
"Ma, kenapa Mama gak pernah buat lisol lagi, gak pelna jualan lagi?" tanya Al tiba-tiba saat sedang dalam perjalanan menuju sebuah Mall, bersama sang Mama dan Albert.
"Nanti kita buka toko, Mama mau jualan risol lagi. Al sekarang tidur ya, nanti kalau sudah sampai Mama bangunin," ujar Aina pada sang putra.
"Oke, Ma." Al yang selalu menuruti permintaan sang Mama, lantas memejamkan mata seolah benar-benar mencoba untuk tidur."
Albert yang tengah fokus menyetir sontak melirik kesamping, dimana Aina sedang duduk sambil memangku Al. "Memangnya dulu Kak Ai jualan risol?"
"Ah itu, iya. Risol mayo dan beberapa kue basah lain. Rencananya nanti di toko, aku akan menambahkan menu itu." Aina mengeluarkan ponselnya, mengambil ponsel untuk melihat foto dagangannya dulu. "Tampilannya seperti ini, kira-kira bagus tidak?"
Albert kembali melirik sebentar, melihat gambar risol yang terpampang dilayar ponsel Aina. "Kelihatan enak. Sepertinya Kakak benar-benar serius dengan bisnis cake n pastry ini."
"Ya, saat hamil Al, aku bercita-cita mempunyai brand cake and pastry ku sendiri. Tidak aku sangka Papa Antonio mewujudkan semuanya. Meski aku diminta untuk memantau saja, tapi aku ingin tetap berusaha semaksimal mungkin, agar bisnis ini bisa berhasil."
Albert kembali mengembangkan senyum, dia tahu sejak dulu Aina adalah orang yang pantang menyerah dan pekerja keras, meski sudah menjadi istri seorang El Barack Alexander. "Kak El sangat beruntung bisa mempunyai istri seperti Kak Ai, jujur aku iri."
__ADS_1
"Kenapa harus iri? Hubungan aku dan dia tidak seperti yang kamu bayangkan. Tidak selancar itu, saat ini pun aku masih merasakan jika dia begitu tinggi diatas sana, sementara aku hanya wanita biasa. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik dariku."
"Sepertinya Kakak belum mengenal Kak El dengan baik. Empat tahun belakangan ini, Kak El menjalani masa-masa sulit, yang membuat kepercayaan dirinya hancur. Melihat dia sekarang, membuat aku merasa dia sudah menemukan kebahagiaannya dalam diri Kak Ai dan Al."
"Masa sulit seperti apa yang kamu maksud, Papa juga sempat membahas ini, tapi sampai sekarang aku tidak paham. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Aina yang semakin nampak penasaran.
Bukannya menjawab, Albert malah nampak terdiam. Dia berpikir, haruskah dia menceritakan semua yang El Barack alami saat berada di Melbourne. "Sepertinya aku tidak punya hak untuk membahas hal itu, kalau Kakak penasaran, bisa tanya Kak El langsung."
"Huuft." Aina menyadarkan tubuhnya seraya menghela napas pelan. "Apa masalahnya seberat itu? Entah kenapa aku merasa, dia tidak sekuat yang terlihat sekarang.
***
Pukul satu siang, transaksi selesai begitu cepat hanya dengan satu tanda tangan yang dibubuhkan oleh El-barack diatas materai. Dia melangkah cepat, bersama Boril, menuju sebuah ruangan yang disiapkan khusus untuknya. "Apa dia sudah didalam?"
"Sudah, Tuan. Meskipun anda emosi, saya harap anda bisa menahan diri, walau bagaimanapun dia seorang perempuan." Boril terus mencoba mensejajarkan langkahnya dengan El-barack.
__ADS_1
Langkah El-barack terhenti saat sampai didepan ruangan yang dituju. Dia berbalik menatap Boril sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak akan mengunakan tinjuku saat berhadapan dengan seorang wanita." Dia menunjuk bagian kepalanya. "Aku menggunakan ini. Ayo masuk."
"Baik, Tuan." Boril segera membuka pintu itu lebar-lebar. El-Barack melanjutkan langkahnya, dia bisa melihat seorang wanita sedang duduk sendiri di salah satu kursi yang ada di ruangan yang biasa dipakai untuk rapat.
Tanpa basa-basi, El-barack segera duduk dihadapan wanita yang terlihat begitu angkuh saat menatapnya. "Saya tidak akan berbasa-basi, mulai hari ini, kamu di pecat secara tidak hormat dari Win Grup."
Lagi-lagi Boril menepuk jidatnya, melihat tingkah El-barack. Ya, dia tahu El Barack adalah orang yang spontan, tapi dia tidak tahu jika sikap spontan itu juga berlaku disaat seperti ini.
Sementara Sisil terlihat kesal. Dia awalnya bingung, kenapa tiba-tiba diperintahkan oleh HRD datang ketempat itu. "Hey, memangnya anda direktur perusahaan Win grup, bisa memecat saya?"
El-barack mengambil selembar kartu nama dari saku jasnya dan langsung dia lemparkan ke atas meja. "Saya adalah CEO Rich Grup dan sekarang Win grup sudah saya beli atas nama istri saya, Aina."
"A-apa?" Mata Sisil membulat sempurna, tubuhnya pun bergetar hebat saat mendengar pria dihadapannya itu menyebut nama Aina.
Bersambung 💕
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote n hadiah untuk Author ya gaess... 🙏🥰