
Hanzero dengan telaten menyuapi Azkayra makan malam dengan sesekali membetulkan rambut Azka yang masih terurai itu.
"Hanz, kau juga makan geh..!" ucap Azka, sejak tadi ia tidak melihat Hanz menyuap diri nya sendiri.
"Setelah kau menyelesaikan makan mu Azka." sahut nya.
"Lagi Azka,." kembali Hanz menyuapkan makanan ke mulut istri nya.
"Hanz, aku sudah kenyang..?" rengek Azka.
"Baik lah, minum dulu." Hanz beralih mengambilkan minum untuk istri nya. Sementara Azka terus menatap suami nya itu.
Kau begitu sabar mengurusku Hanz. bagaimana aku tidak mencintai mu, meski pun aku tidak mengingat mu. kau tampan ,lembut dan perhatian sekali.
"Kenapa kau menatapku seperti itu Azka,? Apa aku menyebalkan.?" tanya Hanz menyadari jika istri nya terus memperhatikan nya.
"Kau tampan Hanz.. Dan sama sekali tidak menyebalkan." jawab Azka.
"Kau selalu mengatakan begitu. Padahal aku tidak tampan tampan amat." jawab Hanz, kini ia berganti menyuap diri nya sendiri.
"Hanz, aku ke kamar mandi dulu ya.?" ucap Azka.
Hanz hanya mengangguk dan melanjutkan makan nya. Azka langsung menuju kamar mandi untuk menggosok gigi nya.
Tak lama ia keluar kembali.
Setelah makan malam mereka selesai dan bersantai sejenak, mereka kembali duduk di ranjang.
"Hanz, boleh kah aku memeriksa isi laci mu. Siapa tau ada sesuatu yang bisa membuat ku ingat sesuatu juga.?" tiba tiba Azka berkeinginan memeriksa laci meja itu hanya untuk sekedar mencari sesuatu yang mungkin bisa memicu ingatan nya.
Hanz mengangguk lembut.
"Asal jangan memaksakan diri Azka, aku tidak mau kau sakit kepala karena memaksa mengingat." sahut Hanz.
Azka kembali menarik laci itu satu persatu.
"Hanz, bukan kah ini Tes pack.. ini milik siapa..?" tanya Azka ketika melihat suatu benda yang ia tau nama nya itu kemudian mengambil nya.
"Tentu saja milik mu Azka, milik kita." jawab Hanz.
"Kapan kita menggunakan nya Hanz..?" Azka menoleh dan kembali duduk di samping Hanz.
"Azka, di kamar ini lah kita pernah melakukan dosa terindah kita." ucap Hanz memulai cerita kembali.
"Dosa,..? Maksud mu. ?"
Hanz kini menggenggam erat tangan Azka.
"Ketika kedua kalinya kau merengek meminta datang ke sini, dan pada saat itu aku bahkan belum meminta restu pada ayah mu, Ayah mu belum mengetahui hubungan kita. Saat itu aku benar benar khilaf dan aku merenggut keperawanan mu di sini Azka, setelah kau berhasil membuat ku tidak sanggup melawan hasrat ku." ucap Hanz menatap istrinya.
Hanz terus menatap Azka yang juga menatap nya dengan wajah yang tersipu itu.
"Apa kau tau , pada saat itu kau menangis kesakitan, aku hampir saja mengakhiri perbuatan ku dan kau malah menahan ku." ucap Hanz tersenyum membayangkan saat pertama kali nya ia menjebol gawang milik Azka.
"Benarkah, ? " Azka nampak begitu malu mendengar cerita Hanz.
"Yang lebih parah lagi, aku sangat ketakutan sekali setelah menyadari perbuatan ku. Aku bahkan sampai menangis Azka, aku takut sekali di tendang Tuan Ginanjar kalau dia Sampai tau jika putri nya sudah tidak perawan karena ku. Dan aku selalu memikirkan mu, jika aku benar benar di tendang oleh ayah mu dari rumah utama, lalu bagaimana nasib mu tanpa keperawanan lagi. Lalu aku nekad menemui Ayah mu untuk langsung melamar mu. Aku tidak menyangka jika ayah mu merestui hubungan kita." jelas Hanz.
"Aku tau kalau ayah pasti akan merestui mu, karena aku bisa mengingat jika ayah selalu memuji mu ketika bersama ku, dan dia selalu membanggakan mu Hanz." sahut Azka.
"Sebenarnya bukan seperti itu, apa kau tau Azka, jika Orang tua kita memang ingin kita menikah bahkan pada saat itu kau masih di dalam kandungan ibu mu." jelas Hanz kembali.
"Jadi, pernikahan kita ini adalah perjodohan.?"
"Sebenar nya begitu, mereka ingin kita menikah tapi tidak mau kita menikah dalam perjodohan. Lalu mereka mengatur nya, pertemuan kita dan kebersamaan kita sudah di rancang mereka. Mereka berharap kita saling jatuh cinta dan menikah tanpa perjodohan dari mereka. Dan usaha mereka berhasil. Aku bahkan baru mengetahui semua itu setelah melamar mu di depan Ayah mu Azka. Tadi nya aku sama sekali tidak menyangka. Aku sempat takut jika Ayah mu menolak ku dan tidak merestui cinta kita. Tapi kenyataan itu benar benar di luar dugaan ku."
"Beruntung sekali aku mempunyai orang tua dan mertua yang sangat memikirkan masa depan ku ya.? Dan menyiapkan seorang suami yang seperti mu Hanz." puji Azka.
"Sayang sekali, kedua orangtuaku tidak bisa menyaksikan kebahagian kita Azka."
__ADS_1
"Mereka pasti melihat nya dari surga Hanz.." sahut Azka menenangkan hati suami nya.
"Ya Azka, tapi mereka juga pasti akan marah padaku, karena aku tidak bisa menjaga menantu mereka dengan baik, hingga menantu nya mengalami kecelakaan yang merenggut ingatan nya."ucap Hanz.
"Tapi ini kan bukan salah mu." sahut Azka.
"Sama saja, aku tidak bisa menjaga mu dengan baik .." Hanz menatap istrinya dengan rasa bersalahnya.
"Hanz, ada lagi yang ingin aku tanya kan padamu.."
"Tanya kan saja Azka, aku akan menjawab nya."
"Kenapa aku tidak melihat foto foto pernikahan kita.? Apa kita tidak merayakan pernikahan kita.?" tanya Azka.
"Ada Azka, aku hanya menyimpan nya di kamar ku saat kau pernah pingsan karena melihat baju baju ku di lemari mu itu. Aku takut jika kau melihat nya kau terus akan berusaha mengingat nya." jelas Hanz.
"Sekarang ,aku ingin melihat nya Hanz..? Sedikit saja. Apa kau ada menyimpan nya di Hp mu.?"
Hanz mengangguk dan mengambil Hp nya.
"Pada saat itu, pernikahan kita darurat Azka, jadi hanya begini hasil fotonya." Hanz memperlihat kan Album foto yang ia simpan di Hp nya.
"Hanz,.. ini foto pernikahan kita..?" Azka memperhatikan dengan seksama.
"Aku cantik sekali dengan gaun ini."
"Kau memang cantik Azka, tanpa gaun itu pun kau sudah sangat cantik."puji Hanz.
"Hanz, tapi.. kenapa pakaian mu seperti ini.? Astaga.. kau.. celana yang kau kenakan ini.. Ini.."
"Kemeja itu milik Arwan. Sedang kan celana itu adalah celana Pasien Rumah sakit." potong Hanz.
"Kenapa begitu Hanz, apa kau mau menceritakan nya.?" Azka sangat penasaran melihat penampilan Hanz di foto pengantin mereka itu.
Hanz malah tersenyum.
"Sungguh suatu keajaiban Azka." ucap Hanz.
"Seminggu sebelum hari pernikahan kita, aku kecolongan. Kau di culik Gavin , seorang yang menyukai mu dan sakit hati karena penolakan mu. Aku berusaha menyelamatkan mu, tapi naas . Aku tertembak dan koma. Pada saat itu kau sangat Frustasi sekali. Bahkan di hari pernikahan yang telah kita tentukan kau tidak mau membatalkan nya. Bahkan sekedar untuk mengundurkannya pun kau tidak mau. Kau terus menunggu ku di depan Penghulu. Sampai suatu keajaiban menghampiri ku, menyadarkan aku dari koma ku, aku seperti orang gila Azka, aku tidak peduli para suster menahan ku. Aku terus berlari kembali ke Rumah Utama masih dengan pakaian pasien ku. Jadi aku menikahi mu dengan menggunakan kemeja Arwan dan tidak sempat mengganti celana ku. " jelas Hanz.
"Kau benar, tapi kau juga harus ingat. Setiap ujian yang di berikan Tuhan, akan di balas dengan kebahagiaan yang berlipat. Sekarang tidur lah. Ini sudah malam Azka, hari ini kau begitu lelah, kau sudah terlalu banyak berusaha mengingat. Istirahatkan pikiran mu ." ucap Hanz membelai lembut wajah istrinya.
"Kau harus menemani ku." sahut Azka.
Hanz mengangguk dan menata bantal di atas ranjang nya itu.
"Hanz, bolehkah aku meminta sesuatu pada mu.?
"Tentu Azka, katakan. Aku akan menuruti nya." Hanz cepat menjawab nya.
"Beritahu aku, bagaimana kita bercinta dulu." ucap Azka dengan penuh kesadaran seraya meraih tangan Hanz.
"Azka, tapi." Hanz menatap wajah istri nya.
"Apa kau tidak merindukan aku.?" Suara Azka begitu menarik bagi Hanz.
"Aku sangat merindukan mu, tapi aku tidak bisa melakukan nya jika kau masih belum mengingat apapun tentang kita Azka, aku takut itu akan menekan mu."
"Bagaimana jika aku tidak akan pernah mengingat nya kembali, apa selama nya kau tidak akan menyentuh ku.? Lalu bagaimana dengan nasib pernikahan kita Hanz..?"
Hanz menundukan wajah nya.
"Hanz,. kau sudah berjanji akan menuruti nya." Azka mengangkat dagu Hanz.
Hanz pun mengangguk.
Kini ia mendekati Azka, begitu berdebar nya jantung Hanz ketika Azka mengalungkan kedua tangan lembut Azka di leher nya.
"Apa kau tidak akan marah Azka..?" tanya Hanz ,tangannya mengangkat rambut Azka dan menggulung nya ke atas menampakkan leher jenjang Azka yang mulus.
Azka menggeleng dan tiba tiba menyambar bibi Hanz, dan melahap ganas di sana.
Hanz pun tak sanggup lagi untuk menolaknya, apalagi selama ini ia sudah sangat menahan nya.
__ADS_1
Gairah Hanz pun semakin menggebu ketiga ciuman Azka merambat ke leher nya dan mengecap keras di sana ,seperti sengaja ingin meninggalkan bekas merah di sana.
Azka mendorong tubuh Hanz hingga terbaring di ranjang dan Azka terus menguasai tubuh kekar milik suaminya itu membuat Hanz mendesah menahan kenikmatan setiap perbuatan Azka.
Tangan Azka mulai membuka baju Hanz dan melempar nya sembarangan. Melihat itu Hanz langsung mengganti posisinya, menarik tubuh Azka dan merebahkan nya.
Kini Azka berada di bawah tubuh Hanz yang sibuk melucuti pakaian Azka. Kini kedua nya telah dalam keadaan polos.
"Azka, aku benar benar akan melakukan nya." bisik Hanz dengan nafas nya yang sudah memburu itu.
Azka sudah tak mampu menjawab selain hanya mengangguk.
Kini Hanz mulai menyentuh setiap lekukan tubuh Azka yang sudah sangat ia rindukan itu, melahap gunung kembar Azka yang terus menantang nya itu , melirik wajah Azka yang memejamkan matanya dengan kedua bibir yang merekah dan terus mengeluarkan desahan nya.
Kini Hanz menguasai area sensitif Azka dengan lidah nya. Azka semakin mendesah dan terus mengacak rambut Hanz.
"Ahhh, Hanz..hentikan.!!" Suara Azka seperti tercekik. Hanz menghentikan aksi nya dan kini menatap Azka yang juga menatap nya dengan sayu.
"Apa dulu selalu seperti ini rasa nya Hanz.?" tanya Azka dengan nafas nya terus memburu.
Hanz mengangguk ," Selalu seperti ini Azka, selalu , tidak ada yang berubah. Justru semakin parah." jawab Hanz.
"Kau mau mengetahui rasa yang sesungguhnya.?" bisik Hanz.
"Em,.." Azka mengangguk.
"Lihat aku Azka, aku akan memberitahu mu rasa nya." ucap Hanz mulai menyatukan milik nya pada milik Azka, menekan dengan lembut namun pasti hingga benar benar terbenam seluruhnya. Azka mendesah merasakan sesuatu yang seingat nya baru ini di rasain nya itu, ia mendesah dan terus menatap wajah Hanz yang tepat di atas wajah nya itu. Sesekali Azka mengigit bibir nya.
Hanz memompa dengan pelan dan penuh perasaan, dengan sesekali berbisik.
"Nikmati lah Azka, agar kau bisa mengingat nya kembali , setidak kau akan mengetahui rasa kita. "
Azka mengangguk dan masih terus mendesah , tangan nya memegangi wajah Hanz yang tak melepaskan pandangan nya pada mata istrinya. Setelah beberapa saat lamanya Hanz beraksi terdengar Azka bersuara.
"Hanz, aku.."
"Lepas kan saja Azka, ayo tumpahkan. Jangan menahan nya.."
Kini Hanz mempercepat irama nya dan Azka yang sudah tidak sanggup menahan nya menjambak kuat rambut Hanz ,dan menarik tubuh Hanz , sambil terus mengerang Azka menggigit bahu Hanz.
"Azka...!" Hanz pun dengan sempurna mencapai puncak nya.
Hanz masih dengan posisi di atas tubuh Azka, menatap wajah Azka yang terengah engah itu, membelai nya dengan lembut sebelum akhirnya melepaskan tubuh nya dan berbaring disisi Azka lalu mendekap tubuh istrinya itu.
"Azka..! Kita saling mencintai. Dan itu berlaku selamanya , apapun yang terjadi. Apa kau mengerti."
"Benar Hanz, meskipun tanpa ingatan ku, aku tetap merasakan nya." jawab Azka menoleh kearah suami nya.
"Tidur lah, ini sudah sangat malam." bisik Hanz terus mendekap istri nya.
Namun hanya beberapa saat lama nya ,tiba tiba Azka bangun dan duduk di atas tubuh Hanz.
"Azka , kau mau apa.?" tanya Hanz sempat bingung melihat nya.
"Aku menginginkan mu lagi Hanz. " tanpa menunggu jawaban Hanz, Azka langsung menyerang Hanz. Hanz hanya bisa pasrah ketika Azka bermain di atas tubuh nya dengan junior nya dan kali ini Azka yang memimpin.
Entah mendapat energi dan pengetahuan dari mana Azka begitu mahir bermain hingga membuat Hanz kali ini harus terus mendesah .
"Azka, hentikan. Kau akan lelah nanti." Hanz hendak meraih tubuh Azka dengan maksud mengambil alih permainan, namun Azka seperti tak mengijinkan nya. Menahan tubuh Hanz agar tetap berada di bawah nya.
Hanz hanya bisa bertahan dengan terus mengeluarkan desahan nya , namun itu hanya berlaku beberapa saat, tiba tiba Hanz meraih tubuh Azka dan membalik kan nya.
"Maaf Azka, aku tidak bisa menahan nya." Hanz kini memimpin dan ronde kedua kali ini benar benar menguras tenaga mereka. Pelepasan yang begitu memuaskan di raih kedua nya, Sampai tubuh mereka terlihat bergetar hebat.
Tubuh mereka berbaring lemas dengan keringat yang masih membasahi kedua nya.
Hanz sempat menyeka keringat di tubuh istri nya yang hanya menatap nya dengan senyuman itu dan kemudian memeluk nya.
"Azka ku yang nakal, kini sudah kembali berulah ." bisik Hanz tersenyum penuh kebahagiaan, dan kedua nya pun kemudian terlelap.
_____________________
"Maaf, akhir yang tidak menyenangkan."
__ADS_1
bye .....