
Mohon maaf ya, untuk gambaran suasana pesta pernikahan Azkayra mungkin sudah terlambat. Dan sedikit gak nyambung. Tapi jadi lah untuk sedikit melengkapi.
Hari ini adalah pemeriksaan terakhir Hanzero yang di lakukan oleh Dokter khusus yang selalu menangani dan mengontrol nya secara rutin.
Tampak sang Dokter telah selesai memeriksanya.
Ginanjar Samudra dengan tak sabar segera menghampiri sang Dokter yang masih berada di kamar putri nya.
"Bagaimana keadaan Menantu saya.?" tanya nya.
"Tuan Hanzero sudah di pastikan sembuh dengan sempurna. Hanya saja karena jantungnya pernah terluka, jadi harus tetap berhati hati. Jangan terlalu melakukan pekerjaaan yang terlalu berat, karena itu bisa menyebab kan jantung nya terganggu." tutur sang Dokter menjelaskan.
"Baik lah Dokter, kalau begitu Terimakasih ." jawab Ginanjar.
"Sama sama Tuan, saya akan tetap melakukan pemeriksaan rutin setiap seminggu sekali. Saya permisi dulu." ucap Dokter itu berpamitan.
"Baiklah, sopir saya akan mengantar anda." jawab Ginanjar memanggil Bimo yang menunggu di luar kamar.
Bimo pun segera mengantar sang Dokter.
"Hanz, kau dengar penjelasan Dokter tadi.?" Ginanjar menghampiri Hanzero yang masih duduk di tepi ranjang.
Hanz mengangguk, sedang Azka sibuk memasang baju suami nya kembali usai pemeriksaan tadi.
"Iya Tuan,."
"Hanz..!" Azka mengerdipkan matanya.
"Kau masih saja memanggilku Tuan, aku ini sekarang sudah menjadi ayah mu. Ayah mertua mu." bentak Ginanjar.
"Oh maaf, maksud saya Ayah. Ayah mertua." sahut Hanz sedikit gugup.
"Nah begitu.. Kau harus membiasakan diri memanggil ku Ayah."
"Baik Ayah." jawab Hanz.
"Kau kan sudah sembuh, jadi kau harus segera membuatkan aku seorang cucu. Aku tidak mau mendengar alasan apapun, aku sudah ingin menimang cucu. Sementara usia ku sudah semakin tua, aku ingin sebelum aku mati aku sudah bisa melihat cucu ku lahir." ucap Ginanjar.
"Ayah, kau ini bicara apa sih. Pasti lah , ayah itu akan panjang umur sampai ayah punya cicit. " sela Azka.
"Umur manusia tidak akan ada yang tau Azka, jadi segera lah memikirkan keinginan ayah yang terakhir ini." sambung ayah nya.
"Saya akan berusaha Ayah, anda tidak perlu khawatir masalah itu." sahut Hanz.
"Bagaimana aku tidak khawatir. Jika Azka menuruni Amila, rahim nya terlalu dalam dan susah untuk hamil. Kami bahkan butuh waktu bertahun tahun hanya untuk mendapatkan Azkayra istrimu itu." ucap Ginanjar sedikit gelisah.
"Saya akan membawa Azkayra ke rumah sakit untuk program hamil. Percayalah Tuan. Upz, Ayah.!" jawab Hanz.
__ADS_1
"Baik, aku akan menunggu. Bila perlu kau aduk setiap malam agar adonan nya cepat jadi. Itu tidak akan berpengaruh pada jantung mu." ucap Ginanjar.
"Adonan..? Adonan apa.? Kue.." Azka bingung dengan ucapan Ayah nya.
"Sudah lah, itu urusan laki laki. Kau tidak akan mengerti." jawab Hanz.
"Ayah.! Kau menyuruh Hanz untuk bikin kue, memang Hanz bisa.?" Azka masih saja bertanya pada ayah nya karena penasaran.
"Bisa, pasti bisa. Hanz, kau bisa kan.? Kalau kau bingung , kau bisa bertanya padaku. Aku akan mengajari mu bagaimana cara nya mengaduk adonan agar mendapatkan hasil yang sempurna." jawab Ginanjar menepuk bahu menantu nya sambil tersenyum.
"Mungkin saya memang masih perlu bimbingan , tapi tenang saja Ayah. Kalau masalah Aduk mengaduk, saya akan berusaha semaksimal mungkin." sahut Hanz sembari nyengir, melirik istrinya yang masih bingung dengan arah pembicaraan mereka.
"Baik lah, kalau begitu Ayah permisi dulu. Dan mulailah tugas mu." ucap Ginanjar melangkah keluar kamar mereka dan tak lupa menutup pintu nya.
"Apa sih yang kalian bicara kan..? Bikin kue.? Tumben ayah meminta kau untuk membuat kue Hanz. Seperti tidak ada pelayan saja di rumah ini. Atau ayah sengaja ingin mengerjai mu ya, karena tau kau sudah sembuh." ucap Azka.
"Azka... Kau ini tidak mengerti juga. menggemaskan sekali sih..? " jawab Hanz meremas kedua pipi Azka.
"Sakit Hanz.." Azka memukul lengan Hanz.
Hanz segera menarik tangan Azka hingga terduduk di ranjang. Hanz langsung mendorong nya hingga Azka terbaring di kasur.
"Aku sudah menjadi suami mu, tapi kenapa kau masih memanggil ku Hanz ,Hanz, Hanzero. Kau tidak punya keinginan untuk mengubah panggilan mu itu .?" tanya Hanz menatap mata indah milik istrinya.
"Apa saja yang penting romantis.!" sahut Hanz membelai wajah istrinya.
"Aku tidak mau. Dari awal, bahkan sebelum bertemu dengan mu, aku selalu menyebut namamu Hanz, dan selama nya akan itu. Itu adalah panggilan kesayangan ku, tidak bisa di ganti. Kalau kau tidak setuju ,aku tidak akan memanggil mu. Pilih mana.?" ucap Azka.
"Baik lah , baik lah. Terserah kau saja. Kau memang selalu menang Azka. Aku tidak mungkin bisa menang jika berdebat dengan mu." jawab Hanz pasrah.
"Itu tau." ucap Azka mencubit hidung Hanz.
"Azka, aku akan mulai menyiksa mu, bersiap lah.". bisik Hanz sudah mulai dengan nafas memburunya, dan langsung menindih Azka.
"Hanz,." Azka mendorong tubuh Hanz.
"Kau kenapa lagi Azka, Kenapa kau selalu menghindari ku. Apa kau menyesal menikah dengan ku.? " Hanz menatap istirnya dengan sedikit kecewa.
"Hanz, ruangan ini tidak kedap suara. Kau tidak ingat kalau aku ini berisik. Kau mau suara ku di kuping mereka.?" jawab Azka.
"Tidak akan ada yang berani menguping kita Azka.?"
"Tidak Hanz, kau lupa aku ingin berbulan madu di Apartment mu.?"
Hanz membuang nafas.
"Baik lah, kita berangkat kesana. Dan besok aku akan menyuruh orang untuk mengubah kamar mu ini agar menjadi ruangan yang kedap suara." Hanz beranjak.
__ADS_1
Azka tersenyum menang dan segera meringkasi pakaian dan alat alat nya yang ingin ia bawa.
Sementara Hanz hanya menatap istrinya,
"Aku menunggu mu di luar." ucap Hanz, di balas anggukan Azka.
Hanz lalu melangkah keluar menemui Ayah mertua nya.
"Ayah, saya akan membawa Azka ke apartment." ucap Hanz.
"Apartment .? Kenapa kalian tidak pergi ke Bali atau ke Jepang atau kemana , agar bulan madu kalian berkesan. " sahut Ginanjar.
"Ayah, Azka yang ingin kesana.!" sahut Azka dari belakang sambil menarik koper.
"Kenapa Azka, apa kau khawatir dengan keselamatan kalian.? Kau tidak perlu khawatir lagi. Kau tau, Ayah Gavin sekarang sudah mendekam di penjara. Aku sudah membuat perhitungan dengan nya." ucap Ginanjar.
"Benar kah,? Tapi ini bukan kah kesalahan Gavin sendiri, Ayah nya tidak ikut terlibat." jawab Hanz.
"Siapa bilang, penculikan Azka memang rencana Gavin sendiri. Tapi Ayah nya Gavin sudah mengakui semuanya, jika dia lah orang yang menyebabkan Amila istri ku terbunuh. Mendekam di penjara pun belum cukup untuk membalas perbuatan nya." jelas Ginanjar.
"Jadi, dia yang sudah membunuh ibu. Dan sudah menyebabkan aku harus kehilangan ibu dan hidup terpisah dari Ayah." ucap Azka ,mata nya terlihat berkaca kaca.
"Dia berniat membunuh Ayah, tapi saat itu ibu mu sedang berlari mengejar mu. Dan peluru itu mengenai ibu mu saat tidak sengaja melintas di depan ayah." Ginanjar pun mulai berkaca kaca mengingat kematian istrinya.
"Azka, kau tidak boleh bersedih. Ibu mu sudah tenang di sana. Dia pasti juga merasakan kebahagiaan mu saat ini." Hanz meraih pundak istrinya.
"Masih ada Aku dan Ayah mu yang mencintai mu." ucap Hanz mengecup pucuk kepala nya.
"Benar apa yang di katakan Hanz, kau sekarang sudah bahagia Azka , kau tidak boleh bersedih lagi. Kau harus bahagia dan terus bahagia." ucap Ginanjar.
"Berangkat lah kalian , mumpung masih sore." sambung Ginanjar.
Hanz mengangguk.
"Kami berangkat dulu Ayah." ucap Azka.
"Hati hati . Azka, jadi lah istri yang baik. Suami adalah raja. Kau harus bisa melayani nya dengan baik." jawab Ginanjar mengusap kepala Putrinya.
Azka pun mengangguk .
Hanz pun segera meraih tangan Azka dan mengajaknya melangkah.
Mereka pun berangkat menuju Apartment Hanz. Tanpa pengawalan, karena Hanz yang menginginkan nya untuk hanya pergi berdua saja dengan Azka.
"Sekian dulu, nanti malam di sambung lagi ya.. Bab ini hanya sekedar untuk melepas kangen kita sama AzkaHanze.
Tinggalin komentar kalian, dan jangan lupa Vote nya....!!!!"
__ADS_1