After One Night Mistake

After One Night Mistake
I love you so much


__ADS_3

Selesai makan siang, El-barack mengantar Aina ke toko kue, sepertinya mereka akan kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Sepanjang perjalanan El terus tersenyum bahkan terkekeh jika mengingat apa yang dia lalui pagi ini bersama Aina.


Melihat tingkah sang suami, Aina kembali merasa malu kepada dirinya sendiri. Kenapa dia bisa seagresif itu, hilang sudah image polos Aina di hadapan El Barack Alexander. "Huuft, kenapa kamu terus tersenyum seperti itu."


"Kenapa?" El menoleh sebentar kemudian kembali fokus menyetir. "Aku tersenyum karena aku sangat bahagia. Aku tidak pernah membayangkan kamu bisa melakukan hal seperti itu, tapi ternyata istriku adalah wanita yang agresif. Malam ini, bisa reka ulang?"


"Tidak." Aina menutup wajahnya dengan kedua tangan karena merasa begitu malu. Setelah beberapa saat, dia menyingkirkan tangannya dan kembali melihat sang suami. "Sepertinya pagi tadi aku kerasukan sesuatu, aku tidak mungkin melakukan itu atau ... Ah ini pasti efek alkohol semalam, iya pasti karena itu."


"Hahaha." El-barack tidak bisa menahan tawanya lagi. Alasannya begitu klise dan tidak cerdas. "Pengaruh alkohol bagaimana? Ai, kamu tidak perlu malu. Kita hanya membahas ini saat berduaan saja, kamu tahu hubungan suami istri itu saling mengikat hati, pikiran dan juga tubuh. Setiap inci tubuhmu adalah milikku."


"Hentikan, kamu terdengar seperti orang mesum." Aina kembali menyadarkan tubuhnya, menoleh ke luar jendela. Bukan tidak suka, tapi sungguh saat ini wajahnya sudah sangat merah karena malu.

__ADS_1


El-barack pun diam sejenak, memilih fokus menyetir. Meski begitu pikirannya masih saja dipenuhi dengan pengakuan Aina malam tadi. Hal itu membuatnya menemukan kebahagiaan tersendiri, yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.


Kegelisahan El-barack di awal pernikahan nyatanya tidak terbukti. Semakin hari, dia semakin merasa beruntung bisa memiliki Aina dalam hidupnya. Bukan hanya sebagai Ibu dari putranya tetapi juga sebagai pendamping hidup untuk selamanya.


Mobil El-barack berhenti tepat saat lampu merah menyala. Dia menoleh menatap sang istri yang masih memalingkan wajah darinya. "Ai, Ai... look at me please." Ucapan El-barack terdengar seperti balita yang sedang memohon kepada Ibunya.


Mendengar suara manja sang suami, Aina menoleh dengan wajah datarnya. "Kenapa?"


Tangan El-barack begerak menggenggam tangan sang istri. "I love you so much."


Raut wajah Aina benar-benar tidak bisa dikondisikan lagi saat El-barack terus memberikan kejutan-kejutan yang hampir membuat jantungnya hampir melompat dari rongga dada.

__ADS_1


"Ai, kamu tidak menjawab pernyataan ku?" tanya El-barack membuyarkan lamunan sang istri.


"Hm?" Aina mencoba untuk mengontrol dirinya. Dia tidak seharusnya seperti ini, hubungan dia dan El-barack sekarang bukanlah sebuah kesalahan. Mereka sudah banyak melewati kesulitan baik saat terpisah dan juga saat dipaksa untuk bersama.


"Sebenarnya aku--"


Tiiitt!!!


Baru saja Aina hendak bicara, ternyata lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Suara klakson mobil dibelakang pun mulai menggema mendesak mereka untuk segera melanjutkan perjalanan. El-barack pun segera tancap gas.


Melihat sang suami yang kembali fokus menyetir, Aina pun kembali membisu. Dia tidak tahu mengapa mulutnya begitu kaku, padahal sebelumnya dia begitu ingin mendapatkan pengakuan dari sang suami.

__ADS_1


Aina melirik kearah sang suami, dia mulai berpikir apakah El-barack kecewa kepadanya. Entahlah, sampai detik ini dia masih merasa El-barack penuh misteri, susah untuk menerka apa isi pikiran pria itu sekarang.


Bersambung 💕


__ADS_2