After One Night Mistake

After One Night Mistake
Keinginanku


__ADS_3

"Ai, aku datang!"


Mendengar suara sang suami, Aina yang sejak tadi berdiri di balkon kamar, segera masuk kedalam, melangkah menghampiri El Barack. "Mana pembalutnya?"


"Itu." El menunjuk kesamping dimana dia meletakkan dua kantong besar pembalut yang dia beli untuk sang istri. "Apa sudah cukup?"


Aina terpaku dengan mulut terperangah. Seingatnya dia tidak pernah meminta dibelikan sebanyak itu. "Kenapa banyak sekali, aku datang bulan hanya satu minggu, bukan satu tahun."


Sudah El duga sang istri akan protes. Dia melangkah merebahkan tubuhnya diatas sofa seraya menuang wine untuk melepas stres karena tidak jadi melewati malam panas bersama Aina. "Aku tidak tau harus beli yang mana. Jadi aku beli semua."


"Huuftt, apa semua laki-laki seperti ini saat dimintai tolong belanja." Aina meraih satu pack pembalut. "Kalau begitu aku ganti dulu." Dia melangkah menuju kamar mandi.


Sementara El Barack terus meneguk minumannya, lagi dan lagi. Sudah hampir satu minggu sejak terakhir mereka melalui malam panas, dan hari ini El-barack sungguh menginginkan sang istri tetapi mau tidak mau harus menahan diri.


Dia bukan lagi El-barack yang dulu, yang suka bergonta-ganti wanita. Saat ini yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara membahagiakan Al dan juga Aina.


Ya, dia telah jatuh cinta, mungkin cinta itu baru berkembang, namun percayalah mereka bisa saling memahami satu sama lain, meski sulit untuk menahan ego diri yang sama-sama tinggi.

__ADS_1


Tak lama Aina keluar dari kamar mandi, dengan mengenakan handuk kimono. "Bagaimana ini, aku tidak punya pakaian ganti, apa malam ini aku tidur seperti ini?"


El-barack menghela napas panjang, kenapa disaat seperti ini sang istri nampak terlihat semakin seksi dengan handuk kimono. "Kamu benar-benar berhasil menyiksaku malam ini." Dia kembali meneguk minumannya. "Ya pakai itu saja, besok Boril akan datang membawa pakaian ganti untuk kita."


Aina bisa merasakan jika sang suami sedang kesal kepadanya, Aina pun tidak menyangka jika dia akan datang bulan disaat yang tidak tepat. Perlahan dia mendekat dan langsung duduk disamping El-barack. "Aku mau minum juga."


El-barack menatap tak percaya saat Aina meneguk wine langsung dari botolnya. "Hey, kamu kan tidak biasa minum, hentikan." Dengan sigap dia mengambil alih botol minuman itu dari tangan Aina.


"Habisnya kamu terlihat kesal sekali sampai tidak mau berhenti minum." Baru dua tegukkan, Aina sudah mulai merasa pusing, karena pada dasarnya dia memang tidak pernah meneguk alkohol. "Ternyata wine itu tidak enak ya, pahit.".


Aina menyadarkan kepalanya di sandaran sofa. "Hm, sedikit. Aku merasa mengantuk." Sepertinya dia benar-benar mabuk sampai menatap El-barack dengan mata sayu.


"Ayo kamu harus istirahat di ranjang.", El-barack hendak berdiri namun tiba-tiba saja sang istri merebahkan kepalanya diatas pangkuan El. "Ai, kita pindah ke ranjang, jangan tidur disini."


"Nanti saja sebentar lagi." Aina membuka matanya, menatap El-barack dengan tatapan sayu. "Tuan El-barack Alexander, apa saya boleh bertanya sesuatu?"


Huuft sepertinya dia benar-benar sudah mabuk. Kenapa tiba-tiba bicara formal dan memanggilku Tuan, batin El-barack.

__ADS_1


"Ya, boleh. Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?"


Sejenak Aina terdiam sambil tersenyum-senyum sendiri. "Sebenarnya saat menjadi sekretaris anda, saya ... saya sudah sangat menyukai anda, Tuan."


Deg!


El-barack menatap Aina tak percaya.


"Tapi saya kecewa saat mengetahui bahwa pria yang saya sukai tidak lebih dari seorang playboy yang suka membuat ulah. Ck, anda benar-benar bre*sek!"


Lengkungan senyum tipis mewarnai wajah maskulin El-barack. Dia tahu saat ini sang istri sedang dalam pengaruh alkohol, namun dia yakin ucapan Aina adalah sesuatu keluar dari hati dan nyata adanya. "Apa aku sebre*sek itu?"


"Hm, anda benar-benar bre*sek. Saat malam kejadian anda memaksa saya untuk ...." Aina tiba-tiba saja bangkit dari posisi berbaringnya. Di tatapnya El-barack dengan jari yang menunjuk lurus kedepan wajah suaminya itu. "Anda adalah orang yang paling saya benci di dunia ini!"


"Apa sekarang kamu masih membenciku?" tanya El-barack. Sudah sejak lama dia penasaran dengan isi pikiran dan juga hati Aina tentang dirinya, dan malam ini secara tidak sengaja minuman beralkohol itu membuat Aina meluapkan isi hatinya.


Bersambung 💕

__ADS_1


__ADS_2