
Setelah sekian lama berkutat dengan tubuh Hanzero, Dokter itu pun menghela nafas lega.
"Selamat datang kembali Tuan Hanzero, anda benar benar hebat. Ini suatu keajaiban." ucap sang Dokter melepas masker dan sarung tangan nya kemudian melangkah keluar ruangan.
Sampai di luar terang saja, semua yang sedang menunggu dengan khawatir langsung menyerbu nya.
"Dokter, bagaimana.?" Ginanjar Samudra lah orang pertama yang bertanya dengan tatapan penuh kekhawatiran yang meraja.
"Jantung Tuan Hanzero kembali berfungsi. Hanya saja kami belum memastikan apa Tuan Hanzero masih bisa bertahan dalam beberapa hari ke depan. Tapi setidak nya kita masih punya harapan , walau pun harapan itu hanya 10 % saja." jelas sang Dokter.
"Ya Tuhan...!!" desis Ginanjar memandang Azka yang tak lagi menangis, melainkan syok hingga air mata nya tak mampu lagi menetes.
"Kita hanya bisa menanti keajaiban datang menyapa Tuan Hanzero." ucap sang Dokter itu lagi, kemudian memohon diri untuk pergi.
Sementara Azkayra mencoba untuk berdiri tegar dan kembali melangkah ke dalam ruangan, ia berusaha sekuat nya untuk tidak menangis di hadapan Hanzero yang kini tubuh nya sudah di penuhi alat bantu pernafasan dan beberapa selang.
"Hanz,..!!" ucap nya lirih.
Ia menyentuh rambut pria yang kini tak lagi berkedip itu. Mendarat kan kecupan panjang nya di dahi Hanzero.
"Bangun sayang.... Apa kau tau, aku merindukan mu. Ayo lah Hanz, seharusnya jam segini kau sudah menggendong ku dan memaksa ku untuk tidur. Tapi kenapa sekarang kau tak peduli lagi . Apa kau bosan dengan sikap manja dan nakal ku..? Jika iya, aku berjanji untuk tidak manja dan nakal lagi. Aku akan jadi wanita yang mandiri dan patuh. Aku akan memperbaiki semua nya Hanz, beri aku kesempatan." bisik Azka semakin membuat Ginanjar Samudra dan Arwan merinding pilu mendengar nya.
"Baik lah, aku akan pulang dan mandi, berdandan yang cantik kemudian menemui lagi. Tapi jika aku datang kau belum juga bangun, jangan salah kan aku jika aku akan tetap nakal terus sampai kau tua." ucap Azka berkali lagi mencium tangan Hanz.
"Bang Arwan..!" Azka memanggil ketua pengawal itu.
"Ya Nona." Arwan mendekat.
"Temani Tuan Hanz , aku mau pulang dulu, nanti aku kesini lagi. Dan giliran kamu yang pulang." ucap Azka seperti nya dia sudah sadar dari syok nya dan kembali normal seperti biasa.
"Baik Nona." jawab Arwan sedikit merasa lega melihat Nona nya sudah bisa tegar kembali.
"Ayah, kita pulang ya..?" Azka mengajak Ayah nya pulang, seketika Ginanjar pun langsung mengangguk dan meraih tangan anak nya dan langsung membawa keluar ruangan.
Arwan kini duduk di samping ranjang Hanzero dan para Anak buah nya berjaga di luar ruangan.
Sementara Ginanjar kini membawa Azkayra pulang ke Rumah Utama masih dengan pengawalan yang semakin di perketat.
__ADS_1
**
Azka mengguyur tubuh nya dengan air dingin di kamar mandi , mencuci seluruh tubuh dan rambut nya. Ia tidak merasakan dingin meski pun badan nya terlihat menggigil.
Azka menolak ketika Berlinda menawarkan air hangat untuk Nona nya, Azka lebih ingin mandi air dingin dengan niat untuk mengurangi rasa penat dan lelah nya.
Ia ingin bugar sebugar bugar nya, ia ingin kuat sekuat kuat nya untuk terus tetap di samping Hanz, sampai Hanz mau membuka matanya.
Kini Azka menyisir rambut nya, tak terasa
Air mata nya pun lolos.
"Hanz, hari ini kau belum menyentuh rambut ku. Apa kau bosan , karena aku terus merengek minta kau sentuh.?" ucap nya.
"Nona.. Tuan Hanz tidak mungkin bosan, dia hanya sedang beristirahat. Mungkin Tuan terlalu lelah." ucap Berlinda yang mendengar jelas ucapan Nona nya,seraya mengusap air matanya yang juga lolos begitu saja.
Berlinda sudah mendengar kabar tentang Hanzero yang kini sedang koma, melawan maut yang kapan saja bisa menghampiri nya.
"Kau benar Berlinda, Hanz tidak mungkin bosan dengan ku. Dia sendiri yang sering mengatakan jika aku ini cantik, Cantik sekali. Dia tidak akan pernah bosan, Hanz hanya sedang lelah dan beristirahat . Sebentar lagi kan dia harus menikahi ku, jadi dia perlu istirahat untuk menyambut hari pernikahan nya." Sahut Azka ,bibir nya nampak tersenyum. Yaa.. senyuman itu hanya akan menambah pilu bagi yang melihat nya.
"Nona makan ya, saya akan menyiapkan nya." ucap Berlinda.
Berlinda membalik kan badan nya dan melangkah, terdengar isakan dari mulut nya setelah memastikan jauh dari kamar Nona nya.
"Tuhan,... Beri kesempatan untuk mereka bahagia. Jangan pisah kan mereka, sungguh aku tidak sanggup jika harus melihat Nona Azkayra menderita jika sampai kehilangan Tuan Hanzero." batin Berlinda berdoa.
Tak lama kemudian Berlinda kembali ke kamar Azka dengan membawa banyak makanan di sebuah nampan.
"Nona, Ayo makan. Lihat lah , ini makanan kesukaan Nona. Saya sengaja memasak khusus untuk Nona." ucap Berlinda.
"Nona,.. Nona.!!" Berlinda memiringkan wajah nya mengintip Wajah Azka yang sudah tertutup bantal, tertidur begitu saja di ranjang.
"Selamat malam Nona, tidur lah dengan tenang. Anda pasti sangat lelah. Lelah sekali setelah apa yang Nona lewati untuk hari ini." Berlinda menarik selimut untuk Nona nya.
Berlinda menyimpan makanan itu di meja. Dan dia pun memutuskan untuk tidur di sofa, tidak ingin meninggal kan Nona nya walau sedetik pun.
Pagi menjelang,
__ADS_1
Di kantor Perusahaan Samudra, nampak Annabel yang sangat sibuk duduk di kursi milik Hanzero. Setumpuk kertas di hadapan nya menanti di periksa.
"Sial bener...!!! Satu pun tidak ada yang masuk di otak ku. Bagaimana mau kelar ini kerjaan. Huh...!!! " umpat Annabel.
"Kau payah Annabel." Annabel berbicara sendiri.
"Ini semua gara gara Kau Tuan Hanz, kenapa pake Koma segala sih..? Harus nya aku semangat karena bisa melihat wajah mu yang sangat tampan itu. Kalau begini kan , Annabel jadi gak semangat."
"Tuan, ayo lah. Kau kan pria terhebat yang aku kenal. Masa iya hanya segitu saja sudah menyerah. Cepat lah sadar.. Saya juga merindu kan mu. Rindu di suruh, rindu di bentak, rindu di maki. Pokok nya saya janji deh kalau tuan Hanz sadar, tiap hari di omelin juga saya ikhlas kok. Yang penting tuan sadar." Ucap Annabel sendirian mirip seperti penghuni RSJ.
"Tidak Annabel, kau harus semangat demi Tuan dan Nona. Ayo semangat...!!!!" ucap Annabel memberi semangat pada dirinya sendiri dengan menepuk nepuk pipi nya dan segera meraih setumpuk kertas di hadapan nya itu.
"Huh, kalau bukan demi Perusahaan yang sudah mensejahterakan rakyat ini, yakin saja kertas kertas ini sudah ku bakar habis. Aku juga pingin melihat keadaan Tuan Hanzero... hiks.. hiks...!!" Annabel kembali menggerutu.
Akhirnya Annabel pun mulai melakukan pekerjaan nya, meskipun dengan hati yang penuh kegelisahan karena memikirkan Tuan nya, ia memilih untuk konsentrasi bekerja. Karena walau bagaimana pun Perusahaan harus tetep berjalan stabil.
_____________
Hari hari berlalu, sudah empat hari Hanz berbaring tanpa berkedip dan bergerak. Azkayra pun terus menunggu nya dengan setia di samping ranjang nya.
Sesekali bercerita dan sesekali menangis.
Lalu tertawa dan meraih tangan Hanzero.
Terkadang pun ia mencium bibir Hanz yang tak lagi merespon ciuman nya itu.
Harapan nya semakin menipis, tapi ia terus meyakinkan hati nya ,jika Hanz pasti akan bangun dan memeluk nya lalu menikahi nya di depan Penghulu.
"Hanz, dua hari lagi hari yang kita tunggu akan tiba. Apa kau lupa..? Kau yang memilih hari itu kan.? Kau bilang akan memberi ku hadiah istimewa di hari Ulang tahun ku. Dan kau sengaja memilih hari itu untuk hari pernikahan kita." ucap Azka menciumi tangan Hanz.
"Kau juga meminta aku untuk memilih kota yang akan kita jadi kan tempat bulan madu kita, tapi aku memilih Apartment mu saja . Ku pikir di sana lah tempat terindah untuk bulan madu kita . Apa kau masih ingat jika di sana lah kita pernah melakukan dosa terindah kita."
"Saat itu sebenarnya Aku ingin tertawa saat melihat mu menangis karena menyesali perbuatan kita."
"Hanz, jika kau sadar, aku berjanji akan patuh padamu. Aku tidak akan meninggal kan rumah walau selangkah pun jika tanpa mu. Aku tidak akan agresif lagi. Aku akan sabar menunggu mu menyentuh ku terlebih dahulu."
"Hanzero, Aku mencintai mu. Apa kau tidak ingat, kalau aku yang selalu mengejar ngejar mu. Memaksa mu agar mengucapkan cinta pada ku. Aku terlalu agresif ya..? "
__ADS_1
"Hanz,.. kenapa kau terus diam begini. Apa kau marah karena pria lain telah menyentuh tubuh ku.? Hanz, aku sudah membunuh nya. Kau tau, aku melakukan nya hanya untuk mengelabuhi nya. Aku tidak mungkin memberi nya gratis begitu saja, aku meminta nyawa nya untuk menukar ciuman yang seharusnya hanya milik mu. Kau pasti tidak akan marah karena hal itu kan..?" kembali Azkayra terisak.
___________