After One Night Mistake

After One Night Mistake
Krisis Kepercayaan Diri


__ADS_3

Malam semakin larut, namun mata Aina tak juga tertutup, pikirannya kalut melihat dan merasakan sikap El-barack yang tiba-tiba saja berubah. Ya, sejak sore tadi pria itu lebih banyak diam dan menghindari Aina.


Saat ini pun El memilih menghabiskan waktunya di ruang kerja semalaman. Aina yang nampak gelisah akhirnya memutuskan untuk menghampiri El di ruangannya.


Perlahan dia membuka pintu mengintip kedalam. Dia bisa melihat suaminya itu sedang duduk dengan tegas di belakang meja, menatap serius layar laptop.


Apa aku harus masuk ya ... kenapa dia tiba-tiba saja cuek begini, biasanya setiap mau tidur dia pasti akan menggangguku, batin Aina.


Lama dia berdiri disana, hingga detik selanjutnya memberanikan diri untuk masuk kedalam. Dia mulia terlihat gugup saat pandangan El mengarah kepadanya. "Ehm, aku tidak bisa tidur."


"Apa kamu menungguku?" El kembali mengarahkan pandangannya ke layar laptop. "Aku mungkin akan lembur semalaman, kamu tidur saja."


Pasti ada yang dia sembunyikan. Apa pertanyaanku sore tadi benar-benar menyakiti hatinya, batin Aina.


Tidak ingin menyerah, Aina malah melangkah mendekat dan langsung duduk di depan meja. Beberapa menit dia terdiam, sambil memandangi El dengan pikiran yang ramai dengan banyak pertanyaan.


"Maaf." Kata itu tiba-tiba saja keluar begitu saja dari mulut Aina. Entahlah, dia merasa harus mengucapkan itu dan beranggapan jika dirinya mungkin sudah melakukan kesalahan yang membuat sikap El sedikit berbeda malam ini.


Sontak El langsung menghentikan aktivitasnya, dipandanginya sang istri dengan kening mengerut tajam. "Kenapa kamu minta maaf?"


"Entahlah, aku merasa telah melakukan kesalahan. Pertanyaanku sore tadi sepertinya membuat kamu kurang nyaman. Aku tidak bermaksud lancang, tapi ... aku hanya ingin kata 'Asing' itu hilang diantara kita. Seperti yang beberapa hari lalu kamu bilang, cobalah untuk mencintaiku dan aku akan melakukan hal yang sama."


El-barack memandangi Aina tak percaya, dia tidak menyangka jika wanita dihadapannya itu malah merasa bersalah terhadapnya. Padahal yang sebenarnya terjadi malah sebaliknya. "Sebenarnya, aku yang merasa bersalah kepada kamu."


Dia menutup layar laptopnya, mendekat dan langsung bersimpuh dihadapan Aina. Di tatapnya sang istri dengan sorot mata berbinar-binar. "Sebenarnya saat ini, aku bukan lagi pria yang sempurna."


"Apa maksudmu?" tanya Aina dengan perasaan yang mulai bergejolak. Dia benar-benar penasaran dengan semua teka-teki yang sampai hari ini belum juga terungkap tentang El Barack.


Dia kembali tertunduk dengan helaan napas berat. "Aku ...." El nampak berpikir sebelum menyampaikan semua tentang dirinya kepada Aina. "Empat tahun yang lalu, saat kasus skandal itu, aku di diagnosa kanker perut dan sudah masuk stadium dua. Saat itu aku harus menjalani kemoterapi dan pengobatan."


Kepala yang sempat tertunduk malu, kini memberanikan diri kembali menatap mata Aina. "Dokter bilang kemungkinan besar aku tidak bisa memiliki keturunan, efek dari kemoterapi itu. Aina, sejak sore tadi aku berpikir, jika aku terlalu egois. Sebelum kita memulai lebih dalam, aku ingin kamu berpikir lagi, jika kamu tidak bisa menerima kondisiku, aku akan mele--"

__ADS_1


"Apa itu penting?" ucap Aina memotong ucapan El-barack. "Bagaimanapun kondisimu dan dalam keadaan apapun, kamu tetap suamiku 'kan? Kamu yang mengajak aku untuk memulai komitmen untuk saling menerima lalu sekarang kamu ingin pergi? Maaf aku tidak akan pernah melakukan hal itu."


***


"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu. Aku akan tetap disini, disisimu dan Al," lirih Aina. Dia melepaskan genggaman tangan El-barack dari tangannya, mulai berdiri sambil menyeka air mata. "Huuft, aku anggap semua ini sudah selesai. Silakan kembali bekerja, aku mau tidur."


Saat hendak berbalik pergi, El segera berdiri dan memeluk sang istri dari belakang. "Maafkan aku. Aku hanya tidak ingin kamu semakin menyesal karena dipertemukan dengan pria sepertiku."


"Apa yang harus disesali sekarang, kita sudah menikah dan yang terpenting kita punya Alvian. Aku sudah belajar membuka hati, biarkan aku masuk kedalam hidupmu, mengetahui apapun yang kamu rasakan dan menemani kamu dalam keadaan apapun." Ain membalik posisinya, menatap sang suami lekat. "Apa permintaanku terlalu berat?"


El-Barack menggelengkan kepalanya dengan mata menatap haru kearah Aina. Kegelisahan itu akhirnya selesai sudah, seharusnya El tidak perlu ragu lagi untuk menyalurkan keinginannya untuk sebuah penyantun yang akan meningkat mereka lebih dalam.


Tanpa mengatakan apapun, El-barack menggedong tubuh Aina keluar dari ruang kerja. Membaringkan tubuh sintal itu keatas ranjang kosong yang malam ini hanya menjadi milik mereka berdua.


Dengan diterangi cahaya remang-remang lampu tidur, El-barack menc*umi tubuh sang istri dari ujung kaki hingga kepala. Kedua netra mereka kembali saling menatap, kabut hasrat mulai terpancar dari mata elang itu.


"Malam ini, aku akan membuat kamu terikat kepadaku untuk selamanya," ucap El dengan suara yang terdengar serak dan berat.


Rasanya luar biasa, berc*nta setelah mengungkapkan perasaan pada pemiliknya. Sungguh begitu panas, hingga kedua orang itu tak berhenti untuk mengerang dan mengeluh pelan dalam kegelapan malam.


Kedua tangan El mulai berpegangan pada d*da Aina, memainkan benda kenyal itu dengan pelan.


Dia tidak peduli pada keringat yang terus mengucur deras karena situasi yang tiba-tiba berubah panas, kini ia tengah berusaha untuk menuntaskan hasrat yang selama ini ia tahan.


Setelah beberapa saat, El melepaskan genggaman tangannya, melepaskan ciuman mereka. Mata sayu itu kembali menatap Aina lekat. "Are you ready baby? Saat aku memulai maka tidak akan ada yang bisa menghentikanku."


"Sudah sejauh ini, apa aku masih harus menjawab." Tangan kanan Aina mengelus pelan dada bidang El-barack. "Empat tahun yang lalu, rasanya begitu menyakitkan saat kamu melakukannya. Sampai detik ini, aku masih mengingat betapa menyakitkannya sebuah penyatuan. Sekarang aku ingin kamu mengubah cara pandangku."


Aina mengangkat kepalanya sedikit, hingga berhenti didepan telinga El-barack. "Ajari aku arti keni*matan yang sesungguhnya."


Sekujur tubuh El-barack terasa bergetar hebat. Bisikkan Aina membuatnya semakin tidak tahan untuk memulai percintaan yang sesungguhnya.

__ADS_1


Dengan satu tarikan, dia membuka p*ha Aina lebih lebar menyibak kain tipis berwarna merah maroon yang menutupi inti kenikm*tan itu. Dia mulai mengarahkan miliknya dan masuk perlahan.


Setelah empat tahun, akhirnya dia kembali menjamah tubuh itu. Dan rasanya luar biasa, jika dulu dia melakukan semuanya tanpa sadar maka malam ini semua benar-benar nyata.


Wajah pria itu nyaris tak bisa dikondisikan, karena saking hanyutnya dengan percintaan penuh gairah dan ha*rat mendalam.


Deru napasnya semakin memburu , seiring gerakan yang dia berikan. Tak berbeda dengan Aina yang terus membuka mulutnya dan mengeluarkan des*ahan lirih.


"Aaahh ... aku," lirih Aina sambil meringis, menahan nikmat yang terus-menerus El berikan.


"Kenapa, apakah kamu menikmatinya, apa ada yang kurang dari permainanku?" tanya El, takut jika Aina tidak menikmati percintaan mereka. Pria itu mengurangi tempo hentakannya, ia menunduk untuk mengecupi wajah Aina yang sudah memerah padam.


"Katakan, Sayang. Apa saja yang membuatmu nyaman, aku akan melakukannya," sambung El-barack sambil membenahi rambut Aina yang mulai basah karena keringat.


Gadis cantik itu menggelengkan kepala. Dia bukannya tidak suka, tapi dia tidak bisa diam saat hentakkan itu membuatnya merasakan sensasi yang luar biasa. "Aku suka, aku suka dengan semua yang kamu berikan."


"Ught!" Terdengar suara r*ntihan manja yang tidak habis-habis keluar dari bibir Aina. Dan hal tersebut membuat El semakin bersemangat menghentak cepat dengan ritme yang tidak terbaca.


Suara indah keduanya menggema hingga mendominasi ruangan itu.


El menunduk dan memeluk erat tubuh Aina dengan erat,


Deru napas keduanya berpacu cepat setelah berhasil mencapai klim*ks


Aina menggigit bibir, merasakan d*da sang suami yang naik turun. Tubuhnya lemas namun kenikmatan itu masih meremang hingga membuat kepalanya terasa ringan bagai diatas awan.


Bersambung


Bersambung 💕


Jangan lupa like+komen dan beri hadiahnya...

__ADS_1


__ADS_2