"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Kelahiran.


__ADS_3

Peluh sudah membasahi wajah dan seluruh tubuh Azkayra, rasanya ia sudah tidak tahan lagi . Namun lagi lagi Dokter Lisa mengucapkan kata sebentar lagi, karena memang pembukaan belum sepenuh nya terjadi.


Di ruang lain ,Hanzero terus meringis kesakitan. Tapi kali ini, entah mendapat kekuatan dari mana ia berusaha sekuat nya untuk menahan nya dan mencoba bangun.


"Berlinda , kemari lah." ucap nya.


Berlinda segera mendekati Tuan nya yang sudah duduk di tepi ranjang.


"Lebih mendekat.!"


Berlinda masih dengan kebingungan makin mendekatkan kaki nya lagi.


"Bantu aku berjalan. Aku harus menemui Nona.!" ucap Hanz segera meraih pundak Berlinda.


"Tuan, anda sedang sakit, Dokter sebentar lagi datang. Suster sedang memanggilnya." cegah Berlinda.


"Tidak Berlinda, aku harus mendampingi Nona. Pasti dia sedang kesakitan yang lebih dari aku. Ayo Berlinda..! Mumpung sakit ini sedikit berkurang." Hanz langsung berdiri dengan berpegangan pada pundak Berlinda.


Mau tidak mau, dengan perasaan sungkan Berlinda akhirnya meraih pinggang Tuan nya dan membantu nya berjalan menuju ruangan di mana Azka di masuk kan.


Dengan kepayahan Hanz terus berjalan , walau sebentar sebentar harus berhenti untuk menahan rasa sakit nya.


Di ujung sana ia melihat Arwan yang sedang berjalan mondar mandir di depan Ruangan. Hanz segera mengajak Berlinda untuk menghampirinya.


"Tuan, kenapa anda kemari. Anda sedang sakit." ucap Arwan langsung menghampiri dan menggantikan posisi Berlinda.


"Kenapa kau membiarkan Nona sendirian di dalam.?" Hanz begitu emosi melihat Arwan malah berada d luar, bukan nya menunggu Azka di dalam ruangan.


"Dokter mengusir saya Tuan, saya tidak di ijinkan untuk di sana." jawab Arwan.


Tanpa mempedulikan ucapan Arwan dan rasa sakit nya,


Hanz segera membuka pintu ruangan dan masuk begitu saja.


"Azka..!!" begitu melihat istrinya, Hanz langsung mendekati nya.


"Tuan, bukan nya anda masih sakit.?" Dokter Lisa keheranan melihat Hanz sudah berada di ruangan.


"Aku harus menemani istri ku Dokter."


"Hanz..!" panggil Azka.


"Iya sayang, bagaimana keadaan mu.? Apa sakit.?" Hanz mengusap keringat yang mengalir di pelipis Azka.


Azka menggeleng. "Tidak Hanz, hanya sedikit ngilu saja. Kau tidak perlu kemari. Kau masih sakit. Kembali lah ke ruangan mu."


"Tidak Azka, aku ingin menemani mu.!" ucap Hanz.


"Tuan, Nona akan segera melahirkan. Kita tidak bisa menunggu lagi. Maaf.. Ini sudah waktu nya. " ucap dokter Lisa.


Tanpa bertanya atau bicara Hanz segera meraih kepala Azka, kini ia duduk persis di atas kepala Azka dan menaruh kepala Azka di pangkuan nya. Kedua tangan Azka berpegangan pada lengan Hanz.


"Nona , bisa kah kita memulai nya. " ucap Dokter Lisa.


Azka hanya mengangguk.


"Arah kan pandangan Nona ke pusar Nona. jangan kemana mana. Tarik nafas panjang Nona. Dalam hitungan ketiga Nona harus mengejan sekuat nya ya..!"


Azka mengikuti arahan Dokter Lisa, ia terus menatap perut buncit nya.


Janntung Hanz terus berdegup kencang melihat pemandangan yang begitu menegangkan itu.


"Satu... dua... Tiga...! "


"Ahhhrgg...!!" jeritan Azka menggelegar memenuhi ruangan. Hanz sempat memejamkan mata nya , seperti tidak kuat melihat perjuangan istrinya.

__ADS_1


"Azka..!!" rintih nya, kembali mengusap keringat Azka.


"Bagus Nona, terus begitu. Kita ulangi lagi ya..?" ucap dokter Lisa.


"Tunggu Dokter, bisa kah tunggu sebentar. Saya tidak tahan lagi." tiba tiba Hanz menaruh kepala Azka dan beranjak cepat ke kamar mandi yang ada di ruangan itu juga.


"Kita tidak bisa menunggu, kita lanjutkan Nona. Nona bisa fokus kan.?" ucap Dokter Lisa setelah Hanz hilang di balik pintu.


Azka mengangguk, meskipun hati nya sempat khawatir memikirkan suami nya, ia berusaha untuk fokus pada proses persalinan nya, kembali mengarahkan pandangannya ke perut buncit nya.


Hanz mengusap wajah nya yang berkeringat. Ya... keringat dingin sudah membanjiri tubuh nya. Wajah nya yang pucat pun penuh dengan peluh peluh sebesar biji jagung.


"Kenapa sakit ini harus ada di saat istri ku akan melahirkan. !" Gumam Hanz duduk di closed. Ia mengejan sekuat nya, berusaha mengeluarkan sesuatu yang tidak juga keluar dari pertama ia merasakan mules itu.


Wajah Hanz terlihat begitu menegang menahan rasa mulas yang kali ini datang dengan sangat hebat itu. Tangan nya mencengkeram pinggiran Westfel yang ada di situ.


Satu detik dua detik, Hanz akhirnya menghela nafas lega menuruni closed itu dan segera membersihkan diri nya.


"Hanya sebesar biji rambutan, tapi kenapa begitu menyiksa ku." ucap Hanz berbicara pada dirinya sendiri, menyadari jika dirinya ternyata mungkin sedang sembelit .


"Tapi kenapa sesakit itu.? Dan ini , sudah sembuh sendiri.?" Hanz menatap milik nya yang tadi nya memerah itu kembali normal seperti sedia kala. Ia segera merapihkan celananya .


Masih penuh keheranan, karena tiba tiba saja rasa nyeri, mules dan sakit pinggang nya hilang begitu saja tanpa sisa. Ia pun langsung membuka pintu Kamar mandi.


"Oekkkkk.....!! Oekkkkk...!!!!"


Suara nyaring itu memenuhi ruangan.


"Azka,!!" Hanz berlari ke arah istrinya. Langkah nya terhenti ketika melihat Dokter Lisa sudah mengangkat seorang bayi di tangan nya.


Sesaat Hanz tertegun, dan tiba tiba ia bersujud di lantai begitu saja.


"Alhamdulillah... Terimakasih Ya Allah...!!!" ucap Hanz berkali kali dalam sujud nya, kemudian ia bangkit dan bertepatan dengan azan subuh berkumandang di sebuah masjid besar yang berada tak jauh dari Rumah sakit tersebut, membuat Hanz semakin bersyukur.


"Azka.. Terimakasih. Terimakasih sayang... Kau sudah melahirkan anak ku.!!" Hanz sangat terharu dan bahagia hingga menetes kan air mata.


"Hanz, bagaimana sakit mu.? Kau harus segera di tangani dokter ." Azka yang masih lemah itu , masih sempat sempat nya mengkhawatir kan keadaan Hanz.


"Azka, !" Hanz segera memeluk istrinya.


"Aku sudah sembuh sayang... Aku sudah sembuh. Tidak perlu khawatir. Mungkin tadi aku hanya mewakili sakit kontraksi mu, seperti keinginan ku malam itu, sebelum kau melahirkan." ucap Hanz.


"Benarkah.?" Azka menatap tidak percaya.


"Kau tidak percaya,? Bukti nya aku sembuh setelah kau melahirkan." jelas Hanz, padahal ia sendiri kurang yakin . Benarkah begitu. ? Ia bahkan melupakan ucapan nya sendiri malam itu.


Dokter Lisa yang sudah selesai membersihkan bayi Hanz , menghampiri pasangan yang sedang di Landa keharuan itu.


"Tuan, selamat ya..? Anak Tuan Laki laki." dokter Lisa menyerahkan bayi Hanz , dan Hanz segera menyambutnya dengan tangan yang terlihat sedikit gemetaran itu.


"Putra ku.. ! Selamat datang nak.!" Hanz menatap bayi mungil yang sangat manis itu seperti tersenyum padanya.


"Azka, lihat lah. Ia tampan sekali.!" ucap Hanz meletakkan bayi itu di dada Azka.


Tak lama dari itu, terlihat Arwan dan Berlinda melangkah tergesa memasuki ruangan setelah seorang suster membuka pintu.


"Nona, .. !!" teriak Berlinda.


"Hei,.. Kecilkan suaramu Berlinda. Kau mengagetkan bayiku.!" bentak Hanz.


"Maaf Tuan, saya begitu semangat. Ah.. Nona selamat Nona ya.. ? Apa bayi nya perempuan Nona..?" tanya Berlinda dengan menggebu nya.


"Bayi ku laki laki Berlinda. Seperti keinginan ku.!" lagi lagi Hanz yang menjawab dengan semangat.


"Benarkah..? Seperti keinginan Nona." celoteh Berlinda.

__ADS_1


"Apa..? Benarkah Kau menginginkan bayi laki laki Azka..?" tanya Hanz.


Azka hanya mengangguk. "Bukan kah kau menginginkan bayi perempuan Hanz.? Kenapa tiba tiba kau mengatakan seperti keinginan mu.?" tanya Azka.


"Sebenarnya aku menginginkan bayi laki laki, hanya saja aku berpura pura menginginkan bayi perempuan agar kau menginginkan bayi laki laki. Karena aku tau jika aku menginginkan perempuan, maka kau akan menginginkan laki laki. Kau kan selalu tidak mau mengalah dengan ku." jelas Hanz.


"Kau curang Hanz..!" Azka mencubit lengan Hanz yang hanya tertawa bahagia itu.


"Tuan.. ngomong ngomong bagaimana dengan sakit Tuan ? Tuan seperti nya sudah sehat.?" tanya Arwan ingat dengan keadaan Tuanya sebelum ini .


"Ah, lupakan Arwan. Semua sakit ku sudah sembuh seketika dengan kelahiran putra ku." jawab Hanz terus tersenyum menatap bayi nya.


"Ajaib sekali.!" ucap Arwan masih penuh keheranan.


"Benar kata ku. Tuan Hanzero mengalami kontraksi. Sakit nya hilang seketika setelah Nona melahirkan." sahut Berlinda.


Sudut mata Arwan melirik ke arah Berlinda. Masih dengan tatapan tidak percaya, tapi ini sungguh terjadi.


"Kau benar rupanya." ucap Arwan.


Dokter Lisa menghampiri mereka.


"Tuan, maaf. Kami harus membersihkan Nona dulu. Silahkan yang lain keluar dulu." ucap dokter Lisa.


"Aku bisa tetap disini kan.?" ucap Hanz, di balas anggukan oleh dokter Lisa., sementara Arwan dan Berlinda kembali melangkah keluar ruangan.


"Azka, Apa yang kau rasakan.? " tanya Hanz setelah meletakkan bayinya di ranjang bayi khusus yang tersedia di sana.


"Aku lemas sekali Hanz, tenaga ku habis terkuras." jawab Azka.


"Aku tau itu Azka, namanya juga dari melahirkan , kau pasti kehabisan tenaga untuk mengeluarkan jagoan ku. Maksud ku sebelum kau melahirkan." tanya Hanz.


"Aku tidak merasakan apapun selain rasa kencang di perut ku. Dan bayi mu terus menerus mendorong dengan kuat." jawab Azka.


"Benar kah,? Kau sama sekali tidak merasakan sakit.?" Hanz semakin yakin jika sakit yang ia alami tadi adalah perwakilan dari sakit Azka.


"Nona dan bayi Anda benar benar hebat Tuan. Ini sebuah keajaiban. Jarang sekali ada wanita yang hendak melahirkan tidak mengalami kontraksi. Dan bayi anda berusaha sendiri untuk keluar. Nona hanya butuh mengejan tanpa sudah payah." ucap dokter Lisa sambil terus membersihkan tubuh Azka di bantu Suster nya.


"Hanz.. terimakasih.!" tiba tiba Azka meraih tengkuk Hanz dan mencium kening nya.


"Untuk apa.?"


"Aku tau, kau sudah mengambil rasa sakit ku kan..?"


"Itu hanya kebetulan saja Azka,.!" ucap Hanz berganti mencium kening Azka.


"Seharusnya aku meminta maaf padamu. Aku tidak sempat menemani mu melahirkan anak ku karena sibuk dengan diri ku sendiri." sambung Hanz.


"Tidak Hanz, kau sudah berusaha menemaniku. Padahal kau sedang menahan rasa sakit. " sahut Azka tersenyum bahagia menatap suaminya.


Kau sungguh suami idaman Hanz.


Dokter Lisa hanya tersenyum menyaksikan kedua pasangan yang sedang berbahagia itu,


Cinta yang begitu kuat.


Bisa mengalahkan segalanya.


________________________________________


minta saran kalian untuk nama Hanz Junior ya..??


Siapa tau cocok.!


Hanz dan Azka belum sempat menyiapkan Nama untuk bayi nya.

__ADS_1


__ADS_2