
"Huaa pegal sekali! Menghabiskan waktu akhir tahun dengan mencuci, aku benar-benar produktif sekali." Yuna meregangkan tubuhnya sesaat setelah selesai mencuci pakaian dimalam hari. Dipandanginya semua pakaian yang siap untuk di jemur esok hari. "Huuft, hidupmu benar-benar penuh perjuangan Yuna, kapan kamu akan menjadi Cinderella seperti Aina."
Yuna membayangkan bagaimana awal kehidupan Aina hingga sampai ke titik sekarang. "Hah, apasih aku ini. Aina beruntung karena dia sudah melewati masa-masa yang sangat sulit sebelumnya. Aku bahagia meski kesepian ... ya aku yakin bisa bahagia."
Helaan napas Yuna kembali terdengar lirih. Dia segera berbalik hendak kembali kekamar namun suara bel pintu membuat langkahnya terhenti. "Siapa yang datang jam segini."
Raut wajahnya terlihat ragu namun dia tetap melangkahkan kakinya menuju pintu. Tidak biasanya ada yang datang dimalam hari seperti ini, kecuali petugas keamanan.
Klek.
Saat dia membuka pintu, matanya membulat dan mulutnya terperangah melihat Boril berdiri sempoyongan dengan mata sayu. "Kak Bo-boril." Yuna menutup hidungnya saat mendeteksi aroma alkohol yang begitu pekat. "Apa ini, Kakak mabuk?"
Dengan kondisi sempoyongan, Boril mengangkat sebelah tangannya menyapa Yuna. "Hy, Yuna. Kenapa kamu ada di rumahku? Aku sedang tidak enak badan, kamu pulang saja."
__ADS_1
"A-apa?" Yuna terlihat panik saat Boril menerobos masuk kedalam unit apartemennya. "Tapi ini tempat tinggalku!" Dia melangkah menghampiri pria yang sudah duduk bersandar sofa. "Kak Boril lebih baik pulang sekarang."
"Kamu ini bicara apa, ini rumahku." Boril terus meracau sambil memijat tekuknya yang terasa pegal. "Hari ini anak kantor merayakan tahun baru, sepertinya aku hanya satu gelas wine tapi kenapa aku pusing sekali."
Yuna kembali menghela napas panjang seraya berkacak pinggang. Dia tidak tahu harus bertindak seperti apa sekarang. Kalau aku mengusirnya bisa-bisa dia masuk ke unit lain dan membuat kekacauan, batin Yuna.
Tanpa mengatakan apapun, Yuna beranjak menuju dapur, membuat teh hangat lalu kembali menghampiri Boril. "Semua orang merayakan tahun baru, tapi tidak harus dengan minum." Dia meletakkan cangkir teh diatas meja lalu duduk disamping Boril.
Boril menoleh, menatap Yuna dengan mata sayu. "Kamu tidak merayakan tahun baru bersama teman atau kekasihmu? Ck, kamu malah datang ke rumahku dan membuatkan aku teh."
Bukannya minum, Boril malah membaringkan kepalanya di pangkuan Yuna. "Aku lelah sekali. Hari ini Tuan El sedang berbahagia bersama Nona sementara aku ... Yuna, apa kamu pernah merasa kesepian seperti ku?"
Ucapan Boril membuat Yuna tertegun, saat ini dia juga merasakan apa yang Boril rasakan. Hidup sendiri ditengah ibu kota dan berbagai kesibukan yang menyita waktu, membuat diam tidak punya waktu rehat untuk sekedar berkencan.
__ADS_1
"Huuft, sepertinya setiap hari aku lewati dengan kesepian. Kira-kira apa yang dilakukan Aina dan suaminya sekarang ya, aku harap mereka bahagia selamanya," ucap Yuna datar.
***
Tinggal sedikit lagi, tahun akan berganti, pukul dua belas malam setelah selesai makan malam, El-barack membawa Aina ke sebuah kamar hotel berbintang di pusat kota.
"Wah indah sekali," ucap Aina saat keluar ke balkon kamar, memandang kearah kembang api yang tak hentinya meledak di udara. "Akhirnya tahun berganti, dan aku masih tidak menyangka sekarang berdiri disini."
Aina nampak berkaca-kaca, ada perasaan haru yang tiba-tiba menyelimuti. Empat tahun bersembunyi dalam kehampaan, hari ini dia merasa mendapatkan hidupnya kembali.
El-barack melangkah mendekati sang istri lalu memeluknya dari belakang. Di hidupnya dalam-dalam aroma tubuh sang istri sambil memejamkan mata. "Selamat tahun baru. Mungkin kamu akan bosan mendengar ini tapi aku ingin meminta maaf lagi, untuk empat tahun yang teebuang sia-sia. Empat tahun yang membuat kamu dan Al terbuang ...."
El-barack tidak bisa melanjutkan ucapannya saat tetesan air mata tiba-tiba saja keluar begitu saja dari sudut mata. Ya, dia kembali mengingat bagaimana dia menemukan Aina dan putranya di sebuah rumah kecil, jauh dari kata layak.
__ADS_1
Aina pun ikut terhanyut, tetesan air matanya mengalir tanpa suara isakan. Dia mengerakkan tangannya menyentuh punggung tangan sang suami. "Tidak apa, semua sudah berlalu dan kamu tidak perlu merasa bersalah. Kita mulai semuanya dari awal."
Bersambung 💕