
Albert segera berdiri dari posisi duduknya ketika melihat sang kakak ipar melangkah ke arahnya sambil tersenyum. Sepertinya dia merasakan kerinduan yang teramat sangat karena beberapa hari ini dia tidak bertemu Aina dan juga Kakak sepupunya El Barack.
Namun seperti biasa dia selalu saja mencari perhatian kepada Aina, bukan karena dia masih menyukai Aina dan ingin memilikinya, tetapi dia hanya suka saja membuat El Barack cemburu.
"Kak Ai! Long time no see." Albert merentangkan kedua tangannya hendak memeluk wanita cantik yang ada di hadapannya tetapi tiba-tiba saja, El Barack datang dan langsung memeluknya.
"Wah, Apa kabar adik sepupu tersayang. Bagaimana perjodohannya, apa ada salah satu dari tiga wanita yang kamu sukai?" El Barack memeluk erat Albert sambil menepung sang adik sepupu dengan cukup keras.
Merasa geli dan tidak nyaman Albert pun segera melepaskan pelukan itu secara paksa. "Aku mau menyapa Kak Ai, kenapa Kak El yang nyosor duluan. Aku tidak akan menikah, tidak ada satupun dari tiga wanita itu yang aku sukai."
"Hah, Papa sudah memberikan dia fasilitas dan uang untuk pergi menemui para wanita itu, namun tidak ada satupun yang dia sukai, dasar. Kamu dan El-barack sama saja," sahut Anton yang masih nampak kesal.
Alvian yang duduk disamping sang Kakek, malah tekekeh sendiri.
__ADS_1
"Dia hanya tidak mau mencoba untuk menjalani komitmen Pa. Aku yakin suatu saat nanti dia akan menemukan wanita pilihannya," sahut Aina.
Mendengar itu, Albert pun spontan mengangkat kedua jempol tangannya. "Kak Ain memang yang paling mengerti aku." Dia beralih melihat sang paman yang sedang duduk menikmati sarapan. "Paman, jika ingin menjodohkan aku, cobalah untuk mencari wanita yang spek nya seperti Kak Ai, aku akan langsung deal!"
Ptak!
El-barack menjitak kening sang adik sepupu dengan geram. "Deal deal, Aina ini edisi terbatas tidak ada copy paste-nya."
"Iya iya, tahu tapi jangan dijitak juga. Aku sudah dewasa sekarang." Albert memilih berbalik, lalu kembali duduk di kursinya, menikmati serapan yang masih tersisa.
"Oh itu ...." Albert nampak bingung harus menjawab apa. "Mama se--"
"Merry pergi ke Paris Sudan jangan ada yang membicarakannya, biarkan dia menenangkan diri disana, dari pada disini hanya membuat masalah saja," sahut Antonio yang terlihat kesal.
__ADS_1
Hal itu membuat El-Barack bingung sekaligus penasaran. "Maksud Papa?"
"Tidak ada yang perlu kalian tutupi, Boril sudah memberitahukan Papa tentang kejadian di hotel melati. Aina hampir celaka karena Merry kan? Andai dia bukan adik Papa satu satunya, akan Papa kejar dia sampai masuk ke penjara."
Mendengar penuturan sang Papa, El hanya bisa menghela napas seraya beralih memandang kearah Albert. Ketakutan terbesarnya tentang masalah keluarga yang tak kunjung selesai ini hanyalah mental Albert.
Meski mereka sering bertengkar karena hal sepele, tapi El-barack selalu menjaga Albert layaknya adik sendiri. Dia tidak ingin Albert stres karena ulah Ibunya.
Terlebih sekarang Albert sudah kehilangan Ayah, jadi sebisa mungkin Antonio dan El-barack menjadi sosok pengganti Papa, untuk Albert.
El-barack mengambil sepotong roti dan langsung di letakkan di piring Albert. "Makan yang banyak. Al, apapun yang terjadi, kami akan tetap bersama kamu. Jangan jadikan kesalahan Mama kamu menjadi tolak ukur, paham?"
Albert yang nampak lemas sekaligus terharu, hanya mengangguk sambil menundukkan pandangannya.
__ADS_1
Lagi-lagi Aina bisa melihat secara nyata betapa baik keluarga yang dia miliki sekarang, baik itu Papa mertua yang sangat baik, dan juga suami yang mempunyai tanggung jawab luar biasa.
Dia benar-benar pria yang aku cari selama ini, penilaian ku dulu benar-benar salah, dia pria baik, bertanggung jawab dan sekarang aku sangat mencintainya, batin Aina.