After One Night Mistake

After One Night Mistake
Camkan itu!


__ADS_3

Merry melangkah mendekati sang keponakan sambil berpangku tangan. Sekilas senyum jahat itu terlihat tergambar diwajah wanita berusia 45 tahun tersebut. "Jika memang kamu ingin mengobrol, duduklah."


Rahang El-barack mulai menegang, dia menoleh kesembarang arah sebelum akhirnya kembali melihat sang Tante. Rasanya dia tidak ingin berbasa-basi. "Tidak usah, saya datang hanya untuk bertanya satu hal. Apa Tante yang hampir mencelakai Aina kemarin?"


"Hm?" Tiba-tiba aja Merry membisu. Dia tidak menyangka kedatangan El-barack akan membahas hal yang tidak terduga. Ya, dia merencanakan semuanya secara rapi tetapi pada dasarnya dia memang selalu gagal mengelabui El-barack, baik dulu ataupun sekarang.


"Ah Tante sudah dengar masalah kemarin dari teman Tante, itu sudah biasa terjadi disemua bangunan yang mengunakan lift."


El-barack kembali berdecak sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana. "Ck, sepertinya pertanyaanku kurang tepat." Sorot mata elang itu kembali terlihat tajam, menatap Merry seolah hendak menerkam. "Seharusnya aku bertanya, kenapa Tante ingin menyingkirkan Aina?"


"Hah, kamu ini apa-apaan sih, bicara tidak jelas. Pulanglah, sebentar lagi tamu Tante akan datang." Merry hendak berbalik namun El-barack dengan sigap menarik tangannya. "Hey kamu berani!"

__ADS_1


"Ya!" Kali ini El-barack terlihat begitu tegas. Jika dulu, tepatnya puluhan tahun silam, dia hanyalah seorang bocah yang selalu kalah saat diperlakukan tidak baik oleh sang Tante, maka hari ini dia adalah El-barack Alexander yang berdiri diatas pendiriannya sendiri.


Merry nampak tak percaya, rasanya baru kali ini El-barack bicara dengan nada keras kepadanya. Sepertinya dia terlalu meremehkan sikap cuek dan dingin El-barack.


Dulu sekali, saat Ibu El-barack meninggal dunia Merry adalah satu-satunya orang yang dipercaya oleh Antonio untuk merawat dan menjaga El-barack, karena saat itu Antonio sangat sibuk dengan pekerjaan hingga jarang pulang.


Saat itu, El-barack seperti hidup didalam neraka, seolah dia sedang dirawat oleh seorang Ibu tiri yang sama sekali tidak menyayanginya. Dia di kurung dan di pukul, setiap malam hanya mengurung diri dikamar karena takut dengan Merry.


Kedua mata El-barack terlihat memerah, dia semakin mencengkram erat pergelangan tangan sang Tante. "Aku sudah cukup dewasa untuk diperlakukan buruk. Aku pikir masa penuh siksaan yang tante lakukan itu sudah berakhir jadi aku berusaha untuk berdamai dengan keadaan, melupakan apa yang tante lakukan diamasa kecilku. Tapi! ... Tapi ternyata Tante masih saja mengusik aku, bahkan sekarang istriku juga?"


Dengan gerakan cepat El-barack mendorong tubuh sang Tante hingga membentur tembok. Tangan kekarnya mence*Kiik leher Merry. Dia benar-benar marah dan kehilangan kesabarannya sekarang.

__ADS_1


Meski begitu marah, namun wajahnya lebih memperlihatkan ekspresi kekecewaan yang teramat dalam, hingga matanya mulai berkaca-kaca. "Aku akan diam jika Tante mengusikku, tapi tidak dengan wanita yang aku cintai!"


Kali ini air mata kekecewaan itu benar-benar tumpah membasahi pipinya. Sementara Merry terus mencoba melepaskan diri dari ceki"an sang keponakan.


El-barack terus menekan pergelangan tangannya, seolah enggan untuk melepaskan. "Dua puluh tahun lalu, aku pernah gagal melindungi orang yang begitu aku cintai dari rencana jahat Tante. Tapi sekarang aku bukan bocah kecil itu lagi."


"A-apa maksud kamu?" tanya Merry yang nampak kesusahan.


Sejenak El-barack nampak terdiam namun Air matanya kembali tumpah, jika mengingat kejadian belasan tahun lalu, kejadian yang terjadi didepan matanya namun dia tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis tanpa suara. "Ma-mama ... aku tidak akan pernah melupakan kejadian di danau dua puluh tahun yang lalu."


El-barack segera melepaskan cengkraman tangannya dari leher Merry, membuat wanita paruh baya itu terduduk lemas di lantai ruangan. "Ini adalah peringatan pertama dan terakhir. Sekali saja Tante mengusik keluarga kecilku, aku akan pastikan Tante merasakan seperti apa yang Mama rasakan dua puluh tahun lalu, paham!"

__ADS_1


Suara El-barack menggema ke sekeliling ruangan, membuat Merry tertunduk dengak tubuh bergetar hebat. Setelah beberapa saat dia mendengar langkah kaki El-barack semakin menjauh pergi. Dia mulai memberanikan diri, memandangi kepergian keponakannya itu.


Sial apa saat itu dia menyaksikan apa yang aku lakukan kepada Alana, ibunya, batin Merry.


__ADS_2