"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Saya sekretaris Nona.


__ADS_3

Dengan sangat hati hati Hanzero merebahkan tubuh Azkayra di ranjang di bantu dengan Ginanjar samudra tentunya.


Sedang kan Dokter Abraham dan beberapa asisten nya pun mulai memasang Alat infus untuk Azka.


"Apa hanya ini saja.?" tanya Hanz pada Dokter Abraham, mengetahui hanya selang infus saja yang di pasang kan untuk istri nya.


"Sebenarnya Nona Azkayra sudah tidak membutuhkan perawatan insentif lagi, Nona hanya butuh waktu untuk memulihkan kesehatan nya. Kami akan terus mengontrol kondisinya, Anda tidak perlu khawatir Tuan.?" jelas Dokter Abraham hanya di balas anggukan ringan Hanz.


"Lalu kenapa putri ku belum juga sadar.?" Ginanjar pun ikut bertanya.


"Kami memang memberikan obat penenang pada Nona, agar nona bisa sedikit lebih tenang. Tolong jangan membuat Nona kembali berpikir atau terpaksa mengingat sesuatu, itu sangat berbahaya bagi kesembuhan otak nya. Buat Nona Serileks mungkin dan kalau bisa Nona harus selalu senang. Itu akan sangat membantu pemulihan nya." kembali Dokter Abraham menjelaskan.


"Kami akan melakukan apapun itu demi kesehatan Nona Azkayra ." sahut Hanz.


"Baik lah, kalau begitu kami permisi dulu Tuan, jika ada apa apa tolong segera hubungi kami, kami akan siap dua puluh empat jam untuk Nona Azkayra." ucap Dokter Abraham.


"Baik Dokter, terimakasih." jawab Hanz.


Dan Dokter Abraham pun segera bergegas bersama para asisten nya.


Hanz kembali menghela nafas berat, dan menghampiri istri nya yang masih belum juga sadar itu.


"Azka, tenang lah, kau akan baik baik saja." ucap nya mengecup kening Azka.


Sementara Ginanjar terduduk lemas di sofa dengan kedua tangan menopang dagu nya.


Ia menatap kedua pasangan suami istri baru itu yang harus siap kehilangan masa indah bulan madu mereka.


"Ayah, sebaik nya anda beristirahat dahulu. Ayah pasti sangat lelah. " ucap Hanz.


"Entah lah Hanz, aku sama sekali belum bisa tenang. Bagaimana aku bisa istirahat." sahut Ginanjar.


"Ayah, istirahat lah. Aku akan menjaga Azka." ucap Hanz meyakinkan Ayah mertua nya.


"Baiklah, kau juga beristirahat lah. Mumpung Azka belum siuman." jawab Ginanjar beranjak.


"Ayah." Hanz tiba tiba memanggil Ayah mertua nya saat Ginanjar hendak melangkah.


Ginanjar segera menoleh.


"Ada apa Hanz,? Apa ada yang ingin kau sampaikan..? Katakan saja." Ginanjar menatap menantu nya itu.


Hanz berdiri dan menghampirinya.


"Seperti nya Ayah harus tinggal di sini dan membatalkan kepulangan ayah ke kampung. Bagaimana dengan Azka jika tidak ada ayah di rumah ini ,karena hanya ayah lah satu satu nya yang Azka ingat." ucap Hanz membuat Ginanjar menghela nafas beratnya.


"Kau benar Hanz, Azka pasti akan sangat bingung menjalani hari hari nya. Aku akan tinggal disini Hanz, dan membatalkan ke pulangan ku. Kita akan bersama sama menemani Azka. " jawab Ginanjar membuat Hanz sedikit lega.


"Terimakasih Ayah."

__ADS_1


"Kau tidak perlu berterimakasih padaku Hanz, semua ini gara gara aku, dan aku sudah seharusnya melakukan ini. Aku yang harus nya berterimakasih padamu sudah menjadi suami yang baik untuk putri ku." jawab Ginanjar mulai berkaca kaca.


"Sekali lagi ,kita adalah keluarga Ayah, tidak perlu saling menyalahkan atau pun berterima kasih. Tugas ku adalah menjadi suami Azka yang baik." ucap Hanz.


Ginanjar mengangguk.


"Kalau begitu, ayah ke kamar dulu." ucap nya melangkah keluar kamar.


Hanz menatap langkah kaki Mertua nya, dan segera menghubungi Arwan serta Berlinda agar ke kamar nya.


Tak lama berselang mereka berdua datang menghadap Tuan nya.


"Tuan,." ucap Arwan. Sedang Berlinda hanya bisa terisak melihat keadaan Nona nya.


"Nona,..? " ucap Berlinda mendekati Azka.


"Beritahu kepada seluruh para pelayan dan juga para pengawal di Ruang ini. Tidak ada yang boleh mengungkit apapun tentang masa lalu Nona , jika ada yang melanggar maka aku akan menghukum nya." ucap Hanz.


"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi pada Nona.?" tanya Berlinda masih dengan isakan nya.


"Nona mengalami lupa ingatan karena pendarahan di otak nya. Nona tidak boleh berpikir keras, jika itu terjadi akan berakibat fatal, bahkan nona bisa mengalami kelumpuhan. Maka dari itu, jangan biarkan Nona mu berpikir sedikit pun. Berlinda , kau adalah pelayan kamar nya, jadi ini akan menjadi tugas mu selama aku tidak bersama Nona . Jangan biarkan apapun yang bisa memicu Nona untuk berpikir. Kau mengerti.?" ucap Hanz.


"Baik Tuan." jawab Berlinda.


"Sekarang , tolong siapkan air hangat untuk membersihkan tubuh Nona. Dan jangan lupa sampaikan perintah ku pada yang lain nya." perintah Hanz.


Berlinda langsung mengangguk dan pergi.


"Iya Tuan,.?"


"Selama ingatan Nona belum kembali seperti semula, Nona tidak mungkin kembali ke Perusahaan. Bisa kah kau menggantikan posisiku, sementara aku menggantikan posisi Nona. Aku tidak mungkin bisa hanya mengandalkan Annabel saja." ucap Hanz pada ketua pengawal itu.


"Tapi Tuan, saya sama sekali tidak mengerti tentang hal Perusahaan, jadi mana mungkin saya bisa melakukan nya.?" sahut Arwan begitu terkejut mendengar keinginan Tuan nya.


"Kau akan segera mengerti, Annabel akan mengajari mu. Bagaimana.?"


"Jika itu yang akan tuan inginkan , baik lah. Tapi saya takut mengecewakan Tuan." jawab Arwan.


"Jika kau berniat, kau tidak mungkin mengecewakan aku." ucap Hanz.


"Baik Tuan."


"Pergi lah, dan beritahu pada anak buah mu tentang keadaan Nona. Dan jangan ada satu pun yang melupakan larangan yang sudah ku buat." ucap Hanz.


"Baik Tuan,." Arwan pun segera keluar.


Tak lama berselang , Berlinda masuk dengan membawa persiapan untuk membersihkan tubuh Azka.


Berlinda segera menghampiri Nona nya dan meletakkan Baskom yang sudah berisi air hangat dan handuk kecil itu di meja.

__ADS_1


"Biar Aku saja." ucap Hanz saat Berlinda siap mengelap tubuh Azka.


Berlinda mengangguk dan beranjak menjauh. Hanz pun segera duduk di sisi Azka dan siap mengelap tubuh istrinya.


"Tetap lah disini Berlinda," ucap Hanz tanpa menoleh.


Berlinda mengangguk.


Hanz mulai mengelap bagian wajah Azka dengan sangat hati hati. Sesekali Hanz terlihat mengusap air mata nya yang menetes. Berlinda nampak sangat sedih menyaksikan Tuan dan Nona nya itu. Ia sungguh tidak menyangka jika kebahagiaan yang baru saja mereka rasakan akan secepat ini berlalu.


Kini Hanz beralih ke tangan Azka, ia meraih tangan itu dan mulai mengelap nya dari bagian atas lengan nya.


Tiba tiba Azka tersadar dan membuka matanya.


"Kau...!! Apa yang kau lakukan..?" teriak Azka menyadari jika Hanz sedang memegangi tangan nya, dan langsung mendorong Hanz hingga tubuh Hanz hampir saja jatuh ke lantai.


"Azka, kau sudah sadar.?." ucap Hanz terkejut.


"Kau,. Apa yang kau lakukan padaku..? Ayah... !!! Ayah..!! Dimana ayah ku..??" Azka berteriak histeris.


"Azka tenang lah..!"


"Siapa kau.. apa yang kau lakukan padaku..??"


"Azka , aku .. aku hanya .. hanya ingin membersihkan tubuh mu." jelas Hanz dengan gugup.


"Apa..?? Hei.. berani nya kau menyentuh ku. Ayah...??" Azka segera bangun dan hendak turun dari ranjang.


"Azka, ku mohon tenang lah. Aku tidak mungkin menyakiti mu. Jika kau tidak percaya kau boleh tanya pada nya. ? Dia adalah Berlinda , pelayan kamar mu." ucap Hanz menunjuk Berlinda yang sangat terkejut dan bingung dengan tingkah laku Nona dan perlakuan nona nya pada Tuan nya.


"Benar Nona, tuan Hanzero hanya ingin membersihkan tubuh Nona." Berlinda ikut menjelaskan.


"Kau ini bagaimana sih, katanya kau pelayan ku. Seharusnya kau yang melakukan nya, kenapa kau membiarkan pria ini yang melakukan nya.?" bengis Azka.


"Nona, Tuan Hanz adlah suami Nona , jadi Tuan Hanz lebih berhak melakukan nya." sahut Berlinda tanpa sadar.


"Apa.. Suami. Maksud mu. Jadi dia benar suami ku. ..!!" Azka menatap bingung ke arah Hanz.


"Berlinda.!" Hanz langsung menoleh kearah Berlinda yang langsung sadar dengan kesalahan nya dan segera menutup mulut nya dengan tangannya.


"Ya Tuhan.. Maaf Tuan , saya Lupa." ucap lirih Berlinda.


"Hei,.. kau Berlinda. Apa maksud mu.?" Azka kembali menatap Berlinda yang sudah sangat gugup itu, seraya memegangi kepalanya yang terasa sangat nyeri.


"Nona, Berlinda salah bicara. Maksudnya saya ini, saya sekretaris Nona yang biasa merawat Nona juga. Begitu maksud nya.Hanz mencoba menjelaskan agar Azka tidak berusaha untuk mengingat.


______________


"Maaf jika banyak yang kecewa dengan alurnya. Tapi percaya lah, ini lah nanti nya yang akan menjadi keseruan dan menjadi warna warni yang menghiasi cinta mereka."

__ADS_1


Salam hangat dari Azka.


__ADS_2