
"Benar begitu..?" tanya Azka menatap Hanz dan kini mereka beradu pandangan , sejenak Hanz langsung berusaha menghindari tatapan itu, ia takut Azka akan terus berusaha mengingat nya.
"Benar Nona, Anda boleh bertanya pada Ayah Nona.?" sahut Hanz.
"Lalu di mana Ayah ku sekarang, Aku ingin bertemu.?"
"Berlinda, panggil Tuan besar.!" Hanz segera menyuruh Berlinda untuk memanggil Ginanjar. Dan Berlinda pun langsung melangkah.
"Siapa namamu tadi.. Hanz.!" Azka kembali menatap Hanz .
"Hanzero Nona, anda biasa memanggil saya Hanz." jawab Hanz, perih itu lah hati nya harus berpura pura ,kembali menjadi sekretaris Azka. Namun ia harus melakukannya, jika Azka tau kebenaran tentang dirinya, Azka pasti akan terus berusaha mengingat , dan Hanz tidak mau mengambil resiko kemungkinan yang akan terjadi pada Azka istrinya.
"Apa kita sudah lama saling kenal.?" kembali Azka bertanya.
"Lama Nona , sangat lama. Saya bahkan selalu bersama Nona, setiap saat. " jawab Hanz, ingin rasa nya Hanz menjerit.
Azka... aku suami mu...!!!!
"Tapi aku tidak bisa mengingat mu."
"Nona jangan mengingat apapun. Itu tidak perlu Nona. Nona tidak boleh berpikir apapun dan mengingat apapun, kecuali dokter benar benar sudah memastikan jika nona sudah sembuh dan boleh mengingat ingat kembali." ucap Hanz segera memberi penjelasan pada Azka.
"Oh, baik lah. Aku percaya padamu." jawab Azka .
Sementara Berlinda sudah berada di depan Kamar Tuan besar nya dan mengetuk pintu di sana.
"Ada apa..?" tanya Ginanjar dengan sedikit cemas setelah membuka pintu.
"Nona sudah sadar Tuan, dan mencari Tuan Besar." jawab Berlinda menunduk lesu.
"Kenapa kau, apa Nona melakukan sesuatu hal yang buruk.?" tanya Ginanjar menangkap raut wajah sedih Pelayan kamar Azka itu.
"Nona sempat memarahi Tuan Hanzero Tuan, karena Tuan Hanz membersihkan Tubuh Nona.Dan Tuan Hanzero akhirnya mengaku sebagai sekretarisnya Nona." terang Berlinda kembali terisak.
"Ini sudah menjadi kesepakatan kami, dan semua ini Hanzero lakukan untuk kebaikan Nona, jadi kita harus bisa mendukung niat baik Hanz." sahut Ginanjar.
"Baiklah, aku ke sana sekarang." Ginanjar pun melangkah di ikuti Berlinda di belakang nya, namun Berlinda tidak kembali ikut ke kamar Nona nya melainkan melangkah ke arah dapur, ia berniat untuk memasak makanan kesukaan Azka.
.
__ADS_1
.
"Azka, kau sudah sadar sayang.. Bagaimana keadaan mu sekarang.? Apa masih ada yang sakit ?" tanya Ginanjar setelah tiba di kamar Azka dan mendekati putri nya.
"Aku sudah sembuh ayah, ? Hanya kepala ku sering sakit. " jawab Azka
" Syukur lah, kau tidak boleh berusaha mengingat apapun dulu Azka. Agar kau cepat sembuh." ucap Ginanjar.
"Iya ayah, ini lepas saja ya. Aku sudah merasa baikan dan tidak perlu di infus lagi." sahut Azka segera menarik selang infus yang ada di tangan nya itu.
"Azka, kenapa kau melepas nya. " Hanz langsung berucap panik ketika melihat Azka menarik selang infus itu.
"Aku sudah sembuh, aku tidak mau lagi di infus. Dan kau kenapa tidak sopan sekali sih memanggil nama padaku. Azka Azka.. panggil aku Nona, atau aku akan memecat mu.!" bentak Azka pada Hanz yang terperangah.
"Azka, kau tidak boleh seperti pada Hanz. Hanz sering memanggilmu nama dari dulu. Kau hanya tidak ingat saja sayang, dan kau tidak pernah keberatan...?" potong Ginanjar mencoba memberi pengertian pada Azka.
"Mungkin ayah terlalu memanjakan nya, makanya dia jadi tidak sopan begitu.!"
"Azka..!!" Ginanjar membentak putri nya.
"Sudah Ayah,. Nona maaf kan atas ketidak-sopannan saya, Saya tidak akan mengulangi nya lagi." sahut Hanz berusaha menenangkan keadaan.
"Maaf Nona, saya.. Saya tidak akan mengulangi nya." Hanz kembali meminta maaf.
"Hanz, sebaiknya kau ke kamarmu dulu, biar aku yang menganti kan mu menjaga Azka. Kau bahkan belum mandi dan makan dari kemarin kan.? Kerena sibuk mengurus Nona mu." Ginanjar segera mendapat ide untuk melepaskan Hanz dari kemarahan Azka.
"Tapi Tuan. Saya masih ingin.."
"Hanz..." Ginanjar mengerdipkan matanya.
"Ah, baik lah Tuan." dengan berat hati akhirnya Hanz melangkah meninggalkan istrinya yang kini benar benar sudah melupakan nya itu untuk kembali ke kamar nya yang sudah lama tidak ia tempati itu.
Setelah Hanz sudah keluar Ginanjar kembali menatap Putri nya.
"Azka, dengar kan Ayah. Hanz sudah bersama kita dengan waktu yang sangat lama. Jadi Hanz sudah ku anggap anak ku juga, dan Ayah yang menyuruh nya memanggil Ayah . Kau tidak boleh tidak sopan dengan nya. Apa kau tau ,hidup Hanz itu hanya untuk menjaga mu dan ayah. Jika tidak ada Hanz mungkin Ayah dan kau sudah tidak bernafas lagi di dunia ini." jelas Ginanjar.
"Benarkah ayah, segitu nya Hanz pada kita.?" Azka mulai sedikit berpikir.
"Benar Azka, percayalah dengan apa yang ayah bicarakan. Hanz sudah menolong mu, menyelamatkan mu sampai dia sendiri hampir mati. Dan Hanz pun menolong nyawa Ayah. Jadi kau tidak boleh bersikap kasar sedikit pada nya. Dia adalah orang kepercayaan nomor satu keluarga kita ." jelas Ginanjar sedikit geram.
__ADS_1
"Azka tidak bisa mengingat nya." Azka mulai memegang kepalanya.
"Azka, kau, kau tidak boleh mengingat apapun. Sudah lah. Kau tidak perlu mengingat nya. Kau hanya perlu tau saja." Ginanjar tiba tiba panik melihat putri nya berusaha untuk mengingat.
"Azka, .. Dokter melarang mu untuk berpikir keras. Kau jangan memaksa untuk berpikir ya..? Suatu saat nanti ingatan mu akan kembali lagi. Dan pada saat itu kau akan kembali bahagia." Ginanjar kini memeluk putrinya.
"Iya Ayah.. Terimakasih ,Ayah terus ada sisi Ku, dalam keadaan apapun." jawab Azka membalas pelukan Ayahnya.
"Iya sayang..." Ginanjar membelai kepala putri nya.
"Kau juga harus berterimakasih pada Hanz, dia sudah banyak berjuang untuk kita. Dan berjanji lah untuk tidak nyakiti hati nya sedikit pun itu." ucap Ginanjar kini menatap mata Azka.
"Seperti nya Ayah sangat menyayangi Hanz.?"
"Jelas Azka, karena Hanz pun sangat menyayangi kita, terutama kau." jawab Ginanjar meyakinkan Azka.
"Baik lah Ayah, Azka akan bersikap lebih baik lagi pada Hanz." jawab Azka membuat hati Ginanjar lega.
"Sekarang Azka makan dulu ya , Berlinda akan menyiapkan nya . Dan satu lagi Azka, jika Hanz ingin melayani mu kau tidak boleh menolak nya. Seperti misal nya ingin menemani mu, menyuapi mu, bahkan kalau Hanz ingin memandikan mu pun itu tidak masalah." ucap Ginanjar.
"Apa..? Segitu nya. Masa sampai memandikan Azka segala. Ayah, Azka ini sudah besar dan Hanz pria dewasa ,jika memandikan Azka itu tidak akan baik, kalau nanti Azka di perkosa nya bagaimana.? Ayah ini aneh aneh saja. Terlalu percaya pada nya." sahut Azka.
"Hanya perumpamaan Azka, ya bukan begitu maksud nya. Tapi percaya lah, Hanz itu pria yang baik, dan sangat baik. Jadi kau tidak boleh menolak kebaikan dari nya." ucap Ginanjar segera menyadari kesalahan alur bicara nya.
"Baik lah Ayah,"
"Ya sudah, pokoknya kau tidak boleh memikirkan apapun lagi, Sampai dokter mengatakan jika kau baru boleh berpikir kembali. Yang penting kau harus tau semua nya. Itu saja sudah cukup." ucap Ginanjar lagi.
"Iya Ayah, sekarang Azka ingin makan dulu." sahut Azka.
"Ah iya , Ayah lupa. Baiklah, Ayah akan memanggilkan Berlinda untuk menyiapkan makan untuk mu. Kau tetap disini saja ya.?" Ucap Ginanjar beranjak keluar kamar Azka.
aku ingin sekali memberi tahu tentang Hanz pada Azka, tapi jika Azka mendengar atau mengetahui jika Hanz adalah suami nya, Azka pasti akan terus berusaha mengingat kenangan nya bersama Hanz, dan itu berbahaya.
"Ini sangat sulit, tapi aku harus mencari cara untuk memberitahu nya, sedikit demi sedikit tanpa sepengetahuan Hanz. Aku tidak mau rumah tangga putri ku kacau jika sampai selamanya Azka tidak mengingat apa apa tentang Hanz. Aku penyebab Azka kehilangan ingatan, dan aku harus bertanggung jawab." ucap Ginanjar lirih, sambil terus melangkah.
__________________
"Sekian dulu ya..? episode selanjut nya akan sangat menarik sekali dengan kehidupan baru Azka dan Hanz.. jangan lewatkan."
__ADS_1
dan tetap ditunggu jejak kalian...