
Sampai di dapur Hanz menghampiri sebuah kulkas dan segera membukanya,meraih sebuah minuman di botol dan meneguk nya., ia masih berdiri mematung di sisi kulkas itu, Entah apa yang sedang ada dipikirannya tiba tiba minuman itu tumpah dilantai saat tegukan berikutnya.
"Sial... " Hanz mengumpat, ia mencari cari lap hendak mengeringkan tumpahan minuman itu.
"Aaawwww..!!!!!." suara jeritan disusul tubuh yang hampir saja tersungkur dilantai, untung tangan Hanz yang kekar dengan sigap menangkapnya. Kedua pasang mata itu saling menatap, terdengar degup jantung kedua nya semakin berdebar. Beberapa detik adegan itu sampai kedua nya kemudian menyadarinya.
"Nona.. Tidak apa apa. .!" Hanz mendengus dengan posisi masih memeluk tubuh itu.
"Iya.. Aku, aku tidak apa apa. Terimakasih.." suara Azka terdengar gugup dan segera bangun menggeser tubuhnya. Wajah nya terlihat merona.
"Maaf kan saya Nona. Ini salah saya. "segera mengambil lap dan mengeringkan air minuman yang tertumpah dilantai dan hampir saja membuat Nona nya terjatuh.
"Aku yang tidak melihat nya Hanz.. " jawab Azka melirik wajah Pria yang dikaguminya itu.
"Kenapa malam malam begini Nona ke dapur..? " tanya Hanz yang juga melirik wajah gadis yang selalu terlintas dibenak nya itu.
"Aku haus, hendak minum" jawab Azka menunduk kan pandangan nya saat tak sengaja mata mereka kembali beradu.
"Memangnya dikamar Nona, pelayan tidak menyediakan minuman.? " Hanz masih memandang lekat wajah Nona nya, kesempatannya saat Nona nya menunduk.
"Ada.. Ya.. Banyak kok. Tapi aku mau cari yang lain." kilah Azka padahal karena tak sengaja ia melihat Hanz berjalan ke dapur lalu ia mengikutinya.
"Anda bisa memanggil pelayan Nona.? "
"Ini sudah malam Hanz, kasian. Mereka juga sedang istirahat. " jawab Azka .
"Baik lah, Anda bisa memilihnya sekarang. " Hanz membuka pintu kulkas.
Azka segera meraih salah satu minuman dan membuka nya.
"Kembali lah ke kamar Nona, dan tidur lah, besok pagi Anda harus ke Perusahaan." ucap Hanz.
"Mari saya antar ." Hanz berjalan mendahului di ikuti Azka dibelakangnya.
Sampai dikamar Azka Hanz membuka kan pintu.
"Silahkan Nona. "
Azka mengangguk dan melangkah memasuki pintu, ia menoleh kembali pada Hanz yang masih berdiri didepan pintu nya. Mata mereka kembali saling bertemu, kali ini tatapan mereka semakin dalam dan seperti ingin saling menyelami.
"Selamat malam Nona."Hanz membungkuk menghindari tatapan mereka.
"Ooh.. Iya. Selamat malam juga Tuan Hanz.. " Azkayra tersenyum manis dan segera menutup pintunya.
__ADS_1
Ia menyandarkan tubuhnya di pintu,memegang dada nya. "Ya Tuhan.. Perasaan apa ini. Dada ku selalu bergetar saat menatap wajah Hanz." Azka berbisik dalam hati.
Diluar pintu Hanz masih berdiri di sana. Menatap pintu itu seolah melihat bayangan Nona nya. Ia menarik nafas dan melangkahkan kaki nya kembali ke kamarnya.
Kini ia berbaring dan mencoba menutup matanya. Kembali dada nya bergemuruh saat teringat kejadian di dapur tadi, ia masih merasakan aroma tubuh Sang Nona yang tak sengaja ia peluk tadi.
"Bagaimana caranya aku melawan perasaan ini. Hari hari ku harus bersama Nona. Ahhhh... Azka.. Kenapa kau harus Nona.? "ia kembali merintih.. Saat teringat pertemuan nya dengan gadis yang bisa langsung membuat nya jatuh hati itu, tapi kenyataan nya gadis itu adalah Nona nya.
____________
Pagi itu, Hanz sudah melangkah memasuki perusahaan Samudra, di samping kanannya Nona Azkayra nya terlihat sangat cantik dan berwibawa. Sedang dibelakangnya Annabel orang kepercayaan Hanz ikut melangkah.
"Silahkan Nona. " Hanz membuka kan pintu sebuah Ruangan Khusus untuk Azka .Yaah.. Ruangan yang kemarin masih milik Ginanjar, dan hari ini akan menjadi milik Azka selama nya.
Azka melangkah memasuki ruangan itu di ikuti Hanz dibelakangnya.Hanz segera menarik kursi dan mempersilahkan Nona nya duduk.
"Annabel, apa kau sudah memberitahukan kepada semua karyawan dan para staf untuk berkumpul di aula. ?" Hanz bertanya pada Asisten nya itu.
"Sudah Tuan sekretaris. Kita hanya tinggal menunggu Tuan besar datang dan segera ke Aula pertemuan. " jawab Annabel penuh wibawa, berbeda sekali saat sedang di Mansion ia terlihat centil dan Agresif.
Tak lama pintu dibuka seseorang, Ginanjar muncul dari balik pintu bersama Bima sang pendamping nya.
"Tuan..Anda sudah datang.?" sapa Annabel merunduk hormat di ikuti Hanz dan juga Azka yang segera berdiri dari kursinya.
"Apa kau sudah siap Azka..? " Ginanjar menatap Putrinya.
"Iya Ayah..! " jawab Gadis itu melirik Hanz yang berdiri disampingnya.
"Baik lah.. Kita segera ke Aula." sang Ayah mengajak.
Mereka akhirnya melangkah bersama kearah Aula Pertemuan. Dengan Ginanjar dan Azka berjalan di depan mereka .
Sesampai nya di aula, semua karyawan dan para staf telah menunggu kedatangan mereka di kursi masing masing dan beberapa diantara mereka ada yang berdiri saja.
Semua mata tertuju pada Azkayra. Namun tak ada satu pun yang berani berbicara sedikitpun.
Rombongan Ginanjar kini sudah berdiri di depan mereka.
"Selamat pagi semuanya.. " Ginanjar menyapa mereka.
"Selamat pagi Tuan.. " mereka serentak menjawab dengan merunduk kan kepala tanda menghormati pimpinan besar mereka.
"Pagi ini ada Hal penting yang ingin saya sampaikan kepada kalian semua. " Ginanjar memulai, mereka semua hening mendengar dengan seksama.
__ADS_1
"Perkenalkan.. Ini Putri tunggal saya, Nona Azkayra Kumala Samudra, yang mulai hari ini akan mengganti kan posisi saya sebagai Pemimpin kalian dan penerus perusahaan Samudra. Dan mulai hari juga segala sesuatu nya tentang Perusahaan saya serah kan Padanya, tentunya tetap dengan Tuan Hanz sebagai pendampingnya. Semoga kalian tetap bisa bekerja sama dengan baik dan dapat meningkatkan kwalitas Perusahaan kita ini." Ginanjar menutup pidatonya di iringi tepuk tangan meriah penyambutan Nona Azkayra Pemimpin baru mereka.
Azka mengangguk hormat ,dan melemparkan senyum penuh persahabatan kepada mereka semua. Kini beberapa dari mereka berani berbisik bisik.
"Cantik sekali dan Ramah pemimpin kita yang sekarang, semoga bisa membawa berkah bagi kita semua. " ucap salah seorang dari mereka.
Dan kini rombongan Ginanjar telah kembali ke ruangan mereka , Para staf dan karyawan pun bubar kembali ke pekerjaan mereka masing masing, masih dengan bisik bisik lirih mereka akan kekagumannya pada Putri Tuannya.
"Hanz.. Kalau begitu aku pulang dulu. Kau bisa meneruskan perkenalan Azka pada para klien kita. Jaga Putri ku dengan baik Hanz.." ucap Ginanjar setelah berada di ruangan yang kini sudah resmi menjadi milik Azkayra.
"Pasti Tuan. " jawab Hanz membungkuk.
"Azka.. Semangat lah.. Hanz akan mendampingi mu, jika kau masih bingung jangan segan untuk bertanya pada Hanz. Dia lebih hebat dan jago dari pada ayah mu ini. " ucap Ginanjar pada Putrinya, kembali memuji Hanz.
"Baik Ayah.. sesuai permintaan Ayah, Azka akan menjalankan semua nya dengan sebaik baiknya. " jawab Azka.
Ginanjar tersenyum lega dan melangkah keluar meninggalkan Putri nya Dan Sekretaris Hanz, di iringi Bima sang Asisten setianya. Sedang kan Annabel segera permisi untuk pergi ke ruangan nya sendiri.
Azka menghampiri Hanz yang masih berdiri, "Hanz.. Aku masih bingung, apa yang harus aku kerjakan..? " ucap nya menatap wajah pria itu. Lagi lagi dada nya berdebar.
"Nona bisa duduk di kursi, melihat saya saja, cepat atau lambat Nona Akan paham dengan sendirinya." jawab Hanz mengalihkan tatapan mata Nona nya.
Hanz mempersilahkan Azka untuk duduk disebuah sofa dan Hanz segera mengambil sebuah komputer yang berada di atas meja Azka. Kini mereka duduk bersebelahan. Hanz mulai memperlihatkan detail detail Perusahaan kepada Azka. Azka sesekali mengangguk mengerti dan sesekali bertanya jika tak mengerti. Kali ini mereka terlihat serius. Hingga hampir dua jam mereka menatap layar komputer itu, Azka mulai merasa bosan. Ia kembali menatap wajah tampan Hanz di samping nya itu.
"Nona kenapa malah menatap saya seperti itu." ucap Hanz tanpa menoleh, ia menyadari Nona nya malah menatap nya bukan menatap komputernya.
"Ooh.. Ya.. Kamu.. Tampan Hanz.. Aku jadi tidak fokus, terganggu sama wajah tampan mu,." jawab Azka berterus terang.
"Karna Nona belum pernah melihat Pria lain selain saya, yang jauh lebih tampan dari saya. " jawab Hanz tersenyum.
"Memang..banyak yang lebih tampan dari mu disini ya..? " tanya Azka merasa konyol dengan sikap nya
"Banyak Nona,banyak sekali. Sebentar lagi akan ada klaien kita dari Luar negri. Nona bisa melihat nya sendiri. Seorang Pria yang masih muda namun sudah menjadi pemimpin perusahaan, Dia tampan dan berwibawa. Mungkin Nona akan jatuh cinta padanya. " jawab Hanz .
"Aahhh. Syok tau kamu. " Azka memukul ringan lengan Hanz.
"Kau tetap Pria tampan yang pertama ku kenal, tak kan terganti dengan yang lain. "Azka berbisik ditelinga Hanz, Seketika dada Hanz bergemuruh terasa hangat nafas sang Nona nya menyentuh telinga nya. Sesaat hampir Hanz tak sadar dibuatnya.
Hanz membuang nafas berat dan berdiri. "Nona saya akan ke ruangan saya dulu mengambil sesuatu, saya akan segera kembali. " ucap Hanz. Yang hanya di balas anggukan ringan Azka.
Hanz segera berlalu..
____________
__ADS_1