
"Hey kamu lihat apa." Aina yang tiba-tiba datang langsung merebut ponselnya dari tangan sang sahabat. Aina ikut membaca pesan yang dikirim El-barack dan dia pun tidak menyangka sang suami akan menyampaikan isi hatinya lewat pesan singkat.
(Ai, aku memikirkan ini sejak tadi. Aku tahu kamu pasti terbebani dengan pernyataan cintaku, tenang saja aku tidak memaksa kamu untuk menjawabku karena aku tahu kamu sudah menerima aku dengan baik. Terima kasih karena kamu sudah melakukan yang terbaik sebagai istri dengan melayaniku sepenuh hati. Maaf mengatakan semua ini lewat chat, jujur aku tak bisa berkata-kata saat dihadapanmu , I love you istriku) Isi pesan El-barack.
"Aina." Panggil Yuna dengan nada suara yang tiba-tiba terdengar sendu. Dulu dia berpikir El-barack hanyalah pria dingin dan angkuh. Namun hari ini saat membaca pesan singkat itu, Yuna paham jika apa yang dia lihat selama ini hanyalah sampul belaka.
Dibalik sikap El-barack yang terkenal dingin ternyata jauh didalam hatinya dia adalah seorang pria yang begitu menghargai wanitanya. Ya, begitulah seorang El-barack Alexander ketika meratukan seorang wanita.
"Hm ke-kenapa?" Aina mulai terlihat gugup, saat Yuna menatapnya serius. Jujur permasalahan ini hanya tentang egonya saja, sementara hatinya sudah lama tertaut nama El-barack Alexander.
Perasaan trauma dimasalalu tak kunjung hilang dari pikirannya, meski semua telah berakhir, sudah berlalu.
"Kamu tega Ai? Dia sampai pasrah seperti itu. Sejak awal kamu hanya ragu tentang perasaan dia ke kamu 'kan? Dan sekarang dia sudah membuktikan semuanya. Sekarang aku tanya sama kamu, apa kamu juga sudah mencintai dia?"
Diwaktu bersamaan saat pertanyaan Yuna terucap, mata Aina mulai berkaca-kaca. Ya, dia sejak lama El-barack adalah satu-satunya pria yang dia cintai, baik dulu ataupun sekarang.
Takdir mewujudkan mimpinya dengan menghadirkan El-barack sebagai suaminya meski dengan cara yang cukup menguras air mata. Aina menundukkan pandangannya, membayangkan semua perlakuan istimewa El-barack selama beberapa bulan belakangan.
__ADS_1
Dalam beberapa bulan ini, sekalipun El-barack tak pernah membuatnya menangis, apalagi terluka. Aina kembali menatap Yuna yang sejak tadi menunggu jawabannya.
"Setiap menatapnya, aku seolah melihat luka dan cinta disaat bersamaan. Ya, hanya karena masalah itu sampai sekarang bibirku terasa kaku setiap dia menyampaikan perasaannya. Hufft, jika di bilang cinta, ya aku mencintainya tapi kembali lagi saat aku melihatnya, ada luka masalalu yang terus membayangiku, trauma itu belum hilang, meski aku tidak lagi membencinya."
Yuna mengubah posisinya duduk di samping Aina, dirangkulnya sang sahabat dengan erat. "Aku mengerti, tapi kamu harus berusaha menghilangkan kenangan buruk itu. Sekarang bukan hanya tentang bagaimana cara dia menyatakan perasaannya, tetapi juga bagaimana kamu menyambutnya dengan baik, mungkin dia bilang tidak masalah tapi bagaimana dengan hatinya, adakah jaminan dia akan baik-baik saja?"
Aina nampak tertegun, seolah tertampar dengan ucapan Yuna. Mungkin luka yang El-barack torehkan akan terus membekas namun usaha pria untuk menyembuhkan luka dihati Aina tidak bisa di pandang sebelah mata.
Cukup lama dia terdiam, merenung tentang perasaannya sendiri, sampai detik selanjutnya, lamunan Aina buyar saat ponsel ditangannya berdering.
[Aina, ada salah satu teman tante yang mau memesan cake tart, apa kamu bisa mengantar pesanannya ke hotel melati?]
"Oh, nanti saya akan minta pegawai saya untuk--"
[Tidak, jangan pegawai kamu. Tante tidak enak nanti, tolong kamu yang antar langsung ya. Dia orang baik kok, namanya Intan. Nanti Tante kirimkan nomor kamarnya.]
"Begitu ya ... Ba-baik Tante saya akan antar siang ini juga."
__ADS_1
[Kalau begitu Tante tutup dulu, semoga bisnis kamu lancar ya, Tante akan terus bantu promosi.]
"Iya Tante, terima kasih."
Panggilan telepon itu berakhir, Yuna yang nampak penasaran, langsung menepuk pundak Aina. "Mama Albert?"
"Iya, ada yang memesan tart untuk acara penting, tapi aku yang diminta mengantarkan langsung." Aina segera berdiri dari tempat duduknya. "Alue pergi sebentar, kalau kamu tidak sibuk tinggalah disini."
"Ya baiklah, hari ini aku memang ingin bersantai saja di sini. Hati-hati dijalan." ucap Yuna lalu membaringkan tubuhnya di sofa.
Sementara Aina segera bergegas turun kelantai bawah untuk menyiapkan pesanan.
Bersambung 💕🙏
Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini ya gaess...
__ADS_1