After One Night Mistake

After One Night Mistake
Jangan pernah kembali


__ADS_3

Albert baru saja sampai di bandara. Akhirnya dia bisa bernafas lega, karena sudah memenuhi janjinya kepada Antonio, meski dia tidak menerima satupun wanita yang di rekomendasikan oleh sang Paman.


Saat tengah melangkah bersama seorang asistennya, tiba-tiba Albert berhenti, saat memandangi seorang wanita dari jarak lima meter. Hal itu membuat dia menghentikan langkahnya.


"Kamu tunggu di mobil, saya ingin memastikan sesuatu sebentar," ucap Albert pada asistennya.


"Baik, Tuan." Pria bertubuh kekar itu menduduk hormat lalu melanjutkan langkahnya menuju parkiran, sementara Albert pergi ke tempat berbeda.


Albert terlihat ragu namun dia semakin mempercepat langkahnya untuk memenuhi rasa penasaran yang kian sangat. Rasanya tidak mungkin, tetapi dia tahu matanya tidak mungkin salah.


Dari arah belakang tangannya bergerak perlahan menepuk pundak wanita itu. dan saat wanita itu berbalik Albar benar-benar tak percaya. "Mama, kenapa bisa disini. Bawa koper besar lagi, mau kemana?"


Ya, wanita itu adalah Merry semenjak bertemu dengan El Barack kemarin dia terus dilanda kecemasan, akan kejahatan di masa lalu yang pernah dia lakukan.

__ADS_1


Setelah berpikir panjang akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke luar negeri, menenangkan dirinya sementara waktu sampai situasi mereda.


Meri terlihat panik, Setelah lama tak bertemu bagaimana bisa dia kembali bertemu dengan putranya di bandara. "Oh itu ... Mama ada urusan bisnis, dan mungkin akan tinggal beberapa waktu di Paris, kamu sendiri?"


"Oh aku ...." tiba-tiba nampak ragu untuk menceritakan bahwa dia baru saja pergi ke dua negara yang berbeda hanya untuk memenuhi permintaan Antonio. "Aku juga ada urusan pekerjaan."


"Oh ya, baiklah. kalau begitu jaga diri kamu baik-baik mungkin Mama akan menetap sedikit lama di sana. Kalau begitu Mama berangkat dulu." Tanpa menunda waktu apa lagi mendengarkan Sang putra bicara lebih banyak, Merry segera melanjutkan langkahnya menuju pintu keberangkatan.


"Ta-tapi Ma, kenapa tiba-tiba!" Albert masih coba untuk memanggil namun sayangnya sama mama terus melangkah menjauh seperti sedang dikejar waktu.


***


Sementara itu di tempat berbeda setelah menghabiskan satu ronde bercinta. El Barack dan Aina dudu saling merangkul di balkon kamar.

__ADS_1


Mereka menikmati pemandangan malam berdua sambil menceritakan berbagai hal tentang diri mereka masing-masing. Ya, meski hati sudah sama-sama tertaut namun mereka terus belajar memahami satu sama lain.


Tatapan keduanya terus mengarah ke arah langit malam yang terlihat begitu cerah malam ini. Terlebih Aina yang sejak tadi menyandarkan kepalanya di pundak kokoh sang suami.


"Kamu sudah janji, aku tetap boleh menjajakan bisnis kue ku, awas saja kalau bohong," ujar Aina tiba-tiba.


Hal itu membuat El-Barack terkekeh. "Ya, sebenarnya tergantung. Kalau kamu terluka lagi, membuat aku panik lagi aku pasti kamu tidak akan pernah meninggalkan mansion ini lagi," ucap El-barack.


"Hm, maaf. Jangan dibahas lagi. Kejadian di lift itu hanya kecelakaan, aku sering melihat kejadian seperti itu di televisi," cicit Aina.


Mendengar itu, El-barack menoleh menatap sang istri. "Sebenarnya kecelakaan yang kamu alami itu bukanlah kecelakaan biasa. Ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai kamu."


Kali ini Aina kembali menegapkan kepalanya, menatap sang suami dengan mata yang tak berkedip sekalipun. "A-apa maksud kamu?"

__ADS_1



__ADS_2