
Sesampai nya di Apartment milik Hanzero, Azkayra langsung berbaring di ranjang yang cukup besar milik kamar itu.
Sementara Hanz, sibuk membenahi baju dari dalam koper yang di bawa Azka tadi.
"Azka, mandi lah dulu, kau belum mandi kan.? Atau mau aku hangatkan air untukmu.?" ucap Hanz menatap Azka yang masih tengkurap di atas kasur.
"Aku mau mandi air dingin Hanz, gerah. Tapi nanti, kau duluan saja ya.?" sahut nya tak bergerak dari tempat nya.
"Baik lah,"
Hanz segera memasuki kamar mandi nya untuk membersihkan diri. Dengan kilat ia menyelesaikan mandi nya dan segera keluar berganti piyama.
"Azka, aku sudah selesai. Mandi lah. Kalau kemalaman kau akan menggigil." kembali Hanz mengingat kan.
"Emm,." hanya itu balasan Azka.
"Azka, kau tidur..?" Hanz mendekati nya.
"Azka.." merasa tak ada jawaban Hanz lalu mengusap rambut Azka.
Istinya menggeliat, "Nona Azkayra..! Bangun lah." Hanz menggelitik pinggang Azka membuat Azka langsung terlonjak.
"Hanz,.. Kau mengganggu ku.!"
"Memang kau sudah tidur.?"
"Hampir...!" Azka menguap.
"Mandi dulu, baru nanti tidur." ucap Hanz.
"Baik lah." Azka akhirnya menurut, bergegas ke kamar mandi.
Menunggu istrinya mandi Hanz bersantai di sofa memutar TV.
Tak lama terdengar Azka sudah membuka kembali pintu kamar mandi , ia sudah selesai dengan acara mandi nya.
Bergegas meraih koper nya, mencari sesuatu.
"Hanz, kau menaruh baju ku di mana.?" teriak Azka.
"Aku tidak tau." jawab Hanz.
Azka mencoba mencari cari.
"Hanz, kemana kau taruh baju baju dari koper tadi.?" kembali Azka berteriak.
"Disitu Azka, di dalam lemari.?" kembali Hanz menjawab dengan setia.
"Tidak ada Hanz.? Apa aku tidak membawa baju tidur ya..?" pikir Azka.
"Hanz, bantu cari..?" jerit Azka.
"Astaga Azka,.. Apa yang kau cari.?" Hanz mau tidak mau menghampiri istrinya.
"Azka,!" Hanz tiba tiba menghentikan langkah nya, mata nya menatap kearah Azka yang hanya melilit tubuh nya dengan handuk. Sesaat Hanz terpana. Selama menikah baru ini ia melihat Azka seperti itu di depan nya.
"Huh, aku pakai baju apa.? Masa iya tidur pakai baju santai begini. Gak seru donk.?" gerutu Azka memegang baju santai yang ia biasa kenakan sehari hari nya.
"Apa yang kau cari.?" Hanz mendekati istrinya.
"Baju tidur ku, rupa nya aku lupa membawa nya." keluh Azka.
"Kau tidak perlu memakai baju kalau begitu." ucap Hanz meraih pinggang Azka.
__ADS_1
"Hanz, aku kedinginan.? Awas . Aku mau memakai baju dulu." Azka mencoba berontak.
"Aku akan menghangat kan mu." Hanz langsung memeluk tubuh Azka.
"Hanz.!" Azka mencoba merenggangkan pelukan Hanz.
"Azka. Kau tidak punya alasan lagi untuk menghindar dari ku." bisik Hanz.
"Aku tidak ingin menghindari. Hanya saja, aku belum memakai apa apa.?" kilah Azka.
"Kau mau pakai apa.? Baju.? Sama saja, aku akan melepas nya juga." ucap Hanz kini menatap wajah Azka.
Ya Tuhan, kau sangat menggoda Azka, tanpa make up dan baju kau sangat seksi sekali.
"Ya , setidak nya biarkan aku memakai parfum kek, atau losion." jawab Azka.
"Tidak perlu. Itu hanya akan mengotori kulit kita saja." ucap Hanz, tak ingin berdebat lagi Hanz langsung membopong tubuh Azka dan membawa nya ke ranjang.
"Kau sudah memancing ku dengan memanggil ku, Azka. Seharusnya aku tidak akan seperti ini jika tidak melihat tubuh mu dengan balutan handuk ini." ucap Hanz merebah kan tubuh Azka di ranjang.
"Hanz.. Aku dingin."
"Aku akan menghangatkan mu, lihat aku Azka, tatap aku." Hanz memegang kedua pipi Azka.
"Apa kau merindukan aku.?" ucap Hanz.
Azka mengangguk.
"Kita akan mengurangi nya." Hanz menatap tajam mata Azka.
"Aku merindukan mu Nona. Merindukan mu." bisik Hanz, menyentuh ujung bibir Azka.
"Aku juga Hanz." jawab Azka, lalu tangan nya meraih tengkuk Hanz dan mellumatt bibir nya dengan lembut. Hanz yang memang sudah bergairah dari pertama melihat tubuh Azka pun langsung membalas nya.
Lumattan kedua bibir itu terasa hangat dan dalam, semakin dalam dan menjadi panas.
"Azka, aku menginginkan nya." bisik Hanz menatap wajah Azka.
"Aku juga." Azka langsung menjawab nya.
"Sungguh.?" Hanz terus menatap istri nya. Azka mengangguk.
Dengan tangan kekar nya yang terlihat mulai gemetar itu, Hanz melepas baju nya dan kini menarik lembut handuk yang menjadi penghalang penglihatan nya itu.
Tubuh Azka kini benar benar utuh tanpa sehelai benang pun. Terlihat jelas lekuk tubuh dan mulus kulit putihnya. Terutama dua gunung kembar milik Azka yang terlihat seperti menantang Hanz.
Hanz terus memperhatikan pemandangan indah di hadapan itu, pemandangan yang dulu pernah ia lihat namun tidak dapat dinikmati sebebas kali ini.
"Azka, benar kah ini milik ku.?" Hanz masih terpana.
Azka meraih kedua tangan Hanz dan menaruh nya di kedua gunung nya dan menekan ya di sana.
"Ini milik mu Hanz, milik mu." ucap Azka.
Hanz mengangguk, dan tangan nya pun mulai meremas nya, memilih ujung nya dan menghujani nya dengan kecupan.
Azka mulai menggeliat dan mendesah,
"Hanz,.." desahan demi desahan terus keluar dari mulut Azka.
Hanz tak menghentikan aksi nya. Ia terus mencumbu setiap lekukan tubuh Azka dengan rakus nya. Nafas nya semakin memburu, tubuhnya pun semakin terlihat gemetaran menahan sesuatu yang sudah sangat memuncak.
Bibir Hanz semakin turun ke perut Azka dan terus menelusur kebawah.
Sampai di pangkal paha mulus itu Hanz merenggangkan nya.
__ADS_1
"Hanz,.. emm..!" terlihat Azka terus menutup dan membuka kembali matanya.
Tubuhnya pun tak kalah bergetar, sampai ia menggigit bibir bawah nya ketika ia merasakan lidah Hanz sudah menari di lubang kewanitaan.
"Hanz..!!" tangan Azka mencengkeram rambut Hanz. Pria itu tak juga menghentikan aksinya. Terus memainkan lidah nya, sampai terlihat Azka melengkung kan pinggangnya.
"Hanz..!" rintih Azka.
Tak ingin Azka kelepasan , Hanz mengakhiri nya. Kini ia melepas celana nya.
Dan mulai mendekatkan junior nya yang sudah menegang bak tombak itu.
"Menjerit lah jika kau ingin menjerit Nona, tidak akan ada yang mendengar nya disini." bisik Hanz , ia langsung menghentak kan juniornya.
Dengan sekali hentakan junior nya sudah memasuki kewanitaan Azka.
"Hanz..!" Azka kembali mendesah.
"Panggil nama ku Azka, terus.!" Hanz mulai memompa dengan lembut. Sesekali ia mellumatt bibir istrinya dan sesekali meremas kedua gunung kembar Azka.
"Azka... kenapa seperti ini rasanya.!" bisik Hanz disela sela aksinya.
"Apa Hanz..., Kenapa dengan rasanya.?" tanya Azka dengan nafas yang terengah engah.
"Nikmat sekali Azka, nikmat sekali..Emmm.! Apa kau merasakan nya.?" Hanz memandangi wajah wanita yang pernah menjadi Nona nya itu.
"Iya Hanz,." Azka masih sempat menjawab nya meski suara nya sudah kalah dengan desahan nya.
"Aku seperti tak ingin mengakhiri nya Azka." Hanz masih terus berbisik. Sampai ia tak lagi sadar jika ia sudah memompa dengan cepat dan keras. Hanz terus menghentak kan junior nya membuat Azka semakin mendesah.
Peluh kedua nya sudah membanjir, nafas kedua nya pun sudah tidak beraturan lagi. Dan tangan mereka saling menggenggam erat.
"Hanz..!" Azka melepaskan tangan nya dan kini meremas rambut Hanz. Menarik nya dan mellumatt bibir suami nya.
"Azka. Lihat aku.. Lihat aku Azka.!" Hanz menarik wajah nya . Tangan kirinya merengkuh tengkuk Azka , dan tangan satu nya menahan tubuh nya , Hanz semakin cepat memompa.
"Azka , aku mencintai mu.!" kedua nya mengerang bersamaan.
Tak lama setelah itu, tubuh Hanz melemas, melepaskan persatuannya dengan tubuh Azka dan terbaring disisi Azka, memeluk tubuh istrinya dan berusaha menormalkan kembali nafasnya.
"Azka.., Terimakasih." bisik nya menghujani kening Azka dengan kecupan.
Azka hanya diam, merasakan lemas di sekujur tubuhnya dan kedua kakinya terasa gemetaran.
"Hanz, kaki ku gemetaran." ucap Azka.
"Kenapa Azka.?" tanya Hanz terlihat panik.
"Tidak tau." sahut Azka.
"Mungkin Kau kelelahan. Maaf kan aku, sudah terlalu kasar." ucap Hanz terlihat sedikit menyesal.
"Tidak Hanz. Aku menyukai nya." jawab Azka menatap suaminya yang masih dengan wajah panik nya.
"Azka, aku tidak menyangka. Jika akhirnya kini aku benar benar memilki mu." ucap Hanz memeluk kembali istri nya.
"Iya, aku milikmu Hanz, milik mu." jawab Azka menarik selimut.
"Aku mengantuk. Bolehkah aku tidur.?" ucap Azka.
"Tidur lah Nona. Kau pasti lelah." jawab Hanz membelai lembut rambut Azka.
Akhirnya mereka pun terlelap di bawah selimut yang sama.
__ADS_1
**Sekian dulu, semoga bisa mengobati kangen kita pada mereka.
Tinggalin jejak kalian ya..jangan lupa**...!!!!