmati nya.
"Enak sekali Hanz,!"
" Boleh aku mencicip nya ?" saking penasaran nya, Hanz meminta ijin Azka yang tidak berperasaan menawari nya.
"Ambil lah Hanz, ini banyak sekali. Aku tidak mungkin menghabiskan nya sendiri." Azka menyodorkan nya.
Hanz pun mengambil nya dan segera mengunyah nya.
Baru saja mengunyah..
"Astaga... Kecut sekali..!" ucap Hanz mengusap sisa air liur nya.
"Ini tidak enak Azka, asam..!"
"Hanz, buah sesegar ini kau bilang tidak enak.? Kalau tidak suka jangan memakan nya, Simpan saja untuk ku.. buat besok besok, lusa. Aku masih mau." jawab Azka.
"Cukup Azka,nanti kau sakit perut. Ini tidak bagus untuk lambung mu." Hanz merampas plastik itu.
"Hanz, kembali kan.? Hanz, kau.!" Azka terlihat marah sekali.
Melihat itu Hanz segera meletakkan kembali plastik itu.
"Baik lah baiklah... makan lah sepuas mu. Tapi awas saja kalau perut mu sakit." Hanz segera beranjak dan duduk di sofa , menghela nafas dan menggeleng kan kepalanya .
Apa ibu ku juga seperti itu sewaktu mengandung ku.?
Hanz terus memperhatikan Azka, khawatir perut Azka sakit karena memakan buah kecut itu. Tapi Hanz tidak bisa melarang nya lagi, apalagi seperti nya Azka sangat menikmati buah itu.
_______
Malam sudah meraba, Hanz segera menaiki ranjang dan mendekati istrinya.
"Gerah Hanz, jangan menempel.!" ucap Azka menarik selimut.
Sekali lagi Hanz hanya bisa menghela nafas. Bicara gerah, tapi menarik selimut tebal nya. Sungguh aneh !
__ADS_1
Hanz hanya bisa pasrah dengan nasib nya, ketika Azka menaruh guling di tengah tengah mereka sebagai pembatas agar tubuh Hanz tidak menempel padanya.
Hanz sudah mulai terlelap.
"Hanz.!" suara Azka mengagetkan Hanz yang hampir masuk ke alam mimpi.
"Iya Sayang...!"
"Mau peluk." Azka menarik guling itu dan menempel kan punggung nya.
"Apa.? Tadi tidak mau dekat dekat, sekarang minta peluk.?"
"Kau tidak mau memeluk ku..?" suara Azka nyaring di telinga Hanz.
"Ya ya ya..Aku peluk. Atau kau mau meminta lebih.?" Hanz segera mendekap tubuh Azka.
"Tidak mau.!, aku cuma mau peluk."
"Tidak bisa , kau sudah membangunkan nya. Kau harus tanggung jawab." Hanz langsung mengunci tubuh istrinya.
Malam itu akhirnya bukan hanya pelukan hangat yang di dapat Azka, tapi lebih dari sekedar pelukan.
Azka pun terlelap dengan tubuh polos nya.
Hanz tersenyum melihat itu, menarik selimut menutupi tubuh istri nya. Mengecup kepala nya berkali kali.
"Aku mencintai mu Azka." bisik Hanz menyusul ke alam mimpi.
*****
Itulah hari hari Hanz yang harus Extra sabar dalam menghadapi masa ngidam Azka. Dengan permintaan Azka yang aneh aneh buat Hanz, dan mood Azka yang berubah rubah. Kadang manja , kadang ingin di jauhi. Kadang benci dan tiba tiba sayang pada Hanz.
Pernah suatu malam, saat Hanz asyik asyik nya terlelap, Azka membangunkan nya hanya untuk meminta nasi goreng. Lebih parah nya Hanz yang harus memasak nya sendiri. Susah payah Hanz memasak nasi goreng untuk Azka. Dan paling parah nya lagi, setelah nasi goreng sudah siap, Azka sudah terlelap dan tidak bisa di bangunkan lagi.
Dengan kesal nya Hanz melahap sendiri nasi goreng buatan nya itu.
Pagi hari nya, apa yang terjadi? Azka menjerit mendapati piring dengan sisa nasi goreng dua sendok saja.
Terpaksa pagi itu Hanz harus membuat nasi goreng kembali sebagai ganti nasi goreng yang sudah di makan nya semalam.
Salah siapa coba, yang memakan atau yang tidur.?
Seperti nya penderitaan Hanz harus panjang ke depan nya. Disini Arwan juga lah yang kena imbas nya.
"Arwan , temani aku. Nona meminta martabak." suatu malam ketika Arwan hampir terlelap.
"Arwan ,nona membenci ku. Ah, sungguh menyedihkan sekali."
"Arwan, Nona menelpon ku. Ia merindukan aku."
"Arwan, aku pusing sekali. Nona terlalu banyak permintaan."
"Arwan ,Aku bahagia sekali. Hari ini Nona perhatian sekali pada ku."
Sekali lagi Arwan hanya bisa mengelus dada untuk lebih bersabar., tiap kali mendengar keluhan dari Tuan nya.
Wajar saja, namanya juga wanita hamil. Ngidam sudah umum jika menyusahkan, eeits , tunggu dulu , ngidam atau kesempatan ya.? Kadang Arwan berpikir. Tapi sudah lah. Tugas nya hanya mendampingi Tuan nya dengan sebaik baik nya.
__ADS_1
aku harus menjadi pendengar yang baik.
Bersambung...!!