
Setelah semalam di adakan pesta yang hanya di rayakan bersama para pelayan dan penjaga serta seluruh penghuni Rumah utama, Pemberian nama Putra nya telah di resmikan dengan di datang kan seorang Ustad untuk menjadi pemimpin doa syukuran pemotongan rambut Tuan muda Halilintar.
Hari ini Hanzero menepati janji nya.
Kini, dia sudah berada di perusahaan nya dengan mengumpulkan seluruh karyawan perusahaan nya dari segala pekerjaan.
Ia membagikan amplop coklat berisi dua bulan penuh gaji mereka di hitung besar gaji masing masing karyawan di perusahan itu untuk bentuk rasa syukur nya atas kelahiran sang Halilintar nya yang telah ia siap kan semalaman di bantu Annabel dan Arwan dan sebagian sudah di berikan pada Penghuni Rumah utama.
Di sambut tepuk tangan dan terimakasih yang berkali kali dari mulut seluruh karyawan nya serta ucapan selamat dan doa mereka agar Allah SWT selalu meridhoi kehidupan keluarga Samudra dan tentunya Tuan Muda Halilintar.
"Selamat Tuan Hanzero dan Nona Azkayra atas kelahiran Tuan muda. Semoga panjang umur dan sehat selalu, serta tetap jaya selamanya." riuh panjatan doa mereka pun menggema di Aula pertemuan Gedung Perusahaan Samudra.
Senyum kebahagiaan Hanz mengembang mengiringi langkah nya meninggalkan mereka yang masih sibuk membuka dan menghitung jumlah Bonus yang mereka terima dadakan itu.
"Aku dapat dua bulan gaji ku." ucap seorang karyawati.
"Aku juga." timbal yang satu nya.
"Sungguh tidak menyangka jika Tuan Hanzero semulya itu ya.."
"Senang nya aku... Menerima uang cuma cuma. Seharusnya aku bekerja dua bulan dulu baru bisa mendapatkan uang sebanyak ini dan ini aku menerima nya tanpa bekerja." ucap salah satu sari mereka.
"Tuan Hanzero lebih memilih membagi bagikan uangnya pada kita dari pada harus mengadakan pesta besar untuk Putra nya. Ia benar benar ingin membagi kebahagiaan nya pada kita semua." jawab seorang lagi.
"Tidak ku sangka, dulu hanya seorang sekretaris dan kini menjadi Pemimpin. Tapi sifat nya sama sekali tidak berubah sombong atau congkak sedikit pun. Malah semakin peduli dengan kita. Pria yang baik dan beruntung." seorang dari mereka memuji Hanz.
"Meskipun seorang sekretaris , dulu Tuan sudah di anggap anak oleh Tuan besar. Wajar saja setelah menikahi Nona Azkayra Tuan Hanzero di beri kepercayaan penuh. Karena dia orang yang baik dan pantas untuk di andalkan di perusahaan ini." sahut temannya.
"Kamu benar, Tuan memang pantas mendapatkan nya. Dan juga aku dengar dengar, saham orang tua Tuan itu sama besarnya dengan saham orang tua Nona di perusahaan ini , meski begitu dulu Tuan tetap menerima pekerjaan nya walau hanya di jadikan seorang sekretaris. Ternyata Tuan Ginanjar sudah punya rencana khusus untuk Tuan Hanzero." jelas yang lain.
"Dan sekarang terbukti, di tangan Tuan kita yang sekarang Perusahaan semakin maju dan jaya." sahut teman yang satu nya.
Itulah , bincang bincang dan bisik bisik sebagian dari karyawan dan karyawati perusahaan Samudra yang tak henti nya memuji Hanz dan bersyukur dengan kepemimpinan Hanzero.
Bukan hanya menghormati dan mengagumi, mereka bekerja dengan sepenuh hati untuk Perusahaan Samudra.
Karena mereka selalu menganggap jika perusahan ini lah yang bisa memberi mereka ruang kehidupan yang baik untuk mereka melanjutkan masa depan mereka. Mereka selalu menjaga kepercayaan Pemimpin nya untuk bekerja dengan sungguh sungguh tanpa sedikitpun ingin mengecewakan sang pemimpin.
Hanzero yang sudah duduk di kursi kebesaran nya dengan bibir yang masih senantiasa tersenyum itu menarik nafas lega.
Menatap dua orang kepercayaan yang masih berdiri di hadapan nya.
"Sekarang kalian ikut aku, janji ku belum terbayar semua."
"Kemana Tuan.?" tanya Annabel.
"Tak usah banyak tanya Nenek lampir..Ikut saja." sahut Arwan menyambar tas hitam di atas meja kerja Tuan nya.
"Mari Tuan." ucap Arwan. Hanz pun segera melangkah keluar.
Dengan bibir yang maju ke depan hampir bisa di ikat karet, Annabel mengikuti langkah dua pria gagah di hadapan nya itu.
__ADS_1
Lama berselang Mobil Mercedez hitam milik Hanz berhenti di pinggiran kota tepatnya di sebuah komplek yang kumuh.
Hanz tidak bergeming dari mobil nya , hanya Arwan yang terlihat menuruni mobil dan melangkah menemui seseorang.
Tak lama setelah itu, deretan manusia mengantri tepat di depan pintu mobil Hanz.
Sambil tersenyum dengan membuka suara sedikit mengutarakan niat nya Hanz lalu mengulur kan amplop satu persatu pada mereka yang mengantri, dan Berlinda pun membantu Hanz karena terlalu banyak nya antrian. Sementara Arwan sendiri berada di luar mobil mengawasi dengan seksama siapa siapa yang sudah dan belum mendapat kan amplop.
Lama mereka menghabiskan waktu di sana, Arwan segera membawa Tuan nya kembali setelah usai bagi bagi rejeki di komplek kumuh itu.
Di sepanjang jalan pun, Hanz menyuruh Arwan berhenti di setiap melihat pedagang asongan atau pedagang kaki lima, untuk menghabiskan sisa amplop nya.
Sekian lama di perjalanan,akhirnya mobil mereka berhenti di depan sebuah panti Asuhan.
Mereka bertiga menuruni mobil, dan menyapa seorang satpam. Arwan mengutarakan niat nya untuk bertemu dengan pemilik Panti. Tak lama pun, sang pemilik panti keluar menemui mereka.
"Tuan Hanzero. Selamat datang. Mari silahkan." sambut Seorang ibu pemilik panti yang sudah sangat mengenal Hanz, mempersilahkan mereka masuk.
Hanz mengenal ibu itu, ternyata Hanz beberapa tahun ini sudah menjadi donatur tetap Panti Asuhan itu.
"Di sini saja Bu, kami buru buru." jawab Hanz.
"Ada apa Tuan, ? Seperti nya ada sesuatu yang penting.?" tanya Ibu itu sedikit heran saja.
Biasa nya Hanz akan masuk dan duduk dulu walau hanya sebentar.
"Kedatangan saya kali ini, saya ingin membagi sedikit rejeki untuk para anak anak panti Bu, ini adalah bentuk rasa syukur saya atas kelahiran Putra saya. Mohon doa dari kalian semua." Ucap Hanz seraya mengulur kan Amplop yang terlihat cukup tebal itu.
"Alhamdulillah.. Terimakasih Tuan Hanzero. Dan semoga Allah selalu melindungi keluarga Tuan dan melimpahkan Rahmat dan Ridho nya." sambung ibu pemilik Panti itu.
"Iya Bu, terimakasih atas doanya. Kami harus pamit dulu. Masih ada pekerjaan yang harus kami tinggal tadi."
"Oh ya Tuan, baik lah. Sekali lagi terimakasih Tuan . Dan selamat atas Kelahiran Putranya . Semoga menjadi anak yang Sholeh dan berbakti kepada kedua orang tuanya."
"Amin... Amin Bu.." sahut Hanz, melangkah meninggalkan pemilik panti yang terus mengucapkan rasa syukurnya atas rejeki besar yang di terima nya itu.
Di dalam mobil yang melaju kencang, berkali kali Annabel menggeleng kepalanya. Dalam pikiran nya berapa milyar Tuan nya harus menghabiskan uang nya. Atau malah Triliun..?
Ah, jika saja aku punya uang sebanyak itu , aku pasti sudah membeli helikopter pribadi dan sebuah pulau.
Annabel terkekeh memikirkan khayalan nya.
"Tuan, kira kira Anda menghabiskan uang berapa ya untuk semalam dan hari ini.?" celetuk Annabel dari belakang.
Melihat Tuan nya hanya tersenyum tanpa menjawab , Arwan yang menoleh ke arah Annabel.
"Banyak..! Mungkin beberapa milyar. Apa kau tau , semalam tangan ku hampir keseleo membagi bagi uang itu dalam amplop amplop itu." sahut Arwan.
Hanz terkekeh. "Tidak akan bisa menandingi apa yang sudah ku dapatkan."
"Benar, selain mendapat kan istri yang begitu cantik dan mencintai Tuan, Tuan juga mendapatkan penerus perusahaan Samudra. Ah, pasti sangat bahagia rasanya." sahut Arwan.
__ADS_1
"Sekarang giliran kalian yang harus memikirkan masa depan kalian. Apalagi kau Annabel. Apa hidup mu akan berakhir begitu saja tanpa garis keturunan hah..!" canda Hanz kini menoleh ke Annabel.
"Benar tu, Annabel. Kau harus secepat nya menikah. Jika tidak tahun depan aku akan memasuk kan mu ke dalam monumen . Kau akan jadi barang antik di sana untuk selama lamanya." sahut Arwan.
Hanz terbahak mendengar kelakar Arwan.
"Kau pikir aku barang, dasar songong. Sebentar lagi aku menikah. Awas saja ya kalau kau tidak mengado ku suatu yang berharga." jawab Anabel geram dengan ejekan Arwan.
"Kalau kau benar benar menikah , Nona akan memberimu hadiah Rumah Annabel." ucap Hanz.
"Hah.!!! " Arwan melotot.
"Benarkah Tuan.?" Annabel pun ikut melotot dengan ucapan yang baru saja di dengar nya.
"Aku mendengar berkali kali dari mulut Nona sendiri. Jika Kau Arwan dan Berlinda menikah maka hadiah kalian adalah Rumah. Mungkin karena Nona sangat menyayangi kalian." ucap Annabel lagi.
"Kalua begitu aku akan segera menikah Tuan." jawab Arwan penuh semangat.
"Tidak bisa. Aku harus duluan Arwan. Kau itu masih muda, jalan mu masih panjang." sahut Annabel.
"Justru yang tua itu mengalah Annabel.!" ucap Arwan.
Mobil itu di penuhi gelak tawa keriangan mereka bertiga.
"Kita kemana tuan..?" tanya Arwan setelah lelah dengan tawanya.
"Antar aku pulang dulu, aku sudah ingin bertemu jagoan ku. Setelah itu kalian bisa kembali ke kantor. " jawab Hanz yang hati nya sudah di penuhi gelora rindu pada sang Halilintar kecil nya.
"Baik Tuan.!" Arwan pun melajukan mobil kearah Rumah Utama.
Bersambung.!!
__________________________________________
Perhatian.
Musim kedua kemungkinan akan di lanjutkan di sini juga. Dengan judul.. **Gadis pecinta Asap dan Halilintar.
MC akan berubah , dari orang luar keluarga Samudra. Seorang gadis perokok yang berdarah dingin, hobi mencopet dengan keahlian meRetas komputer dan meng Hack seluruh akun. Profesi nya sebagai pembunuh bayaran, yang mampu membunuh tanpa harus menyentuh** korban nya. Ia akan masuk kedalam keluarga Samudra , entah sebagai apa, pembunuh yang menghancurkan atau pelindung keluarga Samudra .?
Tetap simak part part terakhir mereka dan kelanjutan Musim Kedua.
Karena di sana akan muncul dan berdatangan kembali musuh musuh keluarga Samudra.
Zha ( Julukan Gadis pecinta Asap.)
Azze ( Halilintar)
__ADS_1
Terimakasih....!!