"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Baby Azz.( Halilintar)


__ADS_3

Hari itu, Azkayra sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter Lisa. Perawatan akan di lanjutkan di Rumah utama. Dengan sangat bahagia Hanzero berkemas di bantu Arwan dan juga Berlinda.


Ia terus mendekap sang Hanz Juniornya dengan tatapan mesra pada mata jagoan cilik nya yang mungil itu.


Setelah semua siap,mobil mereka pun segera meninggalkan Rumah Sakit itu perasaan yang begitu bahagia.


Hanz duduk di jok belakang bersama Azka dengan memangku sang buah hatinya, sementara Berlinda duduk di depan bersama Arwan yang mengemudi.


Tak lama setelah melintasi jalan aspal hitam itu, mobil mereka telah memasuki halaman luas milik Rumah Utama keluarga Samudra. Di sambut puluhan penjaga dan juga pelayan dengan ucapan Selamat yang menggebu dari mulut mereka mengelu elukan Calon Tuan muda mereka. Hanz menuruni mobil dengan senyum lebar menatap mereka.


Hanz mengulurkan sang buah hati nya kepada Berlinda yang dengan sigap mengambil alih menggendong tuan muda kecil nya. Sementara Hanz membopong istri nya untuk membawa nya masuk menuju kamar nya.


Hanz menaiki tangga dan melangkah masuk ke kamar , dengan hati hati ia menempatkan tubuh Azka di ranjang dengan posisi duduk bersandar pada beberapa bantal yang telah di tumpuk.


Lalu Hanz segera mengambil Jagoan cilik nya dari tangan Berlinda yang setia mengikuti mereka di belakang.


Setelah menyerahkan Bayi Tuan nya, Berlinda pun segera pamit .


"Putra ku, Selamat datang di rumah. Ini adalah Rumah mu. Tempat kau nanti harus berjuang meneruskan perjuangan kami dan usaha Papa mu untuk menjaga Mama mu." ucap Hanz meletakkan jari telunjuk nya pada pipi merah Sang jagoan cilik nya dan memainkan nya gemas.


"Hanz, aku harus menyusui nya. Kemari kan dia, berikan padaku." Pinta Azka.


Hanz pun menghampiri Istrinya,


"Apa sudah keluar Asi nya.?" tanya Hanz.


"Tidak tau juga, tapi sepertinya sudah."


"Kau bisa caranya.?" tanya Hanz sembari duduk di samping Azka.


"Belum.!" sahut Azka .


"Kau tidak pernah membaca buku panduan nya Azka.?" kembali Hanz bertanya.


"Bagaimana aku membacanya, kau selalu menyimpan nya entah kemana. Jika aku bertanya kau selalu berbelit belit. " sahut Azka sedikit kesal.


"Ah, ya . Ini memang salahku. Baik lah , aku akan mengajari mu kalau begitu." ucap Hanz merasa jika selama ini memang dia tidak pernah ingin Azka membaca buku panduan wanita hamil apapun karena takut Azka akan terganggu pikirnya.


"Begini cara memegang bayinya." ucap Hanz menata letak bayi nya di pangkuan Azka, dengan menaruh lengan kiri Azka di bawah kepala bayi nya lalu mulai membuka baju Azka dan mengeluarkan sebelah dari payyudara Azka.

__ADS_1


"Hanz, bagiamana ia akan menghisap jika bentuk nya seperti ini..? Apa bisa.?" Azka menyentuh ujung nya yang memang terlihat masih ranum itu dengan tangan kanan nya.


"Kau harus melakukan sesering mungkin, nanti akan tumbuh sendiri." jawab Hanz tersenyum melihat istrinya yang masih sangat polos untuk pertama kali nya harus menyusui bayi mereka.


"Dari mana kau tau Hanz,? " tanya Azka sedikit heran dengan pengetahuan suami nya yang terlihat seperti sudah berpengalaman saja.


"Tentu saja dari buku, kau pikir dari mana hah.!" jawab Hanz.


"Oh, ku pikir kau pernah melihat milik orang lain."


"Kau ini,. sudah menjadi ibu ibu juga masih menggemaskan sekali. " Hanz mencubit lembut pipi Azka.


"Siapa tau." seronok Azka.


"Punya ibu ku saja yang pernah menyusui ku , aku sudah lupa bagaimana bentuk nya." jawab Hanz.


Dengan bantuan Hanz, akhirnya Azka bisa menyusui bayi mereka walau harus dengan susah payah melakukan nya. Bayi Hanz terlihat mulai lahap menyedot Asi milik Mama nya itu.


"Ahhrg..!!" rintih Azka sambil menahan payyudaranya.


"Azka,.?" Hanz seketika panik melihat ekspresi wajah Azka yang meringis seperti menahan sesuatu.


"Pedih Hanz, seperti lecet rasanya." jawab Azka.


"Karena belum terbiasa sayang..! Nanti setelah terbiasa tidak akan lagi. Kau harus bisa menahan nya. Bukan kah kau sendiri yang menginginkan untuk memberi nya ASI Eksklusif.?" ucap Hanz, Azka hanya tersenyum getir dan terus melanjut kan nya sambil terus meringis.


"Hanz, apa kau akan mengadakan pesta untuk nya.?" tanya Azka.


"Aku hanya ingin mengadakan syukuran kecil kecilan di rumah ini saat pemberian namanya saja.. Tidak ada pesta besar untuk nya." jawab Hanz.


"Kenapa..? Kau tidak senang dengan kehadirannya.?" tanya Azka tercengang dengan ucapan Hanz.


"Kau ini.. Aku justru senang sekali. Sangat senang. Tapi menurutku dari pada mengadakan pesta besar besaran yang hanya akan mengundang keriuhan tak berguna lebih baik kita menyantuni panti asuhan untuk bentuk rasa syukur kita. Aku akan melakukan itu, memberi sedekah pada para asongan dan pedagang kaki lima juga para pengemis. Lalu memberi bonus pada para pelayan rumah utama dan juga karyawan perusahaan Samudra


Bagaimana.? Apa kau setuju.?" Hanz menjelaskan panjang lebar.


"Hanz, hati mu begitu Mulya. Aku benar benar terharu mendengar nya. Hiks...hiks..." Azka menatap terisak suami nya.


"Aku ingin melakukan yang terbaik untuk kalian berdua. Apa kau tau, hidup ku sungguh sangat berarti setelah menikahi mu, dan sekarang semakin berarti setelah kau melahirkan nya untuk ku." ucap Hanz meraih tengkuk istrinya dan mengecup berkali kali kening nya.

__ADS_1


"Terimakasih Azka, terimakasih.!" bisik Hanz.


"Istirahat lah Azka, ku rasa ia sudah cukup menyusu nya. Aku akan menyiapkan makan untuk mu. Kau harus banyak makan makanan yang bergizi agar ASI mu cepat lancar." ucap Hanz mengambil bayi nya dan meletakkan nya pada ranjang bayi yang telah ia siapkan jauh jauh hari sebelum hari ini.


"Hanz, apa kau sudah menyiapkan nama untuk nya,?" tanya Azka.


"Tentu saja sudah." jawab Hanz yang masih menatap wajah mungil bayi nya.


"Boleh aku tau.?"


"Halilintar." ucap Hanz mengelus lembut pipi merah si mungil yang sudah terlelap itu.


"Apa..? Kenapa kau memberi nama Anak ku dengan nama seseram itu Hanz.?" protes Azka sangat tidak menyukai nama pemberian Hanz itu.


"Itu nama yang sangat aku ingin kan dari dulu jika aku mempunyai seorang anak laki laki. Nama yang akan membuat pemilik nya di takuti semua orang dan menjadikan nya sekuat dan sehebat namanya." jawab Hanz dengan mantap nya.


"Kenapa harus sejelek itu.?"


"Kau boleh menambahi nama belakang nya, dengan nama kita dan keluarga Samudra." ucap Hanz menoleh pada Azka.


"Tapi aku tidak suka nama itu.? Harus di panggil apa coba..? Halilintar... Halilintar itu sesuatu yang paling aku takuti Hanz. !" Azka masih saja memprotes nya.


"Beri aku nama lain, agar aku bisa memadukan nya. Karena kali ini aku tidak akan mengubah niat ku untuk memberi nama itu pada nya." jawab Hanz dengan bersikukuh.


Pria itu melangkah keluar kamar untuk menemui pelayan agar menyiapkan menu makan untuk sang istri. Hanz pun sengaja memberi waktu Azka untuk memikirkan nama belakang bayi mereka.


Azka terdiam saja, tidak ingin lagi protes pada Hanz, meski ia sama sekali tidak suka tapi ia tidak ingin berdebat dengan suami nya yang terlihat sangat menyukai nama itu.


\_ Azzero Halilintar Samudra\_



(Baby Azz)


Nama panjang yang terpikir oleh Azka.


_________________________________________


Maaf kan Author, jika karya ini mulai beralur lambat. Lagi lagi Sinyal yang jadi penghalang. Tetap dukung Mereka dengan like komen dan Vote dari kalian...!!

__ADS_1


Karena Musim kedua mereka akan segera dirilis juga dengan kisah yang lebih menantang dan menarik lagi.


__ADS_2