After One Night Mistake

After One Night Mistake
Gagal Estetik


__ADS_3

Perlahan El-barack membalik tubuh sang istri agar menghadap kearahnya. Tangan kekarnya menelusup masuk ke tekuk leher sang istri, perlahan dia mendekat dan menyapu pelan bibir Aina.


Dimalam pergantian tahun, El sudah merencanakan semuanya sesempurna mungkin. Memulai lembaran baru tanpa rasa ragu. Setelah beberapa saat tautan keduanya terlepas.


"Malam ini, kamu milikku sepenuhnya. Apa kamu siap untuk bermain-main denganku?" tanya El-barack dengan tatapan menggoda. Nalurinya sebagai seorang lelaki tidak bisa dibendung lagi.


Dia menginginkan Aina, menuntaskan keinginan yang sejak sore tadi mendesak untuk selesaikan. "Kamu sangat cantik malam ini, ayo masuk."


Aina terlihat pasrah saat El-barack menariknya masuk kedalam kamar namun tiba-tiba dia menghentikan langkahnya saat merasakan ada sesuatu yang aneh. "Tunggu sebentar."


El Barack berbalik menatap sang istri dengan kening mengerut. "Kenapa? Apa kamu masih gugup, ayolah Ai kita sudah pernah melakukan ini sebelumnya."


"Aku harus ke toilet sebentar saja." Aina melangkah cepat masuk kedalam kamar mandi. Entah apa yang terjadi padanya.


Sementara El-barack dengan sabar menunggu, dia duduk di sebuah sofa mewah yang menjadi fasilitas di kamar Presidential Suite. "Huuft, sepertinya dia gugup karena ini untuk kedua kalinya kami ...."

__ADS_1


El-barack terus tersenyum-senyum sendiri, saat membayangkan apa yang akan mereka lalui sebentar lagi. Sambil menunggu, dia menuang wine lalu meneguknya perlahan.


Tak lama, Aina keluar dari kamar mandi dengan kepala tertunduk lemas. Melihat itu El-barack segera menghampiri istrinya. "Kamu kenapa, tidak usah gugup. Kita bukan pengantin baru."


Perlahan Aina mendogakkan kepalanya, menatap El-barack dengan raut wajah sendu. "Aku bukannya gugup. Aku sangat ingin melewati malam ini bersama kamu, tapi ... tapi tiba-tiba aku datang bulan."


"A-apa." Senyum yang sempat merekah kini pupus sudah. Rencana sempurna yang El-barack susun sejak siang tadi kini gagal total. "Maksudnya kamu haid?"


Aina menganggukkan kepalanya lemas. "Apa kamu bisa pergi membelikan aku pembalut di supermarket atau minimarket terdekat? Aku takut tembus," pinta Aina.


"Iyalah siapa lagi, masa iya aku yang pergi. Kalau bocor bagaimana? Ayolah, katanya sayang, katanya cinta. Apa cuma sedangkal ini ra--"


"Iya iya." Potong El-barack. "Aku akan membelikan kamu pembalut sekarang." Dengan lemas El-barack melangkah mengambil kunci mobil dan juga jasnya. "Tunggu sebentar."


"Oke, terima kasih." Aina melambaikan tangannya seraya tersenyum bahagia. Ya, sesederhana itu, saat sang suami menuruti keinginan recehnya, Aina sudah merasa dicintai dan di hargai.

__ADS_1


***


Sesampainya di mini market, El-barack nampak kebingungan mencari pembalut namun sungkan untuk bertanya. Dia terus mondar-mandir tidak jelas di depan rak sampai membuat pegawai minimarket mendekatinya.


"Maaf, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang bertugas malam ini.


"Ehm, itu saya ...." El-barack menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Itu saya mau membeli anu ... pe-pembalut," jawabnya terbata.


"Oh pembalut. Silakan ikut saya Tuan." Wanita itu melangkah diikuti El-barack dari belakang, menuju tempat di mana pembalut wanita tersusun rapi. "Tuan mau beli pembalut merek apa, mau yang bersayap atau tidak?"


Kenapa pembalut saja banyak sekali macamnya, apa Aku harus menelpon Ai ... tidak, aku tidak boleh menelponnya, batin El-barack.


"Ehm, yang mana ya ...." Sejenak El-barack nampak berpikir sambil memandangi satu merek pembalut yang ada di rak. "Saya beli semua merek dan semua tipe."


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2