
Di ruangan Hanzero,
Halilintar menatap Tiga pria berbadan kekar yang sudah berdiri di depan nya itu. Wajah sangar yang tak pernah ia lihat itu sedang berbisik dengan rekan nya.
Seorang dari mereka menggerakkan tangan nya ke arah komputer milik Hanz, namun tangan kecil Halilintar lebih cepat mencabut USB yang berisi cip penting di dalam nya dan menggenggam nya erat ketika Halilintar segera menyadari maksud dari mereka.
"Bocah kecil , Serahkan benda itu dan kami tidak akan mencelakai mu." seorang dari mereka menodongkan pistol ke arah nya.
"Itu tidak mungkin ku lakukan paman." sahut nya, tanpa rasa takut meski tidak di pungkiri saat itu detak jantung Halilintar berdegup sangat cepat ketika melirik moncong pistol terarah tepat ke kepalanya.
"Cepat atau.!"
"Atau orang tua ku akan segera membuat perhitungan pada Paman Paman yang berusaha mencuri sesuatu di perusahaan kami." selesai menjawab, secepat kilat Halilintar melemparkan pisau terbang yang selalu terselip di kantong nya itu tepat pada tangan pemegang pistol, menyebab kan pistol itu refleks terjauh ke lantai.
Masih seperti tak percaya ketiga pria tegap itu tak menyadari jika bocah itu telah meloncat dengan ringan nya menyambar pistol yang terjatuh kelantai itu dan segera menjauh dengan berguling ke arah bawah meja yang berada di dekat sofa.
Dengan berguling diantara kolong meja dan sofa Halilintar menghindari letusan demi letusan yang mengarah padanya dari salah satu mereka. Walau bagaimana pun juga ia hanya lah bocah ingusan yang masih tidak bisa sebanding dengan mereka. Tidak bisa di pungkiri rasa pedih sakit dan panas di perutnya mulai ia rasakan itu, tangan nya mengusap darah yang mengucur dari perutnya ketika satu dari timah panas mereka mengenai nya.
"Maafkan Az Mam," sebelum memejamkan matanya yang mulai berat tangan Halilintar sempat menarik pelatuk pistol yang sempat ia raih tadi tepat mengenai betis seseorang yang hendak menghampiri nya.
Seketika pintu terbuka , Azka langsung menjerit mendapati Azze nya yang sudah tergeletak dengan darah segar yang mengalir.
Hanz langsung meraih tubuh jagoan kecil nya sementara ketiga pria tadi sudah berhasil di HeadShot Hanz sesaat sebelum Hanz menghampiri Halilintar.
Hanz segera berlari sambil membopong tubuh Jagoan nya menuju mobil dan segera menyuruh Arwan menginjak gas pol mobil nya menuju rumah sakit terdekat.
Kepala Halilintar tertumpu pada pangkuan Azka yang terus mendekap nya.
"Bangun nak, jangan tinggalkan kami.!" Isak tangis Azka yang menghujam jantung Hanz , pria itu hanya bisa mengelus punggung istrinya.
"Maafkan aku Azka,ini semua salah ku. Keteledoran ku. Aku tidak bisa menjaga nya." Hanz memeluk Azka.
"Kau tidak salah Hanz, aku hanya takut. Takut sekali." sahut Azka serak Hampir tak terdengar.
Hanz kehabisan kata, hanya bisa memeluk erat Istrinya yang terus menangis.
Setelah sampai di rumah sakit suster segera menyambut mereka dan mendorong tubuh Halilintar menuju ruang UGD untuk mendapat kan pertolongan Dokter.
__ADS_1
Hanz mendekati istrinya dan kembali memeluk nya dengan baju mereka yang penuh noda darah.
"Maafkan aku, aku sungguh lalai."
"Hanz, aku takut... sangat takut sekali."
Kilasan masa lalu Azka kembali melintas di benak nya, ketika mengingat apa yang pernah terjadi pada Hanz ketika dulu hampir serupa. Belum lagi cerita Ayah nya tentang tragedi yang menewaskan Ibu nya.
"Kenapa harus terulang lagi.?" gumam nya berlinang air mata, meremas jari jemari Hanz yang memegang erat tangan nya.
Setelah sekian lama menunggu sang dokter memanggil.
"Tuan Hanzero." mendengar nama nya di panggil Hanz segera menghampirinya.
"Kami berhasil menyelamatkan Tuan muda Halilintar. Sekarang akan di pindahkan ke ruang rawat. Tapi Tuan muda kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor darah yang cocok." ucap sang dokter.
"Ambil punyaku saja, darah ku yang sama dengan nya." Azka segera memotong pembicaraan sang dokter.
"Baik lah Nyonya, silahkan ikut kami."
"Biar saya saja Nyonya. Darah saya sama dengan Tuan muda. Nyonya harus tetap kuat dan sehat untuk mendampingi Tuan Hanz dan Tuan muda." tiba tiba Arwan berlari menghampiri mereka.
"Tuan, kalian tidak boleh lemah. Percayalah. Biar saya yang menjadi pendonor untuk Tuan muda."
"Kau benar. Terimakasih.! " Hanz menepuk bahu Arwan. Begitu terharu dengan ketulusan sekretarisnya itu. Dokter segera membawa Arwan memasuki ruangan. Tak lama berselang Arwan sudah kembali keluar dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh yang melangkah lemah. Hanz segera memapah nya membawa nya duduk di bangku panjang.
"Kau baik baik saja Arwan.?" tanya Hanz.
"Setelah beberapa hari saya akan kembali sehat Tuan, jangan mengkhawatirkan saya. Tuan muda lebih membutuhkan kalian." ucapan Arwan kini menguatkan hati mereka yang hampir putus asa itu.
"Aku akan menghubungi sopir untuk membawamu pulang." ucap Hanz segera meraih Hp nya.
Sore berganti malam ,malam berganti pagi. Hanz masih terduduk di ujung bangku bersama Azka yang telah terlelap di pangkuan nya. Hanz sesekali menguap dengan sesekali juga melirik anak buah Arwan yang banyak di kerahkan untuk menjaga ketat di luar ruangan di mana Halilintar di rawat.
Terlihat Dokter menghampirinya dan memberi kabar jika Halilintar berhasil melewati masa kritisnya.
Hanz segera membangunkan Azka dan mengajak Azka memasuki ruang rawat itu.
__ADS_1
Mereka menarik nafas lega ketika melihat Halilintar mulai membuka matanya.
"Mam, maafkan Az.!" ucap lirih dari putra Hanz terdengar.
"Kau tidak bersalah sayang..!" Azka menggenggam erat tangan Azze nya yang tersenyum itu.
"Kau anak yang hebat Hal, kau sudah menjadi penyelamat perusahaan kita, kau tidak perlu merasa bersalah. Papa yang seharusnya meminta maaf karena kelalaian Papa kau harus mengalami ini." Hanz membelai rambut putra nya.
"Setelah ini bolehkah Az pulang dan berlatih lagi, agar Az tidak selemah ini.?" Halilintar menatap serius Ayah nya.
"Tentu, tapi setelah luka di perut mu benar benar sembuh. Agar kau leluasa lagi dalam latihan bergerak dan meloncat." sahut Hanz.
"Apakah itu akan memakan waktu yang lama?" kembali Halilintar bertanya.
"Tentu tidak jika kau menurut." kini Azka yang menjawab pertanyaan putra nya itu.
"Baik lah Mam, kali ini Az akan menjadi anak yang baik." jawab Halilintar.
"Bagus.!" Azka mendekatkan wajah nya dan mencium kepala putranya.
Sejenak terasa hening di ruangan itu. Ketiga nya terlihat lebih saling diam melempar senyum dengan hati yang di penuhi kelegaan dan rasa bersyukur nya. Tuhan telah melindungi Putra mereka. Dan lagi lagi Tuhan menunjukan keajaiban nya.
Sementara pelaku utama kejahatan itu pun telah terkuak. Seseorang yang datang mengaku sebagai Pemimpin Purwa Gemilang adalah palsu. Semua identitas terkupas setelah anak buah Hanz berhasil membereskan Pemimpin palsu itu.
Namun Hanz tidak akan mungkin tinggal diam, ia pasti akan mengungkap siapa dalang di balik semua ini. Dan ini menjadi pelajaran berharga untuk nya. Ia memastikan akan meningkatkan keamanan di seluruh ruangan perusahaan nya. Dengan menaruh alat deteksi sensor benda tajam di setiap jalan masuk perkantoran nya dan juga memeriksa setiap siapapun yang hendak memasuki area perusahaan tidak terkecuali meskipun para karyawan nya sekali pun.
Bersambung....!!!
_________________________________________
"Hal" adalah panggilan kesayangan Hanz untuk putra nya.
"Azze" panggilan dari Azka.
sementara "Az" sebutan dari Halilintar untuk dirinya sendiri.
Semoga tidak membingungkan kalian.!
__ADS_1
"Maaf, author sengaja membuat alur cepat karena mendekati Musim kedua yang lebih ke Actionnya dan banyak adegan kekerasan nya dengan alur yang cepat dan berliku."