"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Jatuh cinta lagi pada pria yang sama.


__ADS_3

"Nona .. Nona pingsan Tuan." ucap Berlinda dengan gugup.


Tanpa bertanya lagi Hanzero langsung berlari ke kamar Azka, betapa terkejut nya Hanz melihat Azka yang masih terkapar di lantai di dekat lemari nya.


"Ya Tuhan, Azka...!!!" Hanz langsung meraih tubuh itu dan memeluk nya.


"Azka, kau kenapa..? Ya Tuhan... Jangan beri penderitaan pada istri ku, ku mohon Tuhan...!!" bisik nya lirih.


Sementara Berlinda hanya bisa terisak menyaksikan Tuan nya yang nampak sangat khawatir itu.


"Maaf kan saya Tuan, ini kesalahan saya. Saya teledor." ucap Berlinda begitu menyesal.


Hanz tak menjawab ,lalu ia membopong tubuh Azka dan membaringkan nya di ranjang.


Memandang wajah istrinya yang terlihat pucat itu.


"Apa yang terjadi.?" kini Hanz beralih menatap Berlinda.


"Nona .. Saya sudah berusaha mencegah nya Tuan, Saat Nona ingin membuka lemari, tapi Nona memaksa. Nona melihat baju baju Tuan, dan .. dan Nona berusaha mengingat, lalu Nona pingsan begitu saja. Karena saya panik saya langsung berlari memanggil Tuan." Berlinda menjelaskan dengan penuh ketakutan.


"Kenapa kau bisa seceroboh itu Berlinda.!!" Hanz menjampak rambut nya sendiri.


"Maaf kan saya Tuan, maaf. Hukum lah saya tuan . Ini memang kesalahan saya.Saya sudah mengatakan jika saya salah menaruh, tapi Nona tidak percaya. Nona malah bertanya, apa Tuan Hanzero benar suami Nona. Saya tidak bisa menjawab nya." Berlinda kini berlutut di hadapan Hanz.


"Apa kau tau yang ku khawatirkan Berlinda, jika luka di dalam kepala Nona Azka kembali mengalami pendarahan, ini bisa berakibat fatal, Nona bisa mengalami kelumpuhan.. !!!!!" Hanz benar benar frustrasi.


"Maaf Tuan.. Maaf.!! Saya salah.!!" kembali Berlinda memohon tanpa berani mengangkat wajahnya.


"Sekarang juga, pindah kan semua barang barang ku yang ada di dalam kamar ini. Pindahkan semua.. !! Jangan ada yang tersisa satu pun. Panggil beberapa pelayan untuk membantu mu.!!" Perintah Hanz , Berlinda pun tanpa berani membantah langsung mengangguk dan bergegas untuk segera memanggil teman nya guna membantu nya untuk memindahkan semua barang milik Hanzero.


Hanz lalu melangkah membuka lemari , ia mengeluarkan seluruh pakaian dan barang milik nya dari sana dan memasuk kan di dalam koper koper besar. Tak lama Berlinda datang bersama dua pelayan wanita.


"Cepat bawa ke kamar ku. Dan cari yang lain lagi. Apapun itu yang menyangkut aku bawa keluar dari kamar ini." ucap Hanz.


Mereka pun langsung memeriksa laci meja dan seluruh yang ada di kamar Azka untuk menyingkirkan barang barang yang menyangkut Tuan Hanzero nya, bahkan kamar mandi pun tak luput dari pemeriksaan mereka.


"Sudah Tuan,." ucap Berlinda.


"Baiklah , sekarang keluar lah . Biar aku yang menjaga Nona." sahut Azka.


Mereka meninggalkan kamar Azka dan membawa seluruh barang Hanz untuk menaruh nya di kamar Hanz.



Berlinda menarik koper itu ke kamar Hanz dan menata kembali di lemari yang ada di kamar tersebut dengan bantuan dua temannya.


"Kasian Tuan Hanzero ya. ?" bisik salah satu teman nya.


"Iya, semoga saja Nona segera sembuh. Aku sungguh tidak tega melihat ujian mereka yang seberat ini." sahut yang satu nya lagi.


Berlinda hanya terdiam mendengar ucapan kedua teman nya, hati nya lebih sedih dan hancur dari pada mereka. Setiap saat ia harus menyaksikan bagaimana Tuan Hanzero nya tersiksa saat di dekat Nona nya. Di marahi bahkan di caci oleh Nona Azka nya , yang dulu padahal selalu memuji dan sangat menyayangi tuan Hanzero nya bahkan menggilai nya.


Keadaan sekarang begitu terbalik.


Beralih ke Hanz, ia masih duduk di samping Azka. Menatap khawatir wajah istri nya. Dalam kekhawatiran nya itu, ia kemudian mengingat sesuatu.


"Aku harus menghubungi Dokter Abraham. Azka bertahan lah." Hanz langsung merogoh Hp nya dan menggeser layar untuk menghubungi kontak dokter Abraham.


Namun Hanz melihat Azka menggerakkan tangan nya.


"Hanz..!!" ucap Azka lirih ketika membuka matanya dan melihat Hanz ada di samping nya.


"Nona, kau sudah sadar.? Apa yang Nona rasakan.? Saya akan memanggil dokter Abraham untuk memeriksa Nona."


"Tidak perlu Hanz. Aku baik baik saja." sahut Azka.


"Jangan banyak bergerak Nona." Hanz mencegah Azka yang hendak bangun.


"Bantu aku, aku ingin duduk." Azka meraih tangan Hanz.


Dada Hanz langsung berdebar kencang ketika Azka menggenggam erat lengan nya.


Azka, apa ingatan mu sudah kembali.?


Hanz menatap mata indah istri nya yang juga menatap nya, sesaat kedua nya saling menatap.


"Hanz, bantu aku." ucap Azka.


"Mari.!" Hanz baru tersadar dan segera meraih tubuh Azka untuk membantunya duduk.


"Aku haus."


"Tunggu sebentar." Hanz melangkah meraih gelas yang berisi air putih yang terletak di meja lalu menyodorkan nya pada Azka.

__ADS_1


Azka menerima nya lalu meneguk nya, dan mengembalikan kembali gelas itu pada Hanz.


"Kemana Berlinda, Kenapa kau yang ada di kamar ku.?" tanya Azka, membuat Hanz harus menelan kekecewaan , saat ia mengira jika Azka sudah mengingat nya.


"Mungkin di dapur Nona, tadi Nona pingsan dan Berlinda memanggil saya untuk menolong Nona." sahut Hanz menggeser kaki nya sedikit menjauh dari ranjang.


Azka beranjak dari ranjang nya dan melangkah.


"Nona, istirahat dulu, Nona masih lemah." Hanz langsung berusaha mencegah Azka yang tak mempedulikan nya. Azka terus melangkah mendekati lemari baju nya dan kembali membuka nya. Mata nya terus mencari sesuatu yang kini tidak ditemukan nya.


"Nona mencari apa.?" Hanz mendekati Azka.


"Kemana baju baju mu yang tadi ada disini.? Kenapa sekarang tidak ada satu pun.?"


"Tidak ada baju saya di sini Nona, mungkin Nona salah melihat." sahut Hanz.


"Kau pikir aku sudah tidak waras sampai salah melihat..?" bentak Azka.


"Tapi memang tidak ada Nona, sungguh. Mungkin ini karena sakit Nona belum sembuh total. Nona jadi salah melihat.?" Hanz berusaha untuk mengelabuhi Azka.


"Kenapa kalian memperlakukan aku seperti anak kecil.?" kini Azka menatap tajam ke arah Hanz.


"Nona, jangan bicara seperti itu."


"Hanz..!!" Azka tiba tiba meraih tangan Hanz.


"Katakan padaku yang sebenar nya. Kata kan Hanz.. Katakan siapa kau sebenarnya..??" kini Azka menangis dan ambruk terisak di dada Hanz.


Ia terus terisak sambil memukul mukul dada Hanz.


"Katakan Hanz .. katakan..!! Jangan menyembunyikan sesuatu yang membuatku bingung.??" Azka terus terisak. Hanz memberanikan diri memeluk Azka.


"Azka..!!" ucap nya lirih seraya memeluk erat tubuh istri nya. Ia lalu membimbing tubuh istri nya ke ranjang dan mendudukkan nya di sana.


Tangan Hanz menyeka air mata Azka dan merapihkan rambut Azka yang berantakan di wajah nya.


Kini kedua pasang mata itu saling menyelami. Sesaat setelah itu Hanz menunduk menghindari tatapan mata Azka yang membuat nya hampir tidak tahan untuk meraih wajah itu dan menghujani nya dengan bibir nya.


"Hanz, kata kan.!" ucap Azka mengangkat wajah Hanz.


"Azka, kau masih sakit. Kami bukan ingin menyembunyikan sesuatu, tapi ini demi kesembuhan mu." sahut Hanz.


"Ini sama saja Hanz, apa kamu tau dalam diam ku, aku memikirkan itu. Katakan apa kau benar suami ku Seperti yang dikatakan Berlinda waktu itu, dan aku ingat kau pernah mengatakan nya ketika aku masih di rumah sakit. Kau juga mengatakan pada dokter itu kalau aku istri mu.!!" Azka terus mendesak.


"Kata kan atau aku akan berusaha mencari tau sendiri..!!"


"Baik lah, tapi kau harus bisa berjanji untuk tidak memaksa kan otak mu untuk mengingat semua nya. Kau hanya perlu tau saja, setelah itu biarkan diri mu sembuh dahulu." jawab Hanz .


Azka mengangguk setuju.


"Azka,..!" Hanz kini memeluk Azka. Sejenak Azka tidak berontak, ia seperti nya sedang ingin merasakan pelukan pria yang dianggap nya asing itu.


Lama Azka terdiam, nyaman kini menyelimuti hati nya. Ketika Hanz mengeratkan pelukan nya Azka pun semakin menenggelamkan kepalanya di dada Hanz.


"Azka, kita saling mencintai.. Dan kita menikah satu bulan yang lalu sebelum kau mengalami kecelakaan yang merenggut ingatan mu." ucap Hanz , sungguh tidak sanggup lagi untuk menutupi nya.


Terdengar Azka menangis kembali.


"Benar kah..?" tanya Azka mencari keyakinan dalam isakan nya.


"Benar Azka. Ku mohon kau menepati janji mu untuk tidak berusaha mengingat apapun dulu. Jika nanti dokter sudah menyatakan kau sudah sembuh dan boleh mengingat , aku akan berusaha untuk mengembalikan ingatan mu." Hanz membelai rambut istri nya dengan lembut kemudian mengangkat wajah Azka.


Memandang nya dengan tatapan yang dalam.


"Kami sangat mengkhawatirkan keadaan mu Azka, apa kau tau, aku dan Ayah mu sangat ketakutan kalau kau sampai mengalami kelumpuhan jika kau berusaha untuk berpikir keras." ucap Hanz.


"Tapi aku sudah menyakiti suami ku sendiri." jawab Azka.


"Tidak Azka, kau tidak menyakiti suami mu. Tidak pernah."


"Aku bahkan sering memarahi mu, mengusir mu dan membencimu Hanz..!!" ucap Azka menyesali perbuatan nya.


"Semua itu karena kau tidak mengingat apapun tentang ku, jika kau ingat kau tidak mungkin melakukan itu." Hanz kembali mengusap air mata istrinya.


"Berhentilah menangis, ini akan membuat kepala mu sakit lagi."


"Maaf kan aku Hanz.. Maaf.!!" Azka kembali dalam pelukan Hanz.


"Ini bukan salah mu Azka, bukan. Mungkin ini ujian rumah tangga kita..?" kembali Hanz mencoba menenangkan Azka.


"Pantas Ayah ku sangat menyayangi mu dan mempercayaimu untuk menjagaku bahkan saat aku sedang tidur sekalipun. Itu karena kau suami ku. Dan Berlinda, ia selalu mengatakan jika kau pria baik dan selama ini yang tau semua tentang aku." ucap Azka menarik tubuh nya untuk kembali menatap wajah pria di hadapan nya itu.


"Berjanji lah Hanz, jika aku sudah sembuh nanti, kau harus membantu ku untuk mengingat semua kenangan tentang kita, pasti itu sangat indah." ucap Azka.

__ADS_1


Hanz mengangguk."Pasti Azka. Kita akan memulai nya dari pertama kita bertemu dan saling mengenal ,lalu saling menyukai dan bercinta. Dan hari dimana kita menikah, semua sangat indah Azka. Sangat indah." ucap Hanz.


"Jika aku tetap tidak bisa mengingatnya , apa yang akan kau lakukan.?" tanya Azka.


"Aku akan membuatmu jatuh cinta kembali pada ku.?" Sahut Hanz.


"Apa dulu aku yang duluan jatuh cinta padamu.?"


"Tidak Azka, kita sama sama saling jatuh cinta, tapi kau yang menyatakan duluan, karena aku terlalu pengecut." jawab Hanz.


"Benarkah .? Lalu kenapa kau tidak langsung saja memberitahuku jika kita suami istri. Malah mengaku sebagai sekretaris ku."


"Jika kau langsung mengetahui nya otomatis kau langsung berpikir keras untuk mengingat nya, aku tidak mau mengambil resiko nya. Lebih baik aku berbohong. Dan benar aku dulu adalah sekretaris mu, dan kau adalah Nona Presdir ku." jelas Hanz.


"Apa Hanz..! Kau.."


"Azka , sudah lah. Cukup itu saja dulu yang perlu kau tau. Percaya lah. Jika kau sudah sembuh aku akan menceritakan semua nya." Hanz cepat memotong ucapan Azka. Ia tidak ingin Azka terus berusaha mencari tau yang bisa menyebabkan pikiran nya terus mencerna.


Azka mengangguk.


"Kau makan dulu ya..? Aku akan menyiapkan nya." ucap Hanz.


"Hanz.. Apakah dulu aku sangat mencintaimu..?" Azka meraih tangan Hanz dan menggenggam nya.


Hanz mengangguk.


"Kau terlihat jauh lebih dewasa dari pada aku.?" kembali Azka bertanya.


"Usia kita selisih sepuluh tahun lebih Azka, Saat usia ku sepuluh tahun , ibumu baru saja mengandung mu. Kau tau itu dari dulu, tapi kau tidak peduli. Kau terus berusaha menggoda ku dan meyakinkan aku jika kau sangat mencintai ku dan menginginkan aku." kembali Hanz menjelaskan.


"Benar begitu, kau sedang tidak membohongi ku kan..?" Azka seperti ragu dengan penjelasan Hanz.


Mendengar keraguan dari mulut Azka , Hanz tiba tiba meraih cepat tengkuk Azka dan mencium bibir istrinya.


Azka sangat terkejut dengan perlakuan Hanz, belum sempat Azka untuk berusaha menghindar Hanz memeluk erat tubuhnya dan mellumatt bibir nya dengan sangat dalam.


Azka mendadak lemas,dan tak mampu untuk berontak, dada nya bergemuruh. Tubuhnya merespon sentuhan tangan Hanz. Dan seperti menikmati kecapan bibir Hanz. Semakin meresapi nya semakin ia menikmatinya dan dengan perlahan mulai membalas nya.


Kini kedua nya saling mellumatt dan menggenggam erat hingga beberapa lama sampai Hanz melepaskan pagutan nya dan menatap mata indah Azka.


"Apa yang kau rasakan Azka..?" tanya Hanz terus menatap Azka yang tersipu itu.


"Aku.. aku.." Azka sangat gugup dan menunduk.


"Kau merasakan cinta Azka, ya .. Itu cinta. Seperti yang ku rasakan padamu. " ucap Hanz meraih dagu Azka


"Lihat aku Azka. Lihat aku." bisik Hanz.


Kedua nya kembali saling menatap.


"Apa kau menyukai bibir ku, atau kau membencinya.?" tanya Hanz dengan tatapan serius.


"Aku.. aku mau makan Hanz. Aku lapar.!" sahut Azka berusaha mengeles.


"Apa kau menyukai nya, jika tidak katakan saja, aku tidak akan mengulangi nya lagi." Hanz terus bertanya.


"Ya.. Aku menyukai nya. Puas..!! Cepat beri aku makan. Aku lapar..!!" teriak Azka berusaha menyembunyikan rasa malunya.


Hanz tersenyum dan melangkah keluar.


Didalam hati nya ia sangat bersyukur ,Akhirnya Tuhan memberi nya sedikit jalan.


Setidak nya ia tidak perlu tersiksa lagi untuk berpura pura menjadi orang lain dihadapan Azka. Walau Azka belum bisa untuk mengingat nya.



Sementara Azka, terlihat masih kebingungan.


"Benar kah ini? Aku bisa merasakan perasaan yang dalam ketika Hanz mencium ku. Tapi kenapa aku bisa jatuh cinta pada pria yang seharusnya pantas ku panggil paman itu. Ah, tapi Hanz sangat tampan sekali, dan aku.. aku seperti nya memang menyukai nya." Azka memegangi dada nya yang masih terus berdebar.


cukup Azka, ingat. Kau tidak boleh mengingat apapun dulu. Sabar...tunggu dulu, Sampai kau sembuh.


Azka membuang nafas.


"Apa aku sedang jatuh cinta.? Atau jatuh cinta lagi pada pria yang sama."


Azka tersenyum sendiri sambil memegangi bibirnya.


______________________________


sekian dulu......!!!!


"Maaf jika alurnya sedikit memaksa dan berantakan, Author lagi sakit dan bab ini author paksain , demi para pendukung AzkaHanze yang sudah terus mendukung mereka dengan Vote dan bunga serta like dan koment kalian. Hingga karya ini bisa menduduki Rangking vote ,meskipun tidak sampai 50 besar, setidak nya bisa melewati ribuan Author author baru lain nya. Terimakasih pokoknya atas dukungan kalian.... Semoga kalian tidak kecewa pada Author ya..!? Nikmati saja dengan santai....!!!!"

__ADS_1


__ADS_2