"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Keluarga Angkat Zha.


__ADS_3

Derap langkah seorang gadis kecil berusia sekitar 16 tahun di ujung sana terlihat sedikit tergesa menghampiri Zha yang tengah bersandar di pintu mobil nya.


Zha langsung menarik tangan gadis kecil itu dan membawa nya masuk ke dalam mobil nya.


"Kenapa menemui ku, sudah ku bilang aku yang akan menemui mu."


"Ibu sakit kak Zha, ia memintaku menemui mu."


"Sakit.? Kau pasti nakal, sampai ibu mu sakit karena memikirkan mu."


"Tidak kak Zha, Lea tidak nakal." bantah gadis itu menatap wajah Zha.


"Kenapa semakin hari penampilan kakak seperti seorang mafia. ? Kak Zha tidak cantik lagi.!" celetuk polos Lea sang gadis kecil, membuat Elang yang duduk di kursi depan terkekeh.


"Diam lah, kau tidak akan mengerti keadaan ku. Elang, antar kami pulang ke rumah kecebong ini." Zha menepuk bahu Elang yang segera menghidupkan mobilnya.


Tak lama mereka berhenti di sebuah rumah sederhana yang nampak sepi itu , setelah mereka turun, tanpa di suruh Elang segera menghilang dari sana bersama mobil nya.


Lea lalu membuka pintu dan menarik tangan Zha untuk segera masuk menemui ibu nya di kamar.


"Lea, kau sudah menemukan kak Zha.?" suara serak seorang ibu yang terbaring di ranjang itu dan segera bangun duduk di tepi ranjang memandang kedua anak gadis yang berdiri di hadapan nya.


"Bibi, kenapa pake acara sakit .? Kau pasti kelelahan." Zha menghampiri.


"Dasar nakal, aku begini karena memikirkan mu. Kenapa sudah lama tidak menengok kami, apa kau sudah melupakan kami karena kesibukan mu.?"


"Bi.."


"Kau pikir uang mu cukup untuk mengobati kekhawatiran ku hah.!" Plak.... sebuah tamparan mendarat di kepala Zha.


"Maafkan aku bi, aku sungguh sibuk." Zha mengusap kepalanya yang sama sekali tidak terasa sakit itu.


"Baik lah, aku maafkan mu. Tapi jika kau tidak kemari lagi dalam satu Minggu, kau tidak perlu kemari. Pergilah. Kau memang sudah sukses dan tidak memerlukan kami lagi." keluh sang bibi yang bernama Riana itu.


"Bibi, jangan bicara seperti itu. Aku berjanji akan sering menengok kalian." ucap Zha meraih tangan Riana dan mengecup nya berulang ulang.


"Anak pintar. Kalau begitu aku akan memasak untuk makan siang kita. Tunggu lah di depan bersama Lea."


"Kau sedang sakit Bi, kenapa harus memasak.? Kita beli saja." ucap Zha.


"Ah, benar itu Bu, Lea ingin makan sate dan masakan Padang.!!" Lea begitu bersemangat.


"Beli saja ya Bi.." Zha merayu.


"Tidak , sayang uang nya. Pemborosan.!" Riana tak menggubris kedua gadis itu dan masih saja melangkah ke dapur, di ikuti kedua gadis itu.

__ADS_1


Riana kini sibuk di dapur membuat makanan, sementara Zha dan Lea hanya saling menatap di belakangnya.


"Bi, bisakah kau berhenti bekerja. Aku akan membiayai semua kebutuhan hidup mu dan Lea. Aku hanya ingin kau fokus menemani Lea hingga dia berhasil sukses dan mengurus hidup mu, agar kau bisa menemani hidup ku sampai aku tua." ucap Zha di belakang bibi nya.


"Hahaha... Anak sombong. Mentang mentang sudah pintar mencari uang seenak nya meminta ku berhenti bekerja. Baik lah, aku akan berhenti jika kau sudah menikah. Aku akan tinggal di rumah suamimu dan meminta nya memberi ku makan." jawab Riana masih tak bergeming di depan kompor milik nya.


"Hah.. Menikah.?"


"Kenapa...? ah, iya aku lupa. Mana ada pemuda yang tertarik dengan mu, melihat penampilan amburadul mu seperti gelandangan. Tidak mungkin ada yang menyukaimu.." oceh Riana. Zha tak lagi menggubris ia segera menarik tangan Lea mengajak nya keluar sari dapur.


"Zha... berubah lah..! Kau sungguh tega pada mendingan ibu mu. Dia menginginkan mu berubah menjadi gadis cantik Zha.!" teriak Riana melihat Zha tak mempedulikan ocehan nya.


"Huh, aku sungguh putus asa menghadapi putri mu Aisyah. Maafkan aku ." gumam nya melanjutkan masakan nya.


Keluarga kecil ini adalah keluarga angkat Zha, satu satu nya orang lain yang peduli dengan nya dan mendiang ibunya. Riana lebih tepat nya adalah sahabat Aisyah yang pernah menopang hidup mereka pada saat itu, memberi bantuan tenaga uang dan pikiran yang tulus pada Aisyah ketika terpuruk. Sama sama melahirkan anak perempuan dengan jarak yang terpaut cukup jauh, sekitar usia tujuh tahun Zha baru lah Lea lahir. Sedang kan Ayah Lea sendiri pergi meninggalkan Riana tanpa alasan semenjak Lea masih dalam kandungan.


Bahu membahu dan saling mendukung, itulah dulu yang di lakukan kedua sahabat itu, sampai akhirnya Aisyah harus menutup mata untuk selamanya, dan hanya bisa menitipkan Zha pada Riana sahabat nya.


Semenjak itu Zha sudah menganggap keluarga ini adalah keluarga nya. Ya, satu satu nya keluarga yang peduli dengan nya dan ibu nya ketika mereka sedang terpuruk sekali pun.


Beralih di tempat lain,


Di ruangan luas yang di penuhi komputer, Halilintar tengah duduk dengan seorang detektif bernama Victor.


"Kasus ini sudah sering terjadi, korban nya selalu orang orang kelas atas." Ucap Victor.


"Masalah nya, cara membunuh dan alat untuk membunuh nya itu yang belum juga bisa terungkap. Kami hanya bisa mengenali nya sebagai racun terganas tanpa tau apa jenis nya dan bagaimana cara ia membuat nya." sambung Victor.


"Mr. Victor.!" seorang laki laki menghampiri mereka.


"Deri, Apa kau menemukan sesuatu.?" Victor segera bertanya, dan seseorang itu segera duduk di hadapan nya.


"Saya menemukan sedikit info. Gadis Pecinta Asap, dia pembunuh bayaran yang sering di sewa para ketua mafia bahkan sering di panggil para pengusaha pengusaha kelas atas untuk meluluskan keinginan mereka. Hanya nama itu yang bisa saya temukan." jelas Deri.


"Apa kasus ini ada hubungan nya dengan Gadis pecinta Asap.?" Halilintar bertanya dengan penuh penasaran.


"Bisa jadi, sebab tidak ada yang tau cara kerja gadis itu. Aku juga pernah mendengar rumor itu. Dia seorang gadis atau pria belum ada yang bisa memastikan , hanya para mafia menyebut nya demikian." ucap Victor.


"Lalu dimana keberadaan nya saat ini.?" Halilintar bertanya pada Deri.


"Menurut info dari teman ku yang juga bekerja pada mafia, dia ada di salah satu Genk mafia . Hanya saja belum ada yang mengetahui secara pasti ia berada di Genk mafia yang mana. Sulit untuk menemukan nya, karena ia Selalu sendirian dalam bertindak." jelas Deri.


"Membingungkan.. Ah, bagaimana jika kita membuat jebakan.." ucap Halilintar.


"Maksud mu.?" Victor kali ini menatap serius.

__ADS_1


"Berpura pura meminta jasa nya."


"Tuan benar, ternyata mudah sekali." sahut Deri.


"Kalian pikir, dia sebodoh itu. Kami sudah sering melakukan nya. Tapi nihil. Seolah dia memiliki seribu mata dan keahlian dalam menebak situasi. Dia tidak akan mudah terjebak." ucap Victor.


" Biar aku mencoba nya sekali lagi. " ucap Halilintar.


.


..


.


Sementara di Mansion mewah Gadis Pecinta Asap.


Seorang pria gagah menghampiri nya, "Nona Zha."


"Erwan,.!" Zha menatap tajam pada pria gagah itu.


"Ada sedikit Masalah di kota X , seperti nya Tuan Afrizal sedang ingin bermain dengan kita, aku sudah menyelidikinya dan ia adalah penghalang dari bisnis club' malam kita di sana." Erwan menjelaskan dengan detail.


Senyum tipis bergulir di ujung bibir Zha.


"Aku akan segera membereskan nya, aku paling tidak suka ada seseorang yang mengusik wilayah kekuasaan ku. Aku sudah sering memperingatkan nya, tapi dia masih berani bermain di belakang ku, Dan kali ini tidak akan ada penolakan kedua." ucap Zha melenggang meninggalkan Erwan Pria yang selama ini sudah menemani nya dan di beri kepercayaan penuh untuk mengurus bisnis gelap nya itu.


Zha sudah duduk menjadi penumpang yang baik di salah satu mobil milik nya, sementara Elang berperan menjadi sopirnya. Sementara tiga mobil khusus milik anak buah Zha mengikuti mereka dari belakang.


Melaju di jalanan sepi, mereka berhenti di sebuah Club' malam di kota X tersebut.


Zha berjalan santai memasuki club' itu di susul anak buah nya di belakang, dan Elang berjalan tepat di samping nya.


Zha melirik seorang Pria tampan yang sedang duduk bersantai di ujung sana.


Kedua mata mereka tak sengaja saling beradu ketika Zha berjalan tepat di samping nya. Zha langsung memalingkan muka nya sementara sang pemuda itu masih saja menatap nya hingga memutar kepalanya mengikuti langkah kaki Zha.


"Siapa pria itu, seperti nya aku belum pernah melihat nya di sini.?"bisik Zha pada Elang.


"Putra dari Tuan Hanzero, seorang pengusaha terkenal dari perusahaan Samudra . Entah apa yang sedang di perbuat nya di sini. Mungkin dia sedang mencari hiburan." sahut Elang yang mengenal secara detail pemuda tadi.


Zha seperti tak ingin memikirkan nya, ia fokus pada tujuan utama. Melangkah menuju ruang tengah club' malam tersebut.


Brakkk....!!!!! Satu tendangan nya berhasil membuat pintu ruangan itu jebol, membuat beberapa orang yang berada di dalam seketika terkejut dan berdiri menatap rombongan Zha, gadis itu berjalan mendekati seorang pria yang masih duduk dengan santai nya.


"Apa kabar Tuan Afrizal. Lama tidak bertemu, seperti nya anda sangat menyukai tempat ini.?" Moncong pistol Zha sudah menempel di pelipis pria tersebut, mengakibatkan beberapa pria lain nya bergerak pelan , memilih meninggalkan ruangan dan hanya tertinggal beberapa anak buat Afrizal yang juga langsung mencabut pistol mereka.

__ADS_1


Bersambung...!!!!


__ADS_2