"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Benar kah..?


__ADS_3

Pagi itu di ruang depan Rumah Utama tampak meriah, semua pernak pernik perhiasan pelaminan tertata dengan apik dan megah.


Kursi berderet dan hidangan serba ada pun telah tersedia.


Bunga bunga nan indah pun menghiasi pelaminan yang bernuansa serba putih itu.


Hari menjelang siang, para Tamu undangan pun sudah mulai berdatangan. Sambil berbisik mereka mulai mengambil posisi masing masing.


"Kita datang bukan untuk pesta pernikahan, tapi untuk menguatkan hati Nona Azkayra yang terguncang ." bisik seseorang.


"Benar, semoga Nona kuat dan bisa menerima kenyataan ini. Dan semoga Nona cepat menyadari nya." sahut salah satu nya.


"Kita doakan yang terbaik untuk mereka."


Kembali mereka terdiam dan berbisik dalam hati masing masing. Mereka mengerti dan mungkin memang di paksa untuk mengerti dengan keadaan ini.


Penghulu pun sudah tiba dan langsung mengambil posisi ,duduk di tempat yang sudah di siapkan.


Sebelum nya Penghulu itu sudah di beri pengertian. Dia datang bukan untuk menikahkan calon pengantin melainkan untuk memberi saksi seorang wanita yang sedang terpukul jiwanya. Ia datang untuk sekedar memberi dorongan mental.


Tak ada yang Penghulu itu tunggu, selain dari pada waktu di mana sang Nona Azkayra lelah dengan penantian nya dan mengaku menyerah..! Lalu berharap Sang Nona sadar , dan mau menguatkan diri untuk menerima kenyataan yang ada.


Di dalam kamar, Azka melucuti kebaya yang sudah di pakai nya.


"Aku tidak mau memakai kebaya Berlinda.. Aku ingin langsung memakai Gaun saja." jerit Azka.


"Tapi Nona, ijab qobul itu memakai kebaya bukan Gaun. Gaun ini di pake nanti saat resepsi. Setelah ijab qobul selesai." sahut Berlinda mencoba menjelaskan.


"Kenapa kau sekarang selalu membantah ku Hah.! Ini sudah sangat terlambat. Hanz akan marah jika melihat ku belum memakai Gaun yang ia ingin kan? Aku tidak mau ia marah padaku untuk yang kedua kalinya." bantah Azka.


"Cepat pakai kan Gaun itu..! "


"Baik Nona." jawab Berlinda ,tak ada pilihan selain menuruti Nona nya.


Semua yang ada hanya bisa diam dan patuh. Meski hati mereka teriris perih melihat Nona nya yang sangat depresi.


Azka menatap wajahnya di cermin, begitu Anggun dan mempesona dengan Gaun berwarna putih dan Aksesoris manis yang ia kenakan itu. Bibir nya nampak tersenyum menambah kecantikan nya.


"Aku sudah siap Berlinda." ucap nya.


"Mari Nona.!" Berlinda membuka kan pintu.


Azka melangkah dan di iringi beberapa pelayan lain nya.


Semua Tamu yang ada berdiri menyambut kedatangan Azkayra yang terus melangkah.


Semua mata pun terpana akan ke cantikan nya.


Ginanjar Samudra langsung menyambut Putri nya dan membawa nya melangkah dan mempersilahkan duduk di depan penghulu.


Hening...


Detik demi detik berlalu tanpa perubahan. Semua hanya tenggelam dalam kebisuan.


Pesta itu berjalan bukan dengan meriah, melainkan dengan mencengkam dan haru disertai tetesan air mata bagi yang tidak kuat melihat keadaan Azkayra.


Jam pun mulai berganti, tetap saja tak ada perubahan. Para tamu mulai gelisah, menggeser bokong mereka yang panas.

__ADS_1


Azka masih setia duduk dan sesekali menoleh ke arah pintu, berharap seseorang muncul di sana. Tapi harapan nya mulai kandas ketika jam sudah menunjuk kan pukul 17:30.


Para undangan mulai berkurang. Mungkin mereka lelah dan bosan sehingga memutus untuk pulang , satu persatu mereka beranjak dengan hanya berpamitan pada Bimo dan Arwan saja tanpa berpamitan dengan Ginanjar yang masih duduk di sana di samping Putri nya.


Kini hanya tampak beberapa tamu saja yang masih bertahan di sana.


"Nona, jika belum siap, kita bisa melanjutkan acara ini besok saja. Bagaimana. Nona juga pasti lelah bukan..?" ucap Sang Penghulu mencoba memberi pengertian.


"Tunggu sebentar lagi pak.. Lima belas menit. Bagaimana.?" jawab Azka.


"Baik lah. Saya akan menunggu." jawab Sang Penghulu.


Ginanjar hanya bisa berlinang air mata, sungguh hati nya hancur berkeping keping melihat Putri nya seperti ini.


"Putri ku, bagaimana jika kita lanjut kan besok.? Mungkin Hanz belum siap untuk hari ini." bisik Ginanjar.


"Tidak Ayah, Hanz pasti pulang. Hanz berjanji akan menikahi Azka hari ini, bersabar lah. Mungkin Hanz terlambat karena harus bersiap." jawab Azka membuat semua orang yang ada makin meneteskan air mata.


Ginanjar tidak bisa menjawab.


"Ayah, bisa kah kau menyimpan ini. Beri kan pada Hanz jika ia datang nanti." Azka menyodorkan kotak cincin milik Hanz pada Ginanjar.


"Pasti Azka, ayah akan menyimpan nya. Tadi nya kan memang ayah yang menyimpan ini sebelum Ayah berikan pada Hanz." sahut Ayah nya segera menerima nya.


Lima belas menit telah berlalu, suasana pun masih sama . Hening.


"Bagaimana Nona,? Apa kita masih akan menunggu.?" tanya Sang Penghulu.


Azka terdiam , ia menunduk. Air mata nya kini menetes.


kau benar benar marah padaku Hanz,? Kau tidak datang memenuhi janji mu. Kau sendiri yang mengabaikan hari ini. Baik lah Hanz , ini sudah menjadi keputusanmu.


Ginanjar menelan ludah kasar nya. Begitu juga Bimo Arwan ,Berlinda dan tentu nya Annabel. Tidak ada yang tidak terisak.


"Baik lah pak, jika anda sudah lelah. Anda bisa pulang sekarang." ucap Azka mengangkat wajah nya.


"Saya tidak lelah Nona, tapi ini sudah hampir Magrib, Nona pasti lelah dan butuh istirahat. Nona harus sabar dan kuat ya.. Semua pasti ada hikmah nya. Nona harus bisa menerima apapun yang sudah di tentukan Tuhan dengan hati yang lapang . Percaya lah, Allah memberi ujian tidak akan melampaui batas kekuatan hamba nya." tidak disangka Ucapan Penghulu itu mampu menyentuh hati Azka.


Azka mengangguk, "Maaf, sudah merepotkan Anda."


"Tidak ada yang direpotkan Nona, yang penting Nona harus kuat ,kami semua akan ikut kuat." jawab Sang Penghulu.


Lagi lagi Azka hanya mengangguk.


"Baik lah, kalau begitu saya permisi dulu ya Nona, Tuan Ginanjar." ucap Penghulu itu berdiri dari duduk nya.


"Baik Pak, terimakasih atas waktu nya ." Jawab Ginanjar.


Penghulu pun mengangguk dan melangkah.


"Tunggu....!!!" suara yang tidak asing itu menggema di dalam ruangan.


Semua kepala menoleh menatap ke arah suara.


"Tuan Hanzero..!!" jerit Arwan .


Hanzero telah berdiri di depan pintu masih dengan pakaian pasien nya.

__ADS_1


Tidak ada yang bergerak dari tempat nya, semua terkejut dan seperti sedang berkhayal. Benar kah...? Atau ini hanya bayangan..? Itu lah pikiran semua orang.


Hanya Azka yang tiba tiba berdiri dengan kaki nya yang lemah, di topang Ayahnya.


"Hanz..!!" desis nya lirih.


Hanz melangkah, bukan menghampiri Azka melainkan ia menghampiri Arwan.


"Lepas kemeja mu." ucap nya.


Dengan masih setengah sadar Arwan segera melepas kemeja putih nya.


Hanz pun langsung melepas baju pasien nya dan melempar nya ke Arwan. Ia segera meraih kemeja Arwan dan mengenakan nya, kemudian Hanz melangkah menghampiri Azka.


"Azka, maaf kan aku. Aku terlambat." ucap nya meraih tangan Azka yang masih terpaku.


"Hanz, kau benar benar datang.?" sahut Azka masih setengah sadar.


"Iya Azka, aku tidak mungkin mengecewakan mu." Hanz meraih tengkuk Azka dan mencium keningnya.


"Hanz .. Kenapa kau membiarkan kami kering menunggu mu.?" Azka yang tersadar jika ini bukan lah mimpi langsung memeluk Hanz dengan isakan tangis nya .


"Maaf.." jawab Hanz.


Ginanjar yang mulai tersadar pun langsung menyuruh mereka duduk.


"Mari duduk. Pak Penghulu bagaimana ini, apa kah acara ijab qobul bisa di mulai sekarang.?" Ginanjar menatap Sang Penghulu.


"Baik Tuan, kita memang harus memulai nya sekarang." Sahut Sang Penghulu itu, rasa lelah dan penat nya langsung sirna seketika.


Hanz dan Azka kini duduk di hadapan penghulu.


Ijab qobul pun di mulai dengan sangat khidmat. Semua orang terharu. Ucapan ijab qobul dari mulut Hanz dan di akhiri kalimat syahadat pun berkumandang.


Semua orang berdiri,bahkan tanpa sadar mereka saling berpelukan dengan orang disebelah nya.


Seperti Arwan yang kini terpaksa memakai baju rumah sakit bekas Hanz tiba tiba memeluk Bimo yang ada tepat disampingnya. Semua terisak. Bahagia haru dan merasa bahwa ini lah keajaiban Tuhan yang sebenarnya.


Kekuatan Cinta mereka mampu mengalahkan segalanya.


Kini Hanz telah selesai menyematkan cincin pernikahan nya di jari Azka, sesaat setelah Ginanjar memberi kan Kotak cincin milik nya yang di simpan Ginanjar, begitu juga Azka telah selesai menyematkan Cincin ke jari tangan kekar milik Hanz.


Bulir air mata berjatuhan di pipi Azka yang terus menatap wajah pria yang kini sudah menikahi nya itu.


Tangan Hanz menyentuh pipi Azka dan menyeka air matanya.


"Maaf kan aku, sudah membuat mu terus menangis." bisik Hanz.


"Aku mencintai mu Nona..!!" ucap Hanz mengecup panjang dahi Azka.


______________


POV Author :


"Jangan lupa untuk terus mendukung Hanzero dan Azkayra.. karena Kisah mereka masih akan terus berlanjut.


Dan jangan lupa untuk tinggal kan komentar kalian di bawah ya...??"

__ADS_1


Terimakasih...


__ADS_2