
El-barack membaringkan Al diatas tempat tidur lalu mengecup singkat pucuk kepalanya. Ditatapnya sang putra cukup lama, entah apa yang sedang dia pikirkan. Hingga akhirnya Aina datang memecah keheningan.
"Aku mau bicara sebentar, bisa?" Pinta Aina sesaat setelah berdiri dihadapan sang suami. Dari raut wajahnya nampak rasa penasaran yang amat sangat, sejak di rumah sang Kakak dia terus menahan diri untuk bertanya.
El-barack berdiri dari posisinya. "Ikut aku." Ditariknya tangan Aina agar mengikutinya ke ruang kerja, agar tidak mengganggu Al yang sedang tertidur lelap.
Sesampainya diruang kerja, El melepaskan tangan sang istri lalu duduk disebuah sofa panjang yang ada di ruangan itu. "Duduk dan bicaralah, aku akan berusaha untuk mendengarkan."
Aina menarik napas panjang panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Dia melangkah duduk disamping samping sang suami. "Kenapa kamu melakukan semua ini, tanpa bertanya apa aku setuju apa tidak?"
"Karena aku tahu kamu tidak akan setuju." El yang awalnya santai, kini mengubah posisi, menghadap sang istri. "Kamu pernah meminta aku untuk melindungi kamu dan Al, dan seperti inilah caraku."
"Iya, tapi kamu tidak perlu memamerkan harta kamu di depan mereka. Memberikan Kakakku hadiah mobil semewah itu, sangat amat berlebihan. Jangan lakukan lagi, aku mohon."
__ADS_1
Sejenak El-barack nampak terdiam saat mendengar ucapan Aina. Dia sudah menebak sejak awal jika sang istri akan memberikan respon seperti ini, namun bukan El-barack namanya jika tidak bisa mengatasi semua itu.
"Apa kamu tidak bisa berkata 'Kerja bagus suamiku, terima kasih karena kamu sudah membuat nenek lampir itu terperangah dan berhenti merendahkan aku' Setidaknya kamu harus bersikap baik padaku, aku melakukan semua ini karena aku perduli padamu."
"Kenapa kamu perduli padaku, apa aku ini sangat berarti untukmu?" Dengan kedua mata yang memicing curiga, Aina menyondongkan tubuhnya menatap sang suami dengan lekat. "Sudah lama aku ingin bertanya, apa mungkin ... kamu kasihan padaku?"
El-Barack menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Kenapa Aina malah berpikir jika sikap dan perilakunya saat ini adalah sebuah bentuk kasihan. "Kita sudah tidur bersama dan apa kamu pikir semua tindakanku itu adalah bentuk kasihan?"
"Ya bisa saja, aku tahu kamu melakukan itu bersamaku hanya karena na*su saja 'kan? Kamu hanya terpancing malam itu, karena situasi yang membuat kita menginginkan satu sama lain, iya kan?"
Satu sentilan diberikan El tepat di dahi sang istri. Dia begitu kesal saat niat tulusnya malah di anggap permainan oleh Aina. "Apa aku seburuk itu? Aku tidak akan melakukan hubungan hanya berdasarkan na*su saja."
Aina yang sempat mendekat kini memundurkan tubuhnya sambil mengusap dahi yang terasa berdenyut. "Lalu kalau bukan kasihan, apa kamu mencintaiku?" tanyanya reflek.
__ADS_1
Pertanyaan Aina berhasil membuat El-Barack bungkam seribu bahasa. Hal itu membuat Aina semakin sadar jika dia tidak akan mendapatkan ungkapan cinta dari sang suami.
Setelah beberapa saat hening, Aina segera berdiri dari posisi duduknya. "Sudahlah, anggap saja aku tidak pernah menanyakan hal itu. Malam ini kamu tidur di sini saja." Dia berbalik dan segera melangkah menuju pintu.
Aina tidak menyangka, kenapa dia bisa bertanya tentang hal itu. Padahal dia tahu dan dia mengerti jika El-barack mengalami trauma tentang percintaan. Meski dia berusaha tak perduli, nyatanya hati tetap menginginkan sebuah pengakuan.
El berdiri dengan ekspresi tak percaya. "Tidur disini, Ai kamu tega nanti aku kedinginan bagaimana!"
Aina yang sudah meraih handel pintu, menoleh kebelakang. "Peluk bantal sofa saja, selamat malam."
El Barack hanya bisa menghela napas panjang saat melihat Aina benar-benar keluar dari ruangan itu. El Barack menoleh menatap sebuah patung baja yang terpajang di samping sofa. "Kenapa wanita begitu rumit untuk dipahami. Aku memperlakukan dia dengan sangat istimewa, hal itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa aku menyukainya, 'kan?"
Krik...kriik..krik.
__ADS_1
Ya, tentu saja patung itu tidak akan bisa menjawab.
Bersambung 💕