"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Panik , panik dan panik.


__ADS_3

Hanzero masih saja berguling di atas kasur sambil terus merintih. Sakit perut yang di alami nya bukan hanya biasa , namun lebih dari sekedar sakit perut biasa, mules tingkat tinggi dan kram. Sebentar menghilang dengan sendiri nya dan sebentar akan datang kembali lebih sakit dari yang pertama,. Rasanya seperti di remas remas, dan pinggang nya pun terkadang sakit luar biasa.


Sementara Azkayra hanya bisa kebingungan melihat suami nya kesakitan.


"Hanz,.!" Azka sudah menetes kan air mata.


"Azka, mana Arwan..? Sakit Azka , aku tidak tahan...!" Hanz yang biasa nya selalu kuat menahan rasa sakit, kali ini benar benar harus merintih menahannya.


"Sabar ya, sebenar lagi Arwan kemari. Dia sedang menyiapkan mobil." jawab Azka terus mengurut perut Hanz.


"Azka, aku ingin ke kamar mandi lagi." Hanz merangkak menuruni Ranjang.


"Biar ku bantu Hanz," ucap Azka.


"Tidak tidak, aku masih kuat. Sakit nya berkurang." sahut Hanz, dengan memegangi pinggang nya mirip seorang kakek kakek osteoporosis ia berjalan tertatih ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Hanz kembali meringis ketika rasa mules itu datang lagi.


"Apa yang terjadi padaku, sakit ini sungguh aneh sekali." rintih nya.


"Hah.! apa lagi ini.? Ya Tuhan,.. Apa aku sakit parah.?" Hanz terkejut sekali manakala melihat ujung juniornya terlihat memerah seperti kepiting rebus itu. Rasa panas terasa sekali di barang berharga dan satu satunya milik nya itu bahkan rasa nya seperti mau pecah saja.


Dengan berbagai macam tanda tanya besar Hanz menguatkan diri nya untuk melangkah keluar ketika ia tidak juga berhasil buang air besar.


"Tuan, anda kenapa.?" Arwan yang baru saja masuk bersama Berlinda langsung menghampiri Hanzero yang terlihat sempoyongan.


"Entah lah " jawab Hanz.


"Kita ke rumah sakit sekarang Tuan." Ucap Arwan langsung memapah Tuannya yang menurut saja.


"Aku ikut Bang Arwan.!" seru Azka.


"Nona, sebaiknya nona di rumah saja. Ini sudah hampir subuh Nona. Tidak bagus untuk kesehatan Nona." cegah Arwan.


"Tidak bisa, aku harus ikut. Aku harus menemani Suami ku." Azka terus mendesak.


"Baik lah, Berlinda, kau juga ikut." ucap Arwan yang langsung di balas anggukan Berlinda.


Tanpa bicara lagi, Arwan langsung memapah Hanz yang tidak berbicara apapun selain meringis menahan sakit di perut dan pinggang nya. Azka dan Berlinda mengikuti nya dari belakang.


Arwan segera membuka pintu mobil dan membantu Hanz untuk duduk di kursi belakang, dan Azka langsung duduk di samping suami nya yang langsung merebah kan kepalanya di pangkuan Azka sambil terus merintih kesakitan.


"Azka,..!" rengek Hanz meremas jari jemari Azka, dan masih sempat sempat nya menciumi perut buncit Azka yang tepat di hadapan wajah nya. " Sayang.. Papa sakit." keluh Hanz berbicara pada perut Azka.


"Tahan ya Hanz, sebentar lagi kita sampai." Azka terus membelai rambut suaminya.


"Sakit Azka, pinggang ku seperti mau patah." lagi lagi Hanz merengek.


Sementara Berlinda yang duduk di depan bersama Arwan melirik Tuan nya dari kaca kecil di depan nya.


"Tuan kenapa ya kira kira bang Arwan.?" tanya Berlinda.


"Tidak tau juga, tapi katanya mules sekali dan pinggang nya sakit ." jawab Arwan tanpa menoleh dan terus menginjak gas.


"Jangan jangan, Tuan mengalami kontraksi. Tanda tanda Nona Azka mau melahirkan." ucap Berlinda spontan.

__ADS_1


"Hah.!! Yang benar saja. Yang mau melahirkan Nona kenapa bisa Tuan yang kontraksi.!" Arwan merasa perrkataan Berlinda tidak masuk akal.


"Bisa jadi, kalau Tuan menginginkan nya untuk menanggung rasa sakit Nona dan Allah mengabulkan nya. Aku ingat cerita ibuku ketika melahirkan aku. Ayah ku lah yang merasakan sakit nya. Sampai ayahku tidak bisa menemani ibu ku melahirkan." jelas Berlinda.


"Itu zaman dulu, zaman sekarang mana ada yang seperti itu..! Kau juga jangan percaya hal hal mustahil begitu." cegah Arwan.


"Buktinya Tuan seperti orang yang sedang mengalami kontraksi. Siapa tau karena cinta Tuan begitu besar pada Nona, sampai Tuan yang mewakili sakit Nona." bantah Berlinda.


"Ah, sudah lah. Aku tidak percaya. Apalagi perkiraan kelahiran bayi Nona masih jauh.. Tuan pasti sedang sakit. Bukan kontraksi." lagi lagi Arwan tidak mempercayai Ucapan Berlinda.


Tak lama kemudian, mobil mereka berhenti di rumah sakit yang biasa mereka kunjungi untuk pemeriksaan rutin kehamilan Azka.


Arwan segera membantu Hanz berjalan memasuki Rumah sakit, mereka pun segera di sambut oleh para suster , dan Hanz segera di bawa ke sebuah ruangan.


Di ikuti Azka dan Berlinda di belakang juga Arwan yang setia di dekat Hanz.


Di ujung sana terlihat Dokter Lisa berlari tergesa menghampiri Hanz, rupanya ia sudah mendapat kabar dari Azka tentang keadaan Hanz.


"Tuan Hanzero kenapa Nona.?" tanya dokter Lisa.


"Tidak tau Dokter, tiba tiba Tuan Hanz sakit perut dan pinggang.." jawab Azka terlihat panik.


"Nona jangan panik ya, Saya akan memeriksa tuan." ucap dokter Lisa segera menghampiri Hanz dan memeriksanya.


Dokter Lisa pun keheranan saat memeriksa Hanz, tidak di temukan nya tanda tanda penyakit serius di perut Hanz.


"Tuan, apa yang anda keluhkan.?" Dokter Lisa mencoba bertanya.


"Kau ini bagaimana sih, Tuan kami sudah menderita seperti itu masih bertanya. Dia sakit perut dan sakit pinggang. Kau tidak bisa melihat bagaimana Tuan Hanz Sampai berguling guling begitu.?" bentak Arwan emosi mendengar dokter Lisa malah bertanya pada Tuan nya yang sedang meringis menahan sakit.


"Bang Arwan,." Azka menepuk bahu Arwan sekedar menenangkan nya.


"Dokter Lisa, maafkan sekretaris kami. Mungkin dia terlalu panik. Sebenarnya Tuan Hanz sakit apa.?" tanya Azka.


"Saya tidak menemukan tanda tanda sakit pada Tuan ,Nona. Saya juga heran kenapa Tuan begitu kesakitan. Lebih baik kita melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan melakukan USG dan Ronsen agar bisa mengetahui penyakit Tuan dengan detail." jelas dokter Lisa.


"Apa..? Jadi maksud Dokter Lisa, Penyakit Tuan Hanz parah, bukan diare biasa.?" Azka semakin khawatir di buat nya.


"Saya belum bisa memastikan Nona, Kita harus memindah kan Tuan ke ruangan lain, dokter Specialis yang akan menangani nya." jawab Dokter Lisa.


"Lakukan apapun untuk menyembuhkan Tuan Hanzero dokter.!" perintah Azka.


"Baik Nona." jawab Dokter Lisa , ia pun memerintah kan suster untuk memindahkan Hanz.


"Ahrg..!!! " tiba tiba Azka berteriak dengan memegangi perut nya ,ketika semua yang di dalam ruangan tengah sibuk akan memindahkan Hanz.


Semua yang ada panik melihat Azka terus berteriak dengan satu tangan berpegangan sisi pintu.


"Nona . Anda kenapa.?" Berlinda segera menghampirinya.


"Perut ku, perut ku kram Berlinda." ucap Azka.


"Suster, tolong Nona.!" Berlinda pun ikut menjerit panik, salah satu Suster segera menghampiri mereka.


"Dokter, Nona sepertinya mau melahirkan.! Hah..!! Nona sudah pecah ketuban.!" sang suster pun panik ketika melihat air ketuban Azka sudah mengalir ke lantai.

__ADS_1


"Astaga.. Bagaimana ini.?" Dokter Lisa pun segera menghampiri Azka yang masih berdiri di pegangi oleh Berlinda dan suster tadi.


"Benar.. Nona mau melahirkan..!!" Dokter Lisa tak kalah paniknya. Ia bahkan sempat memegangi kepala nya karena bingung, melirik Hanz yang masih berguling guling di sana. Tapi begitu mendengar ucapan dokter Lisa, Hanz pun terkejut dan membuat nya memaksakan diri untuk bangun.


"Azka..!!" rintih nya berusaha turun dari ranjang.


"Tuan, anda sedang sakit." Arwan mencegah tuan nya.


"Bodoh kau. Cepat tolong Nona...! Jangan hiraukan aku..!" bentak Hanz.


"Ba , baik Tuan.!" Arwan pun langsung melangkah menghampiri mereka yang panik.


"Kita bawa Nona ke ruang persalinan sekarang juga." perintah Dokter Lisa pada para suster.


"Bagaimana dengan Tuan Hanz, dokter. Dia sedang sakit parah.!" Azka masih saja mengkhawatirkan Suaminya.


"Itu urusan nanti Nona, sekarang ini pikirkan diri Nona, Nona mau melahirkan.!" potong Arwan .


"Tidak bisa bang Arwan. Tuan mu sedang sakit." bantah Azka.


"Maaf Nona." ucap Arwan tanpa disuruh ia langsung menggendong tubuh mungil Nona nya itu.


"Bawa kemana Dokter .?" Tanya Arwan setelah Azka sudah berada di gendongan nya.


"Ikuti kami." jawab Dokter Lisa yang langsung berjalan keluar ruangan di ikuti dua suster di belakangan nya.


"Kau disini saja temani Tuan.!" ucap Arwan pada Berlinda yang langsung mengangguk dan segera menghampiri Hanzero yang masih saja meringis menahan sakit nya dengan seorang suster di sana.


Dengan langkah terburu, Arwan terus melangkah mengikuti Dokter Lisa, hingga tiba di sebuah ruangan khusus untuk persalinan.


Arwan segera merebah kan tubuh Nona nya di sana dengan hati hati.


"Tinggalkan kami.!" ucap Dokter Lisa pada Arwan yang langsung melangkah keluar.


"Hanz...., Dokter Lisa , bagaimana Tuan Hanz.? Kenapa kau malah meninggalkan nya.?" Azka masih saja memikirkan suami nya.


" Nona tenanglah, ada yang akan menangani Tuan." ucap dokter Lisa segera memeriksa Azka.


"Astaga... Sudah pembukaan sembilan, sebentar lagi Nona akan melahirkan." dokter Lisa terkejut melihat kenyataan itu.


"Apa yang anda rasakan Nona.?" Tanya dokter Lisa.


"Tidak ada, hanya perut ku terasa sangat kencang , seperti ada sesuatu yang terus mendorong kuat dari dalam." jelas Azka.


"Aneh sekali, Nona sama sekali tidak mengalami kontraksi. Ini mustahil. Tapi Nona benar benar akan melahirkan." gumam Dokter Lisa penuh keheranan.


"Apa terjadi kesalahan Dok.?" tanya salah satu Suster.


Dokter Lisa hanya menggeleng, "Entah lah.!"


"Ah,...! dia semakin kuat mendorong dokter..!!" jerit Azka.


"Tunggu sebentar Nona, belum waktu nya. Sebentar lagi...!" ucap dokter Lisa mengatur posisi kaki Azka.


bersambung.....!!

__ADS_1


sebenarnya kalau zaman dulu memang ada hal seperti itu terjadi. Tapi untuk Zaman sekarang, mungkin hanya terjadi di kehidupan novel semata.


__ADS_2