
sebelum nya minta maaf, sinyal rusak lagi. Jadi maaf, up lama lagi.
________________________________________
Hanzero masih terus berkutat dengan perut Azkayra yang sudah sangat membuncit.
Hari ini kandungan istrinya sudah memasuki bulan kesembilan, walau pun baru memasuki dan belum penuh sembilan bulan, namun Hanzero sudah menyiapkan segala sesuatu nya. Semua keperluan bayi nya pun di siapkan oleh nya sendiri. Dari tempat tidur ,segala popok dan ***** bengek nya.
Dengan panduan buku , ia bisa mengetahui semua apa yang di butuh kan bayi setelah lahir.
"Hanz, menurut mu bayi mu ini akan laki laki apa perempuan.?" tanya Azka malam itu.
"Laki laki ." jawab Hanz dengan mantap nya.
"Dari mana kau tau,.?" Azka menyerngitkan dahi nya.
"Entah lah, tapi aku begitu yakin." jawab Hanz lagi.
"Karena kau mengingin kan anak laki laki.?"
"Tidak juga, aku malah ingin perempuan. Tapi aku selalu bermimpi menggendong anak laki laki." jawab Hanz mendekati istrinya .
"Laki laki atau perempuan,sama saja Azkayra. Aku akan sangat senang menyambut nya. Asal jangan kembar saja." ucap Hanz.
"Kenapa kalau kembar ?"
"Aku tidak tega melihat mu menyusui bayi kembar. Jadi aku berharap kau melahirkan satu bayi saja." jawab Hanz.
"Kalau kenyataan nya kembar bagaimana.? Kau mau membuang yang satu nya ?"
"Enak saja, memang kau pikir bayi ku anak ayam apa.? Walau pun kembar aku akan menyambut nya dengan senang, hanya saja kau tidak perlu menyusui mereka. Karena kau akan kewalahan nanti nya. Badan mu akan semakin langsing saja ." jelas Hanz.
Azka tertawa terbahak bahak mendengar ucapan Hanz, "Kau benar Hanz, bukan langsing lagi. Tapi kerempeng..!" sahut Azka.
"Mulai hari ini aku tidak akan pergi ke kantor lagi, aku khawatir perkiraan dokter meleset, bisa saja kau akan melahirkan dalam waktu dekat dekat ini. Jadi aku harus siaga mendampingi mu." ucap Hanz mengelus perut buncit istrinya.
"Hanz, kau sungguh suami idaman sekali.!" puji Azka mencubit pipi Hanz.
"Kenapa malah mencubit ku , seharusnya kau memberi ku hadiah ciuman mesra Azka.!!" protes Hanz.
"Baik lah.. muach.... muach....!! Puas.!" Azka menciumi pipi suami nya.
"Nah, begitu donk.!" Hanz tersenyum menang.
"Kau sedang apa sayang.?" Hanz kembali meraba perut istri nya. Kali ini ia mendekatkan wajah nya di perut Azka , dan menempel kan telinga nya di sana.
Dug...!!
Tendangan kecil terasa dari dalam perut Azka mengenai wajah Hanz.
"Azka, dia bergerak kencang sekali.!" teriak Hanz terus meraba merasakan tendangan tendangan mungil itu.
"Iya Hanz, aku merasakan nya. Sampai nyeri rasanya." jawab Azka.
"Benarkah. ? Dia bar bar sekali seperti Mama nya ." ucap Hanz.
"Seperti Papa nya lah.. Kenapa bisa seperti aku dari mana.?" bantah Azka.
"Baik lah, dia seperti ku karena anak ku." jawab Hanz kembali menciumi perut Azka.
Senyum bahagia semakin jelas terlihat di wajah Hanz, dag Dig dug hati nya menantikan kelahiran sang buah hati nya. Itu lah yang ia alami sepanjang siang malam nya saat ini.
__ADS_1
Malam ini pun Hanz tidur dengan terus mendekap perut Azka seolah sedang memeluk anak nya.
Pagi Hari Hanz sudah bangun dari awal sekali, selesai mencuci muka dan berganti baju, Hanz langsung membangunkan Istrinya.
"Azka, bangunlah. Hari sudah pagi." ucap nya lembut.
Azka hanya menggeliat dan malah menarik selimut tebal nya.
Hanz pun menarik selimut itu.
"Azka, ayo lah bangun. Aku ingin mengajak mu jalan jalan pagi, itu bagus untuk melancarkan persalinan mu nanti." kembali Hanz berusaha membangunkan Azka.
"Singkirkan tangan mu Hanz, jangan mengganggu ku. Aku masih mengantuk.!"
lagi lagi Azka menarik selimut nya kembali.
"Huh.! Kenapa kau susah sekali bangun. Bagaimana kau menghadapi persalinan mu nanti Azka, padahal kau yang menginginkan persalinan Normal. Kau harus rutin berolahraga Azka..!" ucap Hanz tepat di telinga istrinya.
"Kau benar Hanz, baik lah. Aku bangun nih." akhirnya Azka pun beranjak bangun.
Hanz tersenyum melihat istrinya masih mengucek matanya, dan sempoyongan menuju kamar mandi.
_______________
Kini Hanz sudah berada di taman belakang Rumah Utama dengan menggandeng tangan Azka.
"Azka, lepas sandal mu dan berjalan lah di atas batu itu." perintah Hanz menunjuk batu batu halus yang sengaja untuk menghias sekitar taman.
"Hanz, kaki ku bisa luka. Kau mau mencelakai ku.!" teriak Azka.
"Tidak Azka, batu itu tidak tajam. Itu bagus untuk peredaran darah mu." Hanz membujuk Azka.
Merasa sudah cukup Hanz mengajak Azka beristirahat dengan duduk di bangku yang ada di taman itu. Menyeka keringat di wajah istrinya dengan setia.
"Lihat lah, kau berkeringat. Itu tanda nya kau sehat Azka." ucap Hanz pada istrinya yang hanya tersenyum.
beruntung nya aku.. Hanz sungguh peduli sekali padaku.
Mereka terlihat saling menatap mesra dan Hanz terus meraba perut Azka.
Sementara di ujung sana terlihat seorang pelayan wanita menghampiri mereka dengan membawakan segelas susu dan buah segar untuk Azka, tak lupa beberapa potong roti untuk mereka.
"Tuan, sarapan untuk Nona, nona belum sarapan kan.?" ucap pelayan wanita separuh baya itu.
Hanz tersenyum menyambut pelayan itu.
"Taruh di situ saja bu," ucap Hanz menunjuk sebuah meja.
Tapi pelayan itu menghampiri Azka, dan menyodorkan gelas susu.
"Setidak nya, susu nya di minum dulu mumpung hangat Nona, kalau dingin nanti perut Nona akan merasa mual." ucap pelayan itu.
"Dia benar Azka, minum lah. " Hanz membenarkan pelayan itu.
Azka pun segera meraih gelas itu dan meminumnya.
"Terimakasih Bu, susu nya nikmat sekali." ucap Azka menghabiskan susu nya.
Pelayan itu tersenyum dan menunduk hormat.
Sambil terus melirik bahagia melihat Tuan dan Nona nya itu, Sang pelayan pun menaruh nakas itu di meja dan melangkah pergi meninggalkan pasangan yang sedang berbahagia itu.
__ADS_1
Setelah merasa cukup dengan aktivitas olahraga ringan nya untuk sang istri, Hanz pun mengajak Azka untuk kembali ke kamar. Dan segera menyuruh Azka untuk mandi.
Seharian Hanz sibuk menghabiskan waktu nya bersama Azka, dan malam itu Hanz kembali membaca buku panduan untuk wanita menghadapi persalinan normal, ia menguatkan hati nya ketika membaca tanda tanda menjelang melahirkan, seperti kontraksi yang akan di alami wanita hamil. Pada umum nya akan mengalami sakit pinggang dan mules yang hebat, Ah, sungguh mengerikan. Kembali Hanz menciut nyali nya.
"Hanz , apa yang kau baca.?" Azka mendekati nya dan Hanz segera menutup buku itu.
"Bukan apa apa Azka.!" jawab Hanz menatap istri nya.
"Azka, ! Apa kau siap menahan rasa sakit ketika melahirkan nanti.? Kenapa kau tidak memilih Melahirkan secara Cesar saja. Itu akan mengurangi rasa sakit nya." ucap Hanz membelai rambut Azka.
"Kau meragukan aku.? "
"Bukan begitu ,tapi.. Seandainya rasa sakit nya bisa di wakili. Aku akan siap menggantikan rasa sakit nya nanti." ucap Hanz kembali menatap wajah istrinya dengan rasa tulus nya.
"Haha.. ha.. kau pikir kau seorang dewa yang bisa mentransfer rasa sakit orang lain." Azka terkekeh.
"Kau istri ku, bukan orang lain. Wajar saja kalau aku ingin menggantikan penderitaan mu." ucap Hanz.
"Aku tidak akan menderita Hanz, percayalah. Aku senang menantinya." jawab Azka menaiki ranjang bersiap untuk tidur.
"Azka yang hamil bisa setenang itu. Tapi kenapa aku malah yang tegang tidak karuan seperti ini. Huh, dasar payah aku ini." ucap Hanz pada dirinya sendiri, ikut merangkak ke samping Azka.
Mereka pun terlelap dengan tangan Hanz yang setia mendekap Azka.
Tengah malam tiba tiba Hanz terbangun ,merasa mules yang hebat di perut nya.
"Hanz, kau kenapa.? " tanya Azka ikut terbangun, ia melihat Hanz meringis memegangi perut nya.
"Lanjutkan tidur mu Azka, aku ke kamar mandi sebentar." ucap Hanz langsung berlari ke kamar mandi.
Lama berada di dalam Hanz pun akhirnya membuka pintu.
"Kenapa perut ku sakit sekali, tapi aku tidak diare juga. " rintih Hanz merasa aneh.
"Ah,.. ! Pinggang ku juga sakit sekali."
Baru saja Hanz hendak menaiki ranjang, ia kembali merasa kan mules hebat di perut nya. Ia berlari lagi ke kamar mandi.
"Hanz, apa kau baik baik saja.?" Azka yang khawatir mencoba mengetuk pintu kamar mandi.
"Azka, perut ku mules, sakit sekali.!" ucap Hanz setelah membuka pintu.
"Kau kenapa Hanz, apa masuk angin.? Coba ku urut dengan minyak kayu putih." Azka segera mencari minyak kayu putih dan menyuruh Hanz berbaring.
Azka segera membalur perut Hanz dengan minyak kayu putih dan mengurut nya dengan lembut.
"Kau salah makan apa kemarin sore Hanz.?" tanya Azka.
"Aku tidak makan yang aneh aneh." jawab Hanz sambil meringis menahan sakit.
"Kau diare.?"
"Tidak Azka, aku tidak diare. Tapi perut ku mules sekali. Dan pinggang ku seperti mau patah rasanya." sahut Hanz, masih menahan sakit.
"Aneh. Tidak diare tapi mules, dan kenapa pinggang mu juga sakit ? Jangan jangan kau keseleo. " Azka mulai panik.
"Azka, aku tidak tahan... Sakit sekali Azka.!!" rintih Hanz berguling guling di atas ranjang.
"Ya Tuhan,. bagaimana ini.? Aku panggil Arwan sebentar Hanz, kau harus di bawa ke rumah sakit." ucap Azka segera meraih Hp menghubungi Arwan.
Bersambung...!!
__ADS_1