
Hanzero masih terus menggenggam tangan istri nya dan mengusap wajah Azkayra yang terlihat pucat itu. Sesekali melirik pintu.
"Kenapa Dokter Lisa lama sekali ya.?" gumam nya.
Baru saja Hanz bergumam, Berlinda sudah membuka pintu dengan dokter Lisa di belakangnya. Dengan sedikit tergesa Dokter Lisa menghampiri .
"Maaf Tuan, sedikit terlambat. Jalanan macet." ucap Dokter Lisa .
"Tolong periksa Nona Azkayra, dia terus mual dan muntah." sahut Hanz tak ingin berbasa basi.
Dokter Lisa menagangguk, sementara Hanz langsung beranjak menjauh.
Dokter Lisa pun langsung memeriksa Azka.
Hanz duduk menunggu dengan cemas, begitu juga dengan Berlinda, masih saja berdiri di sudut ruangan itu.
Lama Dokter Lisa memeriksa Azka, dan akhir nya menghampiri Hanz.
"Tuan, !"
"Bagaimana keadaan Nona, apa sakit nya parah.?" tanya Hanz spontan saat mendengar Dokter Lisa memanggil nya.
Dokter Lisa tersenyum.
"Nona Azkayra baik baik saja Tuan,!"
"Baik baik saja bagaimana.? Bahkan dia tadi sempat pingsan.!" pekik Hanz .
"Tuan, Nona tidak mengalami sakit apapun, hanya saja.!"
"Hanya saja apa.?" Hanz semakin di buat khawatir.
"Selamat Tuan, akhirnya Nona Azkayra hamil juga." ucap Dokter Lisa , begitu mengejutkan semua nya.
"Apa ,!! Nona Hamil,? Kau tidak salah dokter.!" Hanz seperti tidak percaya.
"Ini hasil tes urine Nona, lihat lah Tuan." dokter Lisa mengulurkan sebuah tespeck yang masih di pegang nya pada Hanz yang segera meraih nya.
Hanz menutup mulut nya yang nyaris menganga ketika matanya menangkap dua garis merah muda di sana.
"Azka,..!" Hanz berlari cepat menghampiri sang istri.
"Azka, kau hamil..! Kau hamil Azka,.!" Hanz mengguncang bahu Azka dan langsung memeluk nya.
"Benarkah.?" Azka pun seperti tak percaya.
"Iya Azka, kau benar benar hamil..! Lihat lah ini." Han menunjuk kan tespeck yang masih di genggam nya itu.
"Ya Tuhan,.. Aku hamil, Hanz.. Kita akan punya Anak." Azka pun begitu histeris.
"Iya Azka, kita akan segera punya anak." Hanz memeluk erat Azka, entah bagaimana perasaannya saat ini. Luar biasa senang nya hingga Hanz meneteskan air mata.
Dokter Lisa hanya tersenyum, ikut merasakan kebahagiaan mereka berdua, sama hal nya dengan Berlinda yang terus mengusap kan kedua telapak tangan nya di wajahnya.
"Amin ya Allah... Amin Ya Allah... Alhamdulillah...!!! Akhir ya Nona hamil." ucap nya.
"Dokter Lisa, terimakasih . Istriku akhirnya hamil. Kami sudah menanti nya sekian lama." ucap Hanz menoleh kearah Dokter Lisa yang masih berdiri di sana.
"Iya Tuan,. Sama sama. Saya ikut senang sekali. Tapi Nona harus hati hati, tidak boleh stres dan lelah, karena usia kandungan Nona masih sangat muda, belum genap dua Minggu. Dan Ini resep vitamin untuk Nona, juga ada obat untuk mengurangi mual nya." ucap dokter Lisa mengulurkan resep obat untuk Azka yang segera di terima oleh Berlinda yang langsung maju ke depan dokter Lisa.
"Biar saya yang ke apotik Tuan." ucap Berlinda begitu semangat.
"Cepat lah Berlinda." sahut Hanz.
Berlinda mengangguk dan segera berlalu.
__ADS_1
"Tuan, jangan kaget jika nanti Nona azka masih sering mual dan muntah, itu biasa untuk kehamilan trimester satu. Nona harus tetap mengisi perut nya, jangan sampai kosong. Agar tidak kekurangan cairan." jelas Dokter Lisa.
"Baik Dokter." jawab Hanz.
"Kalau begitu, saya permisi Tuan ya.? Nona Azka, sekali lagi selamat.!" ucap Dokter Lisa.
"Terimakasih Dokter,." sahut Azka.
Dokter Lisa mengangguk dan melangkah keluar kamar.
Hanz kembali meluapkan rasa bahagianya dengan terus mengecup kening istri nya dan mengusap usap perut Azka.
"Emmm,!!" Azka kembali mendorong tubuh Hanz dan menutup mulut nya dengan tangan nya.
"Muntah kan disini saja,!" Hanz menarik ember kosong.
Hooekkk....!!!
Azka kembali muntah, walau pun hanya cairan saja yang keluar.
huh, ini pasti sangat menyiksa mu Azka.
Hanz teringat video yang pernah ia tonton di kantor nya dulu.
Perasaan Hanz mulai resah, hingga beberapa saat Berlinda datang dengan membawa obat untuk Azka, dan langsung menyuruh Azka untuk meminum nya.
Lagi lagi Azka memuntahkan nya.
\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_
Begitu lah hari hari Azka sekarang, selalu memuntahkan apapun yang masuk ke perut nya Namun Hanz dengan sabar mendampingi nya.
Rasa kebahagiaan mereka nampak terlihat jelas, Hanz juga tidak lupa untuk memberitahu kabar gembira ini pada sang Mertua yang terdengar terisak bahagia di ujung telepon.
Lantas bagaimana hari hari Hanz berikut nya dengan kehamilan sang istri tercinta nya.?
"Hanz , apa kau belum mandi.?"
"Sudah Azka, cium lah. Wangi kan.?"
Hooekkk...!!
"Parfum apa yang kau pakai !"
"Parfum kesukaan mu Azka, Kenapa.? Kau tidak menyukai nya.?" tanya Hanz getir.
"Ganti baju mu Hanz, ini sungguh membuat ku pusing ."
Tanpa berani membantah, Hanz menurut saja.
"Menjauh lah Hanz, aku tidak mau kau mendekati ku.!" teriak Azka di malam berikut nya.
"Iya, aku duduk di sini saja."
Besok malam nya.
"Hanz , aku ingin tidur sendiri saja.!"
"Baik lah, aku akan tidur di sofa." ucap Hanz menghela nafas.
,
"Azka, aku berangkat ya." pamit Hanz di pagi hari mengangkat wajah istri nya.
"Aku tidak mau.!" Azka segera menarik wajah nya.
__ADS_1
"Azka,!"
"Kau bau Hanz, kau mau aku muntah lagi ya.?"
"Tidak tidak. Ah, baik lah. Tidak perlu ada ciuman selamat pagi lagi." keluh Hanz segera menjauh.
"Aku berangkat." ucap Hanz melangkah keluar.
.
"Berat sekali." Hanz merebahkan kepalanya di kursi kerja nya.
"Anda harus sabar Tuan, wanita yang sedang mengidam memang seperti itulah. Bawaan bayi itu berbeda beda. Ada yang tiba tiba ingin di dekati suami nya, ada juga yang membenci suami nya." ucap Arwan mencoba memberi penjelasan pada Tuan nya.
"Jadi Azka, salah satu yang membenci suami nya. Begitu maksud mu.?"
"Bisa jadi Tuan," sahut Arwan.
"Sampai kapan ia membenci ku.? dan tidak mau ku dekati. Gila saja kalau sampai anak ku lahir. Ah,.. itu masih sangat lama sekali." Hanz kembali mengeluh.
"Sabar Tuan, biasa nya tidak lama. Hanya sekitar tiga bulanan saja. itu setahu saya."
"Apa..? Tiga bulan. Yang benar di saja. Jadi selama tiga bulan aku tidak bisa mendekati Azka.. Ya Tuhan... mau jadi apa hidup ku..?" sahut Hanz terlihat frustrasi.
"Sabar Tuan, hanya tiga bulan saja." ucap Arwan.
Drettttt....drettt.....!
"Azka." Hanz cepat menjawab panggilan Hp nya.
"Hanz, bisa kah kau pulang. Aku merindukan mu. Aku ingin bersama." suara manja Azka.
"Iya Azka, aku pulang sekarang." jawab Hanz begitu semangat.
"Tidak sampai tiga bulan ternyata Arwan, kau salah." ucap Hanz langsung melangkah untuk kembali ke rumah. Arwan hanya bisa menatap bingung dengan tingkah tuan nya.
.
"Hanz, Aku merindukan mu." Azka langsung memeluk suami nya ketika Hanz baru saja membuka pintu.
"Iya sayang... Aku pulang untuk mu." ucap Hanz langsung mengangkat tubuh istrinya dan membawa nya ke ranjang.
Senyum kebahagiaan Hanz berkembang , saat ini Azka merebahkan kepalanya di pangkuan nya. Ia terus membelai lembut rambut Azka dengan penuh kasih sayang.
Baru saja Hanz merasa damai.
"Hanz, bisakah kau mencarikan aku buah setrowberry. Aku ingin memakan nya."
"Baik lah, tunggu sebentar ya.?"
"Kau yang harus membeli nya Hanz, Jangan menyuruh siapapun." pesan Azka membuat Hanz sempat menoleh ke arah nya.
"Iya, aku akan membeli nya sendiri."
"Hanz, !"
"Apalagi.?" kembali menoleh setelah hampir membuka pintu.
"Warna putih. Aku tidak mau kalau yang merah. Jika tidak ada tidak usah membeli nya."
"HUH.." Hanz kembali menghela nafas berat nya.
"Baiklah, aku akan mencari nya sampai dapat." sahut Hanz melanjutkan langkah nya.
Selama hidup ku , aku hanya melihat Setrowberry berwarna merah. Apa ada warna Yang lain..?
__ADS_1
Bersambung..!!!