After One Night Mistake

After One Night Mistake
Aku mencintaimu!


__ADS_3

Aina masih diam, menatap mata El-barack dengan sejuta pertanyaan yang mulai memenuhi pikirannya. Apakah semua ini nyata atau lagi-lagi hanya bagian dari rasa simpatik El-barack.


Lagi-lagi nurani dan logikanya tak sefrekuensi. Bukannya memberi jawaban, dia malah berbalik lalu melangkah dengan raut wajah tak percaya. Begitulah wanita, sulit untuk dimengerti dan sulit untuk mengerti.


El-Barack pun bingung melihat Aina tidak menanggapi ungkapan hatinya. "Ai, kamu tidak mengatakan apapun, itu tandanya aku mencintai kamu!"


Aina berhenti sebentar kemudian kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak tahu harus menjawab seperti apa, karena sebelum hari ini sang suami terlihat ragu dan tiba-tiba saja mengaku telah mencintainya.


"Ai, aku mencintaimu, apa kamu dengar!" Tidak sesuai ekspektasi, El-barack tak percaya Aina malah pergi meninggalkannya begitu saja. "Dia itu kenapa, aku sudah mengungkapkan perasaanku tapi malah kabur."


***


Boril yang kembali mendapatkan tugas dadakan, malam ini kembali mendatangi sebuah unit apartemen untuk kedua kalinya. Nampak ragu namun akhirnya dia memberanikan diri memencet bel.


"Heh, sekretaris Boril, ada perlu apa?" tanya Yuna sesaat setelah pintu terbuka. Dia menatap heran pria tinggi yang saat ini sedang berdiri di hadapannya.


"Apa aku boleh masuk? Aku kemari untuk membicarakan sesuatu yang penting, lagi." Pinta Boril kepada sahabat Nona mudanya itu. "Ini tentang Nona Ai," tambahnya.


Jika saat awal Boril datang ke apartemennya, dia merasa takut, tetapi kali ini dia mulai terbiasa. Dia tidak bisa mengelak jika berhadapan hidup Aina akan selalu bersangkutan dengannya.

__ADS_1


Yuna segera membuka pintu apartemennya selebar mungkin. "Silakan masuk, kita bicara di dalam. Sebenarnya aku juga ada beberapa pertanyaan mengenai Tuan El."


Tanpa menunggu lama, Boril segera masuk. Meski sebenarnya dia selalu saja gugup saat datang ketempat itu, ya selama ini dia tidak pernah mendatangi rumah wanita, tetapi karena El-barack dia mau tidak mau melakukan hal itu.


Saat masuk ke dalam, Yuna mempersilahkan Boril duduk sementara dia sendiri langsung kedapur untuk mengambil minuman dingin dan cemilan.


Setelah beberapa saat dia kembali dan langsung meletakkan cemilan diatas meja. "Silakan diminum dulu ... enaknya aku panggil apa ya saat diluar jam kerja seperti ini?"


"Panggil Boril saja, tidak apa," ucap Boril sambil membuka satu kaleng minuman soda dan langsung meneguknya beberapa kali. "Huuft. Maaf, aku sangat haus." Dia segera meletakkan minumannya diatas meja lalu kembali menegapkan posisinya.


"Kak Boril saja kalau begitu. Sebenarnya apa lagi yang ingin Tuan El ketahui tentang Aina, aku pikir obrolan kita waktu itu sudah cukup membahas tentang Aina, aku sudah menceritakan semuanya."


"Nah tuh kan!" Tiba-tiba Yuna terlihat antusias. "Sudah saya duga, Tuan El pasti pada akhirnya akan jatuh cinta kepada Aina. Sudah beberapa hari ini Aina nampak murung karena memikirkan hal itu."


"Benarkah?" Boril menyondongkan tubuhnya sedikit lebih kedepan agar bisa menyimak dengan serius. "Apa Nona Aina juga mempunyai perasaan yang sama?"


"Em ... entahlah. Tapi aku rasa begitu, tidak mungkin dia memikirkan Tuan El sampai sedalam itu jika tidak mempunyai perasaan apapun," ucap Yuna sambil membayangkan raut wajah Aina siang tadi.


"Huftt, semoga saja mereka bisa saling memahami satu sama lain dengan lebih baik. Setelah memastikan mereka bahagia, mungkin giliranku untuk mencari pasangan," ujar Boril lalu kembali meneguk minumannya.

__ADS_1


"Heh, Kak Boril jomblo?" tanya Yuna.


Pfftt.


Boril sampai menyemburkan minumannya saat mendengar ucapan Yuna. "Ehm, ya memangnya kenapa?"


Yuna menggelengkan kepalanya perlahan. "Di kantor banyak yang mengaku sudah berkencan dengan Kak Boril, aku hanya tidak menyangka saja. Ck, jangan tegang begitu santai saja, aku tidak akan ikut campur urusan hidup Kakak."


Boril nampak tidak terima saat melihat tatapan mata Yuna seolah curiga kepadanya. "Kamu percaya ucapan para wanita itu? Selama bekerja aku tidak pu--"


"Eiits sudahlah." Potong Yuna. "Ini sudah waktu makan malam, apa Kakak mau makan makan mie instan buatanku?"


Entah kenapa wajah Boril mendadak memerah. Dia tidak pernah berada di situasi seperti ini, dalam satu ruangan bersama wanita, lalu wanita itu mengajaknya makan bersama.


Separuh hidupnya dia habiskan bersama keluarga Alexander, hingga tidak punya waktu untuk mengenal dan bersosialisasi dengan lawan jenis seintens ini.


"Kak Boril, mau tidak!?"


Lamunan Boril buyar seketika. "Oh i-iya boleh. Kebetulan aku lapar."

__ADS_1


Bersambung 💕


__ADS_2