
Aina nampak begitu serius mendengarkan cerita El-barack tentang kejadian kemarin dan masa kecilnya, ya masa kecil yang begitu kelam dan berat untuk dilalui anak umur delapan tahun.
Masa itu tidak akan pernah di lupakan El-barack, meski sekarang dia sangat bersyukur bisa lepas dan membuktikan jika dia pantas menjadi penerus keluarga Alexander.
Perlahan El-barack merebahkan tubuhnya dipangkuan sang istri. Pandangannya terus mengarah ke langit malam. "Masa itu, sangat berat. Papa sibuk dan Tante yang sama sekali tidak tulus memperburuk keadaan. Aku ingin lari tapi aku tau, sejak lahir aku sudah dipersiapkan untuk posisi saat ini."
Helaan napas Aina terdengar lirih. Dulu saat dia ditinggalkan kedua orangtuanya dalam keadaan tak punya apa-apa, Aina merasa hidupnya tak punya arah dan tujuan.
Namun saat mendengar cerita El-barack, dia sadar jika orang yang mempunyai segalanya dalam hidup pun, bisa hidup dalam ketakutan, keterpurukan dan ancaman.
Tangan letiknya menyapu pelan pipi El-barack, entahlah, melihat sang suami bersikap manja seperti ini, membuat Aina merasa sangat dicintai. "Aku paham, dan lain kali aku akan berhati-hati dengan tante Merry."
"Kamu tenang saja, aku sudah memberikannya pelajaran. Aku tebak sekarang dia sedang merencanakan perjalanan ke luar kota atau mungkin keluar negeri," jelas El-barack sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Aina sampai tak bisa berkata-kata. Ya, sedikit demi sedikit dia sudah paham tentang sikap sang suami, yang selalu bertindak spontan sesuai kata hatinya. "Huuft, jika memang begitu semoga saja, Tante Merry bidan merenung kesalahannya dan kembali dalam keadaan hati lebih baik."
El-barack mengubah posisinya, melingkarkan tangannya di pinggang ramping itu sambil menenggelamkan wajahnya di perut Aina. "Entahlah, aku tidak mau memikirkan hal yang tidak pasti. Sekarang yang aku inginkan hanyalah, kamu."
"Aku? Hey, jangan bilang akan ada ronde selanjutnya?" tanya Aina membulatkan mata.
El-barack mengangkat kepala, menatap sang istri seraya memperlihatkan giginya yang berjajar rapi. "Kamu tau saja, ayo kita masuk. Aku sudah semangat lagi."
"Sayang," lirih Aina dengan manja.
Di tempat berbeda, Yuna sedang berdiri di ambang pintu unit apartemennya, menatap seorang lelaki yang lagi-lagi datang tanpa maksud dan tujuan yang jelas. "Kali ini ada perlu apa lagi Kak Boril?"
Ya, Pria itu adalah Boril. Semenjak sering mendapatkan tugas dari El-barack, dia malah menjadi betah dan sudah menganggap rumah Yuna sebagai rumah keduanya.
__ADS_1
Namun percayalah, bukan hanya itu saja alasannya. Boril mengangkat tangan kanannya kehadapan Yuna. "Aku punya cemilan dan minuman soda, ayo mengobrol."
Yuna lagi-lagi menghela napas, bukannya tidak suka tapi dia tidak enak dengan para penghuni lain jika ada seorang pria yang datang ke tempatnya bahkan sampai menginap. "Tapi Kak ini sudah jam sembilan malam dan aku ha--"
"Ini tentang Kak Lin." Potong Boril. "Aku ingin berdiskusi dengan kamu dan memperlihatkan beberapa bukti yang aku punya, bisa?"
Yuna mengerjap bingung, terdiam seperti sedang berpikir. "Be-benarkah?" Tanpa menunda waktu dia segera membuka pintu lebar-lebar, kalau begitu silakan masuk."
Senyum lebar kini merekah indah di wajah Boril, tanpa ragu dia melangkah dengan gagahnya masuk kedalam unit apartemen, benar-benar sudah seperti rumah sendiri.
Sebelum masuk semakin dalam, dia membuka sepatunya dam di letakkan di atas rak bersebelahan dengan sepatu kerja Yuna.
Melihat itu, Yuna sampai terperangah dan menggelengkan kepalanya perlahan. "Ck, dia bertingkah seolah pemilik unit ini, anehnya aku malah menyambut dan menjamunya seperti teman hidup," gumam Yuna.
__ADS_1
Bersambung 💕