"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Kegelisahan.


__ADS_3

Kini Hanzero tidak lagi banyak menuntut istrinya, dan Azkayra bisa sedikit leluasa untuk sekedar memasak yang memang sudah menjadi impian nya itu. Ia pun sudah sering pergi belanja walau pun harus tetap dengan pengawalan yang super ketat.


Namun setidak nya Azka bisa menikmati hari hari nya dengan keceriaan.


Hanz pun tersenyum melihat senyum kebahagiaan istrinya yang selalu berkembang mengawali pagi nya dan menyambut nya pulang dari Kantor.


Rasa cinta dan sayang nya pun semakin meluap pada istri nya.


Waktu terasa cepat berjalan, bulan kini sudah berganti tahun .Tak terasa setahun sudah usia pernikahan mereka.


Kebahagiaan dan masa tenang mereka pun kini terusik oleh perasaan khawatir Azka, karena ia tak juga kunjung hamil.


Padahal program hamil sudah di lakukan dengan sempurna, belum lagi cara cara lain seperti terapi, ramuan penyubur kandungan bahkan Azka pernah pergi ke Mbah Mbah untuk meminta jampi jampi kuno yang di yakini bisa menolong nya tanpa sepengetahuan Hanz.


Hingga akhirnya Hanz mengetahui nya dan murka karena Azka mempercayai hal tabu yang tidak di bolehkan oleh agama mereka.


Pertengkaran kecil pun kembali terjadi, tapi itu tak berlangsung lama, karena Hanz pasti akan luluh jika Azka sudah merengek dan berjanji untuk tidak mengulangi nya lagi, terlebih jika ancaman Azkayra sudah keluar dari mulut nya pasti sudah bisa membuat lutut Hanz bergetar.


"Sudah lah Azka, aku tidak mau mendengar alasan apapun dari mu. Jangan lagi kau mendatangi Mbah dukun itu lagi, atau dukun dukun manapun, atau aku akan mengimigrasikan semua dukun yang ada di kota ini ke kutub selatan.!" ancam Hanz.


"Iya Hanz ku, aku sudah berjanji..!" rengek Azka.


"Azka, dengar kan aku. Hamil ,belum atau tidak , itu bukan lagi urusan kita. Kau paham. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha sebaik mungkin. Biar Tuhan yang mengatur nya. Jangan sampai kita salah jalan.!" kembali Hanz berceramah panjang lebar.


"Iya Hanz." sahut Azka menunduk kan wajah nya.


"Azka, dengar kan aku sekali ini saja. Aku mencintai mu. Tanpa syarat. Titik. " ucap Hanz meraih tubuh Azka dan memeluk nya dengan erat.


"Maaf , aku melakukan semua ini juga karena mencintai mu Hanz."


"Iya aku tau, tapi berhenti lah melakukan hal hal yang tidak berguna Azka, percaya lah jika kita sabar , Tuhan akan memberi kita jalan." ucap Hanz, ia tau perasaan istri nya yang takut jika benar benar tidak bisa hamil. Namun Hanz sendiri sudah tidak mau memusingkan hal itu. Apapun Azka, bagi nya adalah kebahagiaan nya yang sejati , yang tidak akan mungkin ia lepas sampai ajal menjemput nya.


Lain hal bagi Azka yang selalu terganggu dengan kondisinya yang tidak kunjung hamil itu. Ia sangat menginginkan mempunyai keturunan secepatnya.


Sampai di kemudian hari ide gila Azka pun kembali menghampirinya dan menyesatkan pikiran nya.


Malam itu Azka terlihat gelisah. Ia membolak balik kan tubuh nya di ranjang.


Sebentar menghadap Hanz dan sebentar membelakangi Hanz.


"Azka.. kau kenapa.?" tanya Hanz menatap punggung istrinya.


Azka hanya menggeleng tanpa menoleh.


"Kau pasti lelah seharian memasak untuk ku dan pergi berbelanja. Biar ku pijat ya..?" tawar Hanz duduk dan meraih tubuh istrinya.


"Tidak Hanz, aku tidak lelah. Kau pasti yang lelah karena seharian bekerja. Biar aku yang memijat mu." Azka balik menawarkan kebaikan.


"Tidak perlu Azka, bekerja itu sudah menjadi tugas laki laki. Jadi tidak akan melelahkan aku." bantah Hanz.

__ADS_1


"Memasak dan belanja juga tugas seorang istri, memijat juga. Jadi tidak perlu di permasalah kan." ralat Azka tidak mau kalah.


"Baik lah, kalau begitu katakan padaku apa yang membuat mu gelisah seperti ini.?"


"Aku.." Azka menatap Hanz.


"Hanz,.. Kenapa aku tidak hamil juga.?"


"Azka ku.. dari pada kau memusingkan hal itu, bagaimana kalau kita berusaha lagi. Yuk..!!" Hanz langsung menubruk tubuh istri nya dan menyambar bibir mungil Azka.


"Emm..." Azka menutup rapat bibir nya dan mendorong tubuh Hanz.


"Aku tidak mau Hanz...!!"


"Azka, kau kenapa sih..?" tanya Hanz menatap heran.


"Pokok nya aku tidak mau. Menjauh lah Hanz.!!" ucap Azka.


" Baik lah, jika kau tidak mau, tidur lah. Ini sudah larut. Bagiamana aku bisa tidur jika melihat mu gelisah terus.?"


"Tidurlah duluan, aku belum bisa tidur." lagi lagi Azka membantah.


Hanz menghela nafas berat.


"Aku tidak pernah bisa tidur sebelum memastikan kau tidur. Kau tau itu kan..?"


Hanz hanya tersenyum , ia sama sekali tidak mengambil hati ucapan Azka. Hanz tau perasaan Azka yang sedang terganggu.


"Baik lah, aku akan menemani mu begadang malam ini." ucap Hanz merebahkan diri di samping Azka dan menghadap punggung istri nya.


Tangan nya terus mengusap lembut punggung itu hingga beberapa waktu lama nya.


"Azka..!" bisik Hanz di telinga Azka.


Tak ada jawaban. Hanz mengintip wajah istrinya dan kembali tersenyum.


"Mimpi yang indah Azka.." Hanz mendaratkan kecupan nya di kepala istrinya dan mendekap erat tubuh nya , kemudian menyusul sang istri ke alam mimpi..


.


Pagi menjelang, Hanz menyibak kan selimut nya. Tercium aroma nikmat dari sebuah cangkir yang masih mengepulkan asap yang sudah terletak di atas meja.


"Hanz, kau sudah bangun.?" senyuman manis itu berkembang di bibir mungil milik Azka, yang membuat Hanz semakin bersemangat untuk mengawali hari nya.


"Azka, kau sudah mandi.?"


"Ya, .. mandi lah. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu." jawab wanita yang selalu mengawali pagi Hanz dengan kebahagiaan tersendiri di hati Hanz.


Hanz benar benar merasa bahagia dan merasa sangat beruntung memiliki Azka, yang bukan hanya cantik tapi juga sangat menyayangi nya.

__ADS_1


Segala sesuatu keperluan Hanz di pagi hari Azka lah yang akan menyiapkan nya sendiri tanpa boleh satu pun pelayan yang membantunya.


"Terimakasih Azka, seharusnya kau tidak perlu repot repot melakukan ini. Sungguh percuma aku membayar pelayan di Rumah ini." ucap Hanz.


"Oh ya,.. dan kau akan merasa percuma menikahi ku , karena sebagai istri mu aku tidak bisa hanya sekedar menyiapkan keperluan suaminya di pagi hari." jawab Azka.


" Bukan begitu Azka, tapi.."


"Apa..? Kau sudah mulai lupa dengan janji mu.?" potong Azka.


"Ya.. ya ya.. Aku mengingat nya. Baik lah, aku mandi dulu , baru Aku akan menikmati sarapan yang sudah di siapkan istri ku tercinta." jawab Hanz hampir saja ia memercik kan api kemarahan sang Nona.


Tanpa berbicara lagi Hanz langsung beranjak dan bergegas ke kamar mandi.


Tak lama kemudian ia sudah keluar dari kamar mandi dan segera menghampiri Azka yang sudah menyiapkan baju nya.


Setelah berpakaian rapi, Hanz menyeruput kopi buatan Azka dan segera melahap sarapan nya.


"Azka, mana ucapan selamat pagi mu, apa kau melupakan nya.?" ucap Hanz memeluk istri nya .


"Aku tidak akan melupakan nya." jawab Azka langsung menciumi wajah Hanz.


"Terimakasih Azka.." Hanz tersenyum bahagia menerima ucapan selamat pagi dari Azka.


"Hanz, segera pulang setelah selesai pekerjaan mu ya.? Ada sesuatu yang ingin ku bicarakan padamu." ucap Azka.


"Apa itu..? Kenapa tidak sekarang saja."


"Nanti malam saja, setelah kau pulang dari kantor mu. Aku tidak ingin mengganggu konsentrasi mu." jawab Azka.


"Kalau begitu aku tidak perlu berangkat dulu hari ini. Aku ingin mendengar apa yang ingin kau bicarakan , sekarang saja." ucap Hanz.


"Tidak Hanz.. Berangkat lah. Bang Arwan pasti sudah menunggu mu."


"Aku akan menelpon nya, meminta nya untuk berangkat sendiri." jawab Hanz.


Sebenarnya dalam hati Hanz, ia memang ingin menemani Azka untuk sehari ini setelah semalam melihat kegelisahan istrinya, Dan kebetulan Azka malah memberi nya alasan yang tepat untuk nya untuk tidak berangkat ke kantor.


"Hanz..!!"


Hanz tidak mengindahkan ocehan Azka lagi, ia segera meraih Hp nya dan menghubungi Arwan.


Setelah selesai menghubungi Arwan Hanz membuka jas nya, melempar nya begitu saja dan membuka dasi serta sepatu nya.


"Aku akan menemani mu hari ini." ucap Hanz memeluk Azka.


Bersambung...!!!


kira kira , ide gila apa yang di pikirkan Azka ya...!!!???

__ADS_1


__ADS_2