
"Maaf kan bibi ya Nona, selama disini penyambutannya kami kurang baik." ucap Sang bibi di depan mobil Azka.
"Bibi, jangan bilang begitu. Azka senang sekali disini. Sungguh, kapan kapan Azka akan kesini lagi." jawab Azkayra.
"Benar ya .? Jangan kapok main ke rumah Bibi yang jelek ini."
"Iya Bibi,..?"
Pagi itu mereka akan kembali ke kota setelah dua hari berada di kampung Hanz.
Hanz nampak sedang berbincang serius dengan Paman nya.
"Hanz, Maaf kan Paman dan Bibi mu jika tidak bisa menghadiri Hari pernikahan kalian nanti. Kamu tau sendiri kan, kalau Bibi mu tidak bisa naik kendaraan terlalu jauh." ucap Sang Paman.
"Iya Paman, kalian tidak perlu menghadiri nya, Doa kalian itu saja yang kami perlukan." jawab Hanz memeluk Paman nya.
"Itu pasti Hanz, tidak perlu kau pinta doa kami selalu mengiringi mu. Hati hati dalam setiap tindakan dan jaga Calon istri mu dengan baik." Pesan Paman nya menepuk bahu keponakan nya itu.
Setelah selesai berpamitan Azkayra dan Hanzero masuk ke dalam mobil dan akhir nya melaju meninggalkan kampung halaman Hanz itu.
Singkat cerita,
Setelah menempuh perjalanan setengah harian penuh mereka akhir nya Sampai di rumah utama. Azka segera turun di sambut oleh Berlinda yang setia dan langsung membersihkan dirinya.
Begitu juga dengan Hanzero, ia pun langsung ke kamar nya untuk mandi, menghilangkan rasa lengket keringat di tubuh nya karena perjalanan jauh yang di tempuh nya.
"Nona, beristirahat lah. Saya harus ke kantor." ucap Hanz menemui Azka di kamar nya.
"Hanz.. bahkan kamu belum istirahat." Azka memprotes.
"Sekalian nanti malam saja, aku harus melihat keadaan kantor Azka.." sahut Hanz.
"Kau sama sekali tidak peduli dengan dirimu Hanz."
cuppp...!!!
Hanz membungkam mulut Azka dengan bibir nya, sedikit mellumatt dan mengecup kening nya.
"Aku pergi dulu ya.?" Hanz melangkah tanpa mempedulikan Azka yang terus mengomel.
Hanya senyuman yang berkembang di bibir Hanz mengiringi langkah nya menuju mobilnya.
Ia pun kembali melaju menuju Perusahaan Samudra.
*
*
*
*
"Tuan, anda sudah kembali.?" sapa Annabel menyambut kedatangan Hanz.
"Ada perkembangan apa saja saat aku tidak ada di perusahaan.?" Hanz duduk melipat tangannya.
"Banyak kemajuan pesat pada pembangunan Villa Pelangi Tuan. Mungkin dua Minggu kemudian anda harus bersiap meresmikan Villa Pelangi." jawab Annabel.
"Bagus Annabel. Aku sudah sangat menunggu hari itu tiba." ucap Hanz.
Annabel segera undur diri setelah menyerahkan beberapa berkas yang harus di teliti dan di tanda tangani oleh Hanz. Dan Hanz pun membuka komputer milik nya.
"Benar kah aku akan segera menikah dengan Azka.. ? Seperti mimpi. Belum belum saja aku sudah sangat bahagia. Apalagi setelah itu." Hanz tersenyum senyum sendiri membayangkan hari dimana ia telah resmi menjadi Suami seorang Azkayra.
Hari yang di nanti Hanzero dan Azkayra pun akhirnya tiba. Hari itu Pembangunan Villa pelangi telah selesai sepenuhnya. Semua merasa lega dan bahagia tak terkecuali Gavin yang telah mengerahkan banyak kontraktor kontraktor handal di kota itu untuk membantu penyelesaian singkat Villa tersebut.
Harapan Gavin untuk segera meminang Azkayra pun semakin menggebu.
Kini mereka sibuk mencari hari untuk peresmian Villa itu. Tapi tidak bagi Hanz., hari ini ia tengah sibuk memilih sepasang cincin pertunangan untuk nya melamar Azkayra secara resmi.
__ADS_1
Hanz duduk di kursi kerja nya, bibirnya nampak tersenyum dan mata nya terus menatap sepasang cincin yang baru saja di beli nya itu.
"Cincin ini hanya untuk sementara Azka, karena yang selama nya harus terselip di jari manis mu adalah Cincin pemberian Ayah ku." ucap Hanz pada dirinya sendiri.
"Tuan, Anda memanggil saya.?" sapa Annabel menghadap.
"Annabel, bagaimana persiapan untuk peresmian Villa pelangi itu.?" Hanz bertanya serius pada Wanita yang menjadi orang kepercayaan nya itu.
"Semua berjalan lancar Tuan, besok malam Minggu adalah malam peresmian nya. Saya dan tim penyelenggara serta Nona Azkayra sudah menyiapkan semua." jawab Annabel.
"Nona Azka, kenapa bisa dia ikut mengurusnya..? Apa kerjaan kalian sampai Nona harus turun tangan..?" tanya Hanz sudah dengan nada tinggi nya.
"Nona menginginkan nya sendiri Tuan, Nona terlihat semangat sekali untuk menyelenggarakan Pesta Peresmian itu.. Karena itu Nona ingin , Nona sendiri yang mengatur semua nya. Kami hanya boleh membantu nya saja." jelas Annabel.
Hanz hanya menggelengkan kepala, ia paham betul jika Azkayra sudah berkehendak tak lagi ada yang bisa mencegah nya kecuali dirinya.
"Baik lah, aku hanya tidak ingin ada kesalahan Annabel." ucap Hanz.
Annabel pun mengangguk dan segera berpamitan.
Hanz menghela nafas, kembali ia menatap kotak perhiasan yang masih di tangan nya itu, sesaat kemudian ia menyimpan nya di saku jas nya.
Ia melirik jam dan memutuskan untuk pulang.
Sepanjang perjalanan tak henti nya ia tersenyum, bayangan wajah Azka yang nakal itu terus menari di mata nya.
"Azka.. sehari saja tidak melihatmu aku begitu merindukan mu. Bagaimana kalau seminggu sebulan atau setahun tidak melihat mu, mungkin aku bisa gila. Tapi tidak Azka, aku tidak akan pernah ingin jauh dari mu. Kita akan selalu bersama, berjalan berdampingan kemana pun itu." Hanz terus berbicara pada dirinya sendiri.
Tiba lah ia di rumah utama, Hanz segera turun dan tak lupa ia bergegas ke kamar nya dahulu. Membersihkan diri dan siap menemui Azkayra yang bagi nya sudah menjadi candu dalam hidup nya.
Ketukan pintu tak di dengar oleh sang pemilik kamar, Hanz pun membuka nya sendiri dan melangkah masuk begitu saja.
"Tidak ada siapa siapa. Kemana Azka." bisik Hanz setelah memeriksa kamar mandi.
"Jangan bilang kalau kau sedang memasak di dapur Azka." Hanz segera keluar dari kamar nya dan melangkah ke dapur.
"Kemana Nona kalan..?" Hanz bertanya pada para pelayan di sana, karena tidak menemukan Azka di dapur.
Mereka terdiam ,
"Nona.. Pergi keluar Tuan..?" jawab salah satu pelayan wanita di ujung sana.
"Apa..?" mata Hanz sudah terlihat memerah.
"Dasar bodoh, kenapa membiarkan kan Nona keluar tanpa Aku.!!" ucapan Hanz seperti setrum yang menyengat mereka.
"Maaf kan kami Tuan, Kami salah. Kami tidak bisa mencegah nya." jawab mereka.
"Dengan siapa Nona kalian keluar.?"
"Berlinda Tuan. Tapi para pengawal mendampingi Nona." jawab salah satu pelayan Pria.
Hanz tidak peduli lagi, ia terus melangkah pergi meninggalkan dapur dan menuju ruang depan.
"Azka.. kau benar benar keras kepala. Apa sebenar nya yang kau cari...?? Kenapa tidak menunggu ku dulu.?" gumam Hanz merogoh Hp nya.
Baru saja ia hendak menghubungi Nomor Azka , terdengar suara ketawa dari luar pintu.
Ceklekk.....!!!!
Pintu terbuka dan Azka bersama pelayan kamar nya muncul di sana dengan menenteng beberapa kantong di tangan mereka.
"Hanz... kau sudah pulang. ? " Sapa Azka melihat Hanz sudah berdiri di depan pintu menyambut nya .
Azka melirik Jam.
Seharusnya nya Hanz belum pulang .
"Kenapa memang nya Nona.? Anda berharap saya pulang tepat waktu atau sedikit lebih terlambat..?" tanya Hanz tanpa tersenyum sedikit pun.
"Bukan begitu Hanz, tapi kan biasa nya kau selalu pulang tepat waktu. Jadi aku sedikit kaget melihat mu sudah di rumah ." jawab Azka , ia sudah menebak , pasti Hanz akan sangat marah padanya karena pergi tanpa sepengetahuan Hanz.
"Dari mana..?" tanya Hanz menatap wajah Azka.
__ADS_1
Berlinda segera menyisih, ia memilih cepat berjalan menaiki tangga mengamankan kan diri.
Namun tiba tiba Berlinda mengerem mendadak kaki nya. Suara lantang Singa itu telah membuat kaki nya menjadi kaku.
"Berlinda...!!!" Hanz memanggil tanpa menoleh.
Pemilik nama itu langsung membalik kan badan nya dan dengan rasa takut melangkah mendekati Hanz.
Hanz membalik kan badan nya dan kini menatap Berlinda yang sudah pucat itu.
Hanz mengangkat tangan nya dan melayang kan nya pada wajah wanita itu, namun Azka dengan cepat menangkap tangan itu.
"Hanz.. Berlinda tidak bersalah. Aku yang memaksanya." kini Azka sudah berdiri di depan Hanz.
"Berlinda pergi lah." ucap Azka pada Berlinda .
Berlinda yang sudah ketakutan itu mengangguk dan cepat berlalu.
"Hanz.. " Azka mendekati kekasih nya.
"Kau dari mana Azka, aku menyuruh mu untuk tidak pergi ke kantor agar beristirahat, tapi kau malah keluyuran.?" tanya Hanz berusaha untuk lembut.
"Aku hanya pergi ke butik Hanz, aku mencari baju untuk acara besok malam." jawab Azka Kini ia memeluk Pria yang sedang marah itu.
"Kau tidak perlu ke sana Azka, aku bisa memanggil mereka untuk kesini.!" Hanz melepaskan pelukan kekasih nya itu.
"Hanz, aku harus memilih nya sendiri, masa iya harus menyuruh mereka datang kesini dengan membawa seisi butik mereka."
"Ya, bila perlu butik mereka yang di bawa kemari." ucap Hanz kini dengan suara tinggi, membuat Azka terkejut.
"Hanz...!!" Azka mulai terisak.
"Azka... sudah ku bilang berkali kali. Jangan keluar rumah tanpa aku. Kau tidak mengerti juga." Hanz memeluk Azka, ia menyesal telah bersuara keras pada Azka.
"Aku mengkhawatirkan mu, kalau terjadi apa apa dan aku tidak bersama mu bagaimana.? Aku tau Azka pandai berkelahi , tapi itu tidak cukup. Kita harus lebih berhati hati. Saat ini mungkin banyak pesaing kita yang merasa iri dengan keberhasilan kita membangun Villa Pelangi lengkap dengan Danaunya itu." Hanz membelai rambut Azka.
"Apa kau paham, aku tidak ingin terjadi apapun padamu menjelang hari pernikahan kita ." ucap Hanz lagi.
"Maaf, aku tidak akan mengulangi nya lagi." jawab Azka merasa bersalah.
"Baik lah, Ayo kita ke kamar." Hanz mengajak Azka melangkah ke kamarnya.
Tiba di kamar , Azka langsung duduk melamun di pinggir ranjang.
Hanz menatap wajah gadis yang masih penuh penyesalan itu dan mendekatinya.
"Mana Gaun yang kau pilih tadi, boleh kah aku melihat nya.?" Hanz mengangkat dagu Azka.
"Kau mau melihat nya.? Sebentar." Azka tersenyum dan kembali ceria, dengan semangat ia memperlihat kan gaun yang ia dapatkan dari butik bersama Berlinda tadi.
"Bagus kan .? Aku akan terlihat sangat cantik jika memakai nya Hanz..! Apa kau menyukai nya.?" Azka terus menempel kan gaun itu di badan nya.
Hanz tak menjawab, ia menarik tangan Azka hingga tubuh nya jatuh ke atas ranjang dan Hanz mengambil Gaun itu dari tangan Azka lalu melempar nya begitu saja.
"Kau selalu terlihat sangat Cantik meskipun tidak memakai gaun itu Azka."
Kini Hanz sudah menindih tubuh Azka dengan kaki dan tangan nya.
Mellumatt bibir Azka dan terus mengecap liar di sana.
"Kau tidak merindukan ku..?" bisik nya ditelinga Azka.
"Menurut mu..?" Azka balik bertanya, menatap mata Hanz yang juga menatap nya tajam.
"Dari kemarin kau sibuk mengurus acara untuk besok malam, bagaimana kau sempat merindukan aku." jawab Hanz.
Tiba tiba Azka mendorong tubuh Hanz hingga terjatuh di sampingnya, kini Azka mengganti posisi Hanz, menindih pria itu dengan kaki dan tangan nya.
"Kau jahat sekali memfitnahku , setiap detik aku merindukan mu, dan kau selalu menghindari ku. Bisa bisa nya kau bicara seperti itu padaku Hanz.." kini Azka menyerang Hanz dengan cumbuuan panas nya membuat Hanz benar benar kalah dan terengah-engah.
"Cukup Azka, aku menyerah. Berhenti lah." bisik Hanz menahan tangan Azka yang sudah hampir berhasil menelanjangi nya.
Kau bar bar sekali Azka!!
__ADS_1
Ucap Hanz tanpa suara.
_________________