"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona

"Hanzero" Aku Mencintaimu Nona
Kilasan masa lalu.


__ADS_3

Langkah kaki ringan Zha memasuki sebuah kost an kecil , ruang yang sebenarnya lebih pantas di sebut gudang kumuh itu terletak di pinggir rumah susun.


Langkah nya terhenti di depan pintu kamar yang terbuat dari asbes itu ketika mata nya menangkap bercak darah bercecer di lantai. Ia menyandar kan punggung nya di dinding kayu yang sudah mulai rapuh. Berkali kali mengusap wajah nya dengan kasar, lalu membuka pintu kamar mandi.


"Nisa, kau sudah pulang Nak.?" suara lirih di iringi batuk berat itu milik Aisyah. Wanita paruh baya itu segera menoleh sesaat setelah membersihkan sisa darah di ujung bibirnya.


"Bu, kemari lah jika kau sudah selesai." panggilan Zha pada Aisyah menanda kan jika wanita itu adalah ibu nya.


Aisyah segera menghampiri Zha yang langsung memapah nya dan mendudukkan nya di ranjang reot milik mereka.


"Bu, lihat lah. Aku membawa uang banyak. Simpan lah, aku akan segera mencari tambahan nya." Zha mengulurkan beberapa uang pada Aisyah yang langsung menggenggam erat uang tersebut dan menyimpan nya di dalam dompet buruk nya.


"Kau mencopet lagi..?" Aisyah menatap wajah Zha.


"Kali ini tidak Bu, aku hanya...!"


"Nisa,bisakah kau beralih profesi nak. Menjadi buruh nyuci walau pun sedikit penghasilan nya, ibu lebih nyaman menggunakan uang nya."


"Tidak bisa Bu, itu terlalu lama. Waktu kita hanya sebentar."


" Nisa.!"


"Berhenti memanggil ku itu Bu, aku tidak suka." Zha memalingkan wajah nya.


"Hari ini, kepala ibu sungguh sakit luar biasa, ibu ingin cepat tidur." raut wajah sang ibu berubah masam.


"Bu,..." Nisa menarik wajah nya untuk menatap kembali ibu nya , tangan nya menyentuh pipi yang sudah mulai menua itu.


"Bisakah ibu bertahan sebentar lagi. Setidak nya sampai aku bisa membawa mu ke luar negri untuk membuang penyakit mu ini.?" ucapan Zha seperti jarum yang menyengat hati Aisyah, tiap kali Zha mengatakan itu wanita ini hanya bisa menghela nafas berat nya.


"Ibu sudah lama bertahan , bahkan sejak ibu memilih penyakit ini dari pada harus tidak melahirkan mu."


"Jika saat itu aku bisa memilih, aku memilih tidak kau lahir kan , dari pada harus melihat mu menderita seumur hidup mu." dengus kesal Zha terdengar memburu.


"Tidak baik bicara begitu nak, setiap kehidupan akan ada jalan nya masing masing. Kau harus bisa menerima nya dengan lapang." ucap Aisyah membelai rambut acak acakan milik putrinya.


"Tidak untuk sekarang Bu, Zha tidak bisa menerima kenyataan pahit hidup mu." Zha mencengkeram bahu ibunya.

__ADS_1


"Dengar kan aku Bu, aku akan membalik kan keadaan kita. Aku akan membuat mu bahagia dan Bangga sudah melahirkan aku." Zha menatap lekat wajah ibu nya.


"Cukup Nisa, ibu tidak menyetujui jalan mu. Cukup dengan menjadi wanita Sholeha kau sudah bisa membahagiakan ibu mu ini."


"Dengan memakai kerudung seperti mu, lalu berdiam diri ketika semua orang menghina mu. Aku tidak akan pernah melakukannya..!"


"Nisa, luruskan jalanmu. Buang jauh jauh rasa dendam mu. Maka hati mu akan bersih. Dan kehidupan bahagia akan datang padamu. Percaya lah nak..?"


kata kata itu terus terngiang di telinga Zha.


Air mata Zha jatuh menetes membasahi Batu nisan yang ia sentuh.


"Maaf kan Zha Bu,. Aku harus membalas semua jiwa yang pernah melakukan mu tidak adil. Seluruh jiwa yang telah menghancurkan keluarga kecil kita." Zha mengusap air matanya.


"Aku akan berhenti, tapi bukan sekarang. Jika saat nya tiba nanti , kau boleh memanggil ku Al'Fathunisa seperti yang kau inginkan selama ini." Zha melangkah keluar dari Area pemakaman.


Kilasan masa lalu nya, ketika sang malaikat tak bersayap nya masih ada di sisi nya yang setiap saat memberi nya semangat untuk tetap tegar menghadapi hidup.


Namun beberapa tahun yang lalu, saat ia terpaksa harus menyerah , kalah oleh keadaan dan hanya bisa pasrah ketika sang malaikat tak bersayap nya harus meregang nyawa meninggalkan diri nya sendirian di muka bumi ini untuk selamanya. Itu hanya sebagian kecil dari masa masa sulit hidup nya.


Semenjak itu, Zha tak mempunyai arah, hidup nya hancur berkeping keping terasa tak terbentuk. Yang ada hanya kedinginan. Kesepian dan dendam.!!


Sambil bersenang-senang dulu dengan memainkan nyawa manusia manusia yang di anggap nya rakus dan jahat, ia terus mencari tau keberadaan orang orang yang telah membuat orang tua nya menderita.


Nama Zha akhirnya terkenal di kalangan para Mafia kelas atas , saat ia berhasil membunuh seorang ketua mafia hanya dengan sekali hentakan tangan nya memakai senjata unik ciptaan nya sendiri. Senjata yang tak membuat mangsa nya harus mengeluarkan darah, namun akan mati dalam sekejap.


Sudah puluhan nyawa melayang di tangan nya, namun aneh nya tidak ada satu pun yang bisa mengungkap nya.


Detektif handal pun pernah di turunkan untuk menyelidiki kasus demi kasus dari perbuatan Zha. Tapi lagi lagi, semua hanya bertemu dengan jalan yang buntu.


Bahkan Senjata unik nya tak mampu ditemu kan dalam jasad korban nya.


Kepulan asap putih milik Zha terlihat melintasi wajah Elang yang sesekali mengibaskan tangan nya, seolah ingin mengusir asap itu.


"Berhenti lah Nona, aku sungguh sesak.!" ucap Elang.


"Kau ingin aku menghisap leher mu, berikan sekarang dan aku akan mematikan rokok ku.!" sahut Zha melempar puntung rokok nya sembarang.

__ADS_1


Elang segera meraih puntung itu.


"Aku senang jika kau sedang memainkan asap nya. Lanjut kan Nona." Elang segera mengulurkan kembali puntung tersebut.


"Cih....! Dasar munak." Zha memalingkan muka nya.


"Lebih baik aku menahan sesak, dari pada harus kehabisan darah." kembali Elang berucap seraya kembali duduk tenang di hadapan Zha.


"Kenapa kau masih di situ. Lihat jam.!" tatapan Zha kali ini berekspresi.


"Kau benar benar disiplin Nona." sahut Elang ketika sudah melirik jam, mengingatkan nya pada kegiatan yang harus segera di siapkan nya.


Elang melangkah keluar Mansion, di ikuti Zha lebih jauh dari belakang.


"Hitam , merah ,abu abu..Emmm. .. Putih." Elang segera membuka mobil sport berwarna putih itu dan segera mengeluarkan nya dari garasi.


Hentakan pantat Zha di susul bunyi pintu mobil yang tertutup, menandakan kesiapan Zha untuk segera meninggalkan Mansion itu, Elang segera menginjak gas , meluncur di atas aspal hitam legam ke arah barat kota.


Di jalanan yang terlihat sepi, pintu belakang mobil itu terbuka , Zha segera melompat turun setelah elang menginjak rem, lalu elang pergi begitu saja tanpa kedua nya saling berbicara sedikit pun. Melangkah di kesunyian malam yang nampak sepi itu Zha terus melanjutkan derap kaki nya yang terlihat begitu tenang untuk semakin mendekati sebuah gedung perhotelan.


Tanpa menoleh ke arah mana pun, dengan memasang wajah datar nya ia bersandar di bawah pohon Pinus yang ada di tepi pagar.


Sambil terus menghisap rokok berfilter kuning kecoklatan milik nya Zha me manggut-manggut kan kepala nya menikmati Alunan musik dari handset yang ia selipkan di salah satu telinga nya.


Zha menjatuhkan rokoknya dan menginjak nya begitu saja, tangan nya merogoh sesuatu, mata nya lurus menatap ke depan. Saat beberapa pria berbadan tegap sedang mengiring seseorang yang berwajah asing itu menuju mobil.


Dalam lima detik ke depan, ia telah memutar pandangan nya dan melangkah pergi dengan tenang nya.


"Tuan, Tuan Frankyn ..!"


Pria yang di panggil nama nya itu sudah terkulai lemah di antara tubuh para pengawal nya.


"Cepat bawa ke Rumah sakit. Mungkin Tuan Frankyn terkena serangan jantung..!" ucap panik dari salah satu dari mereka.



bersambung.....!!!!

__ADS_1


"Bagi yang sudah mampir.. jejak nya donk.


Plissss.....!!!!!"


__ADS_2