
Di sebuah ruangan besar yang berdinding kaca, seorang gadis berpenampilan tomboi berdiri menatap sekeliling dengan tatapan yang sulit di tebak. Seorang pria tampan memasuki ruangan dan nampak menghampirinya.
"Apa ada masalah.?" tatapan tajam mematikan milik sang gadis tertuju pada pria itu.
"Nona Zha, Mr. Espargaro mempunyai masalah. Beliau ingin kau membantu nya." pria itu menaruh sebuah foto dan amplop coklat di atas meja kaca yang tepat di samping sang gadis. Tangan bersarung hitam itu menyambar foto dan amplop tersebut.
Senyum miring yang tak mampu di arti kan oleh siapapun itu ter tarik di sudut bibirnya.
"Kalian tau peraturan main ku.?" meremas foto seorang warga asing yang langsung terekam di otak nya itu.
"Tentu."
"Baik lah, lulus atau tidak keinginan bos mu, uang ini tetap menjadi milik ku." Gadis yang tak lain bernama Zha itu melangkah kan kaki nya meninggalkan Pria tampan yang tak mampu bersuara lagi. Aura kemisterian Zha dan senyum miring milik nya mampu membuat bulu kudu Pria tampan yang mempunyai nama Ed itu berdiri.
Mata nya terus menatap derap langkah Gadis pecinta Asap itu sampai menghilang di balik pintu yang juga terbuat dari kaca itu.
Sampai di luar sana,
Sling..... Tap.!
Desing peluru secepat kilat melintas terelak oleh Zha, dengan keterampilan yang menawan tangan lembut nya begitu cepat menangkap nya.
"Perbuatan unfaedah." gerutu lirih nya membuat sang sopir menelan ludah kasar. Namun tangan gemetaran nya masih mampu membuka kan pintu untuk Nona nya.
Duduk bersandar di jok belakang dengan muka yang di miringkan ke kiri, Zha sengaja seperti ingin melihat sesuatu yang mencoba bermain dengan nya tadi.
"Nona Zha mencurigai sesuatu.?" tanya Elang, sang sopir setia nya.
"Manusia pengecut, hanya sampah masyarakat. Apa kau takut.?"
"Yang membuat saya gemetar bukan peluru itu, tapi kelihaian Nona dalam menangani timah panas tadi. Apa Nona wanita setengah Dewi..?" Elang sempat melirik wajah Zha yang tetap saja datar tanpa ekspresi itu.
"Wanita setengah iblis...Mungkin.!"
"Hahaha... Kau benar Nona, Jika sang Dewi kau tidak mungkin terlibat dengan kami." Elang terkekeh sesaat sebelum akhirnya harus merasakan bogem mentah milik Zha yang mendarat bebas di kepalanya.
"Jalan, kau mau mati di sini."
Elang langsung menginjak pedal gas nya ketika melirik sang wanita iblis nya sudah menarik ketapel kematian nya.
__ADS_1
"Belok kanan. Masuk taman di depan itu."
Elang menurut saja. " Tepi kan mobil mu dalam lima langkah ke depan."
Wuushhh...!!!! Zha melepas kan sesuatu dari ketapel milik nya ke arah salah satu kerumunan orang yang sedang bersantai di taman.
Tanpa aba aba Elang kembali menginjak pedal nya setelah Zha menutup kembali kaca mobil yang sempat di buka nya tadi.
"Bagaimana nasib nya.?" suara Elang memecah kesunyian.
"Kau bisa melayat nya jika kau mau..!"
"Huh, sudah ku duga sebelum nya." Elang terdengar mendengus.
Begitu hal yang sering terjadi ketika Zha melakukan pertemuan penting dengan seseorang. Entah sengaja atau tidak pasti ada saja lawan yang tak mau menampakkan wujud nya. Sekedar hanya ingin menguji kehebatan nya atau sengaja ingin menghabisinya. Hanya mereka dan Tuhan lah yang tau. Padahal mereka sudah yakin jika hanya akan mengantar nyawa mereka sia sia, karena yang pastinya jarum beracun milik Zha tidak akan pernah meleset sedikit pun.
Zha nampak membuka jaket kulit berwarna hitam yang ia kenakan itu, menggantinya dengan hoody hitam milik nya. Membuat Elang sempat melirik leher mulus bagian bawah Zha dari kaca kecil di depan nya.
"Jaga matamu atau aku akan mencongkel nya." ucap Zha sesaat setelah menepuk tengkuk Elang dengan kasar.
"Maaf, saya tidak sengaja. Sungguh." Elang segera menunduk kan wajahnya.
"Turunkan aku disini, dan kau tidak perlu menjemput ku." Elang langsung memahami keinginan Zha dan segera menepikan mobil nya ,kemudian kembali melaju setelah Zha turun.
"Jika mau makan.. Bekerja..!! Bukan meminta. Kau pikir aku ibu mu. Enak saja.! Dasar pengemis.!! Pergi..!!!" bentak congak seorang wanita kaya itu pada seorang ibu pengemis yang berusaha meminta belas kasih nya.
Zha menatap sinis seraya merogoh saku nya.
"Ahhhrg...!!!" Wanita kaya itu jatuh terjerembab ke depan sehingga barang barang mahal di tangan nya berhamburan ke lantai.
"Lain kali hati hati Nyonya." Zha meraih lengan Wanita kaya itu ,membantu nya berdiri dan mengemasi barang barang wanita itu.
"Terimakasih nak, atas bantuan mu." ucap sang wanita itu menerima barang barang nya dari uluran tangan Zha.
"Apa ada yang sakit.?"
"Ah, tidak tidak. Mungkin sepatu ku terlalu tinggi." jawab wanita itu.
"Baiklah, kalau begitu silahkan..!" Zha memberi jalan.
__ADS_1
Wanita itu segera menghampiri mobil nya dan memasuki nya.
"Dompet ku..!!!" wanita itu menoleh cepat, namun gadis itu telah hilang tanpa bekas.
"Sial.." umpat nya menyandarkan punggungnya di jok mobilnya.
Di persimpangan jalan, Zha nampak melempar sebuah dompet berwarna keemasan itu ke tong sampah setelah menguras habis isinya. Lalu melangkah menghampiri seseorang yang sengaja di ikutinya tadi. Menepuk ringan bahu seorang wanita pengemis itu.
"Bu." Wanita itu menoleh dengan menggenggam sebuah kertas nasi yang di pungut nya dari tong sampah.
Zha merampas kertas nasi itu dan melemparnya sembarangan.
"Beli lah makanan sepuas mu, sisa nya kau boleh gunakan untuk modal hidup mu. Jangan lagi mengemis. Ku rasa ini cukup." ucap Zha merogoh kantong nya , mengeluarkan lembaran merah untuk menambah lembaran lain yang ia peroleh dari dompet berwarna keemasan tadi.
Sesaat wanita itu tertegun , keringat dingin mengalir ke rahang nya yang nampak mulai keriput, tangan nya pun gemetaran hebat menggenggam lembaran uang merah yang hampir tidak muat di telapak nya tangan nya itu.
"Nak..! Apa maksud nya.. Nak...!!" wanita itu celingukan.
"Apakah dia seorang Dewi..?" wanita itu mengusap berkali kali wajahnya. Menepuk pipinya ,meyakinkan jika ia hanya lah bermimpi.
"Tidak, ini nyata..?" setelah meyakinkan diri jika itu nyata, wanita itu mengedarkan pandangan nya. "Tidak ada siapa siapa."
Wanita itu melangkah setelah menyimpan apa yang membuat jantung nya tak berhenti berdegup kencang itu ke dalam kantong plastik hitam yang ia rogoh dari saku baju compang camping yang melekat di badan nya itu.
&&&&&&
"Bagaimana pertemuan Nona dengan Mr.Ed tadi. Apa sudah ada keputusan.?" tanya Elang sesaat setelah Zha sudah menyandarkan punggung nya di sofa dengan sebatang rokok berfilter kuning terselip di jari kirinya.
Dengan mengepulkan asap rokok dari hidung dan bibirnya , Zha melirik wajah gelap Elang.
"Aku memang seorang penjahat, tapi setidak nya membunuh yang bukan penjahat adalah hal yang harus ku hindari."
"Apa anda perlu bantuan.?"
"Jika aku kelelahan, aku akan menghubungi mu." ucap datar Zha semakin membuat Elang kagum.
Gadis itu melangkah meninggalkan elang yang masih berdiri untuk memasuki kamar khusus untuk nya.
Di dalam kamar di lantai lima yang terletak di Mansion mewah berlantai dua belas itu, Zha melepas semua yang ada di tubuhnya dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah puas mengguyur tubuhnya , Zha lalu berganti. Meraih sesuatu dari saku Hoody nya yang tergeletak di ranjang lalu mendekati sebuah komputer di meja sana.
__ADS_1
"Frankyn.. Kau memang pantas menerima nya." ucap Zha setelah menemukan identitas dan riwayat gelap seseorang yang akan menjadi target nya kali ini.
Bersambung...!!!!