After One Night Mistake

After One Night Mistake
Apa yang harus aku lakukan?


__ADS_3

"Selamat sore, Tante. Saya datang untuk mengatakan pesanan anda." Aina mengangkat paper bag yang ada di tangannya. "Tiramisu cake, benar?"


"Oh iya benar." Wanita bernama Intan itu mengambil alih paper bag dari tangan Aina. "Sepertinya enak sekali, suami saya ulang tahun dan nanti dia akan datang kemari. Oh iya silakan masuk."


Saat diminta untuk masuk, Aina nampak terdiam, entah kenapa perasaannya menjadi tidak enak. "Ti-tidak usah, Tante. Saya mau langsung pulang saja karena ini sudah sore."


"Oh begitu ya, baiklah. Kalau begitu catat nomor rekening kamu, nanti saya kirimkan uangnya," ucap Intan sambil menyodorkan ponselnya kepada Aina.


"Baik." Aina segera meraih ponsel itu dan mencatat nomor ponselnya. Setelah selesai dia mengembalikan ponsel tersebut. "Ini, Tante. Terima kasih, kalau begitu saya permisi dulu."


Aina berbalik dan segera meninggalkan tempat itu. Akhirnya dia bisa bernapas lega karena kecurigaannya ternyata tidak terbukti, dia yakin jika Merry tidak sejahat yang El-barack katakan. "Akhirnya selesai juga."


Sementara itu di depan pintu kamar, Intan masih berdiri memandangi kepergian Aina. Sekilas dia menyunggingkan senyum lalu beralih memainkan ponselnya. "Hallo, dia sudah disini."


***


Mobil El-barack baru saja memasuki halaman toko. Dia segera keluar dari mobil sambil menggedong putranya. Langkahnya begitu cepat, karena dia merasa sudah tidak sabar untuk bertemu Aina.


Sesampainya didalam dia tidak menemukan Aina, malah Yuna yang melangkah menghampirinya. "Hey, Yuna. Aina mana?"


"Oh saya pikir dia sudah sampai di mansion. Tadi dia pamit untuk pergi ke hotel melati. Ada salah satu customer yang memesan kue dan meminta Aina mengatakan secara langsung," ujar Yuna.


Saat mendengar penuturan Yuna, perasaan El-barack pun menjadi tidak enak. "Hotel melati? Kenapa harus Aina yang mengantar kesana, disini banyak pegawai."


"Customer itu adalah teman baik Nyonya Merry, Tuan. Jadi Aina diminta untuk menemuinya langsung," ujar Yuna lagi. Dia pun mulai merasa jika El-barack curiga akan sesuatu. "Apa ada yang salah?"


Sejenak El-barack nampak tertegun, dia tidak habis pikir bagaimana bisa Aina menyetujui permintaan Merry yang begitu tidak masuk akal. Setelah beberapa saat dia kembali melihat Yuna. "Yuna, saya titip Al sebentar."


Yuna segera mengambil alih Al dari gendongan suami sahabatnya itu. "Anda mau kemana, Tuan?"


"Aku harus menyusul Aina sekarang juga." Tanpa menunda waktu, El-barack segera berbalik melangkah keluar dari dalam toko.


Dia tidak ingin berpikiran negatif, tetapi kejadian dimasalalu yang disebabkan oleh Ibu Albert tidak bisa dia lupakan sampai kapanpun.


"Aku harap kamu baik-baik saja, Aina. Tunggu aku akan datang."


***

__ADS_1


Aina menghentikan langkahnya saat sampai di depan lift. Ya, dia sedang menunggu pintu lift itu terbuka. Beberapa kali dia melihat jam dipergelangan tangan sampai akhirnya pintu lift itu terbuka juga.


Dia masuk dan pintu lift pun tertutup. Dia kembali memainkan ponselnya, memandangi foto sang putra yang selalu setia menjadi wallpaper ponsel. "Sekarang kamu betah sekali pergi tanpa Mama, Al."


Bruk.


Tiba-tiba saja lift itu begetar, berhenti berjalan, dan lampunya pun padam. Aina yang nampak panik pun segera memencet tombol darurat.


Bruk.


Semakin banyak dia begerak, lift itu seolah bersiap-siap untuk terjun bebas. "Aapa yang harus aku lakukan." Napasnya mulai memburu, dia panik, takut namun tidak ada satu pun orang yang bisa menolongnya.


"Tolong!.. Tolong!"


Aina mencoba berteriak sekuat tenaga namun lagi-lagi lift itu bergoyang. Napasnya mulai sesak, dia terduduk lemah dilantai lift bercucuran keringat.


Tiba-tiba Aina merasa kepalanya begitu pusing dan sekujur tubuhnya bergetar seolah trauma 4 tahun yang lalu ketika dia meminta tolong dan tidak ada yang mendengar kembali dirasakan.


dengan sisa kekuatan yang ada dia mencoba meraih ponselnya yang terjatuh di lantai lift. dia mencoba untuk menelpon seseorang sambil meringkuk ketakutan di sebuah ruangan persegi yang begitu panas dan gelap.


"Ha-halo."


Bug.


Lift itu kembali tersentak, membuat Aina memejamkan mata dengan tubuh yang terus begetar ketakutan. "A-aku takut sekali. Sekarang aku terjebak didalam lift." Akhirnya tangis Aina pecah juga.


[Apa! Tekan tombol daruratz jangan panik petugas akan segera datang, aku juga sebentar lagi sampai.]


"Huaa, tapi lift ini terus turun dan sepertinya akan segera putus. Kalau aku benar-benar berakhir disini, aku hanya mau bilang kalau kamu adalah pria yang baik, aku ... aku sangat mencintaimu sampai kapanpun. Maafkan aku yang selalu saja meragukan ketulusanmu selama ini."


[Ai, kamu bicara apa sih, semua akan baik-baik saja, aku yakin. Jangan panik.]


Aina tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia terus menangis sesenggukan sambil membayangkan wajah putra kecilnya. "Tolong katakan juga kepada Al, kalau aku sangat menyayanginya, aku--"


Bruk.


.....

__ADS_1


Panggilan telepon itu tiba-tiba terputus, El-barack yang masih dalam perjalanan pun terlihat semakin panik. "Ai, Ai. Oh s*al!"


Brak!


Dia melemparkan ponselnya ke sembarang arah, lalu memilih fokus menyetir. Dengan kecepatan tinggi, dia menyusuri jalan kota, dia bahkan tidak lagi mempedulikan lampu lalu lintas yang ada dibenaknya saat ini, dia harus segera sampai ke hotel itu.


Selang beberapa saat, mobilnya sampai di depan lobby hotel. Dia segera turun dan berlari masuk kedalam. Terlihat sudah banyak orang berkumpul disana.


"Ai... Aina!" Suara El-barack menggema disekeliling ruangan itu, membuat semua orang melihat kearahnya.


"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


El-barack menoleh, menatap wanita itu. "Di mana Istri saya, Aina? Dia terjebak di lift dan dia ketakutan. Tolong katakan kepada saya jika dia baik-baik saja."


"Oh barusan lift memang macet dan korban--"


"Apa kamu bilang korban?" Hey, dia baik-baik saja kan, tolong katakan. Saya belum sempat membahagiakan dia, bagaimana bisa pergi meninggalkan saya seperti ini."


Tubuh El-barack tiba-tiba runtuh, dia duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk. Air mata yang tak pernah keluar, kini banjir membasahi pipinya. "Tidak, tidak mungkin. Ai, Aina!!"


"Sayang."


El-barack terpaku saat mendengar suara seseorang dari arah belakang. Perlahan dia berbalik, seketika matanya membulat, melihat Aina berdiri dihadapannya. "Ai, Aina."


"Ternyata benar, petugasnya bertindak cepat, aku pikir tadi--"


Aina tidak bisa melanjutkan ucapannya, saat sang suami memeluknya dengan begitu erat. El-barack kembali menangis, beberapa detik yang lalu dia pikir telah kehilangan istri yang sangat dia cintai


"Syukurlah kamu tidak apa-apa, aku sangat khawatir."


Aina menepuk pundak suaminya perlahan. "Maafkan aku sudah membuatmu sangat panik," ucapan Aina.


Bersambung 💕


Jangan lupa berikan dukungan untuk Author ya reader 🥰


Jangan lupa mampir ke novel keren yang satu ini juga ya...

__ADS_1



__ADS_2