
Entah mengapa Lin merasa jika sikap adik iparnya berubah, sambil menikmati secangkir kopi, dia memandangi Aina, Reynald dan Alvian yang sedang bercengkrama bersama.
Sementara dia memilih menepi duduk dipinggir jendela. Bukan tanpa alasan, sikap Aina saat menyambut kedatangannya tadi, masih menjadi tanda tanya besar untuk Lin, dia bisa merasakan Aina begitu dingin padanya.
Padahal dulu, Aina tak pernah berani menatap mata Lin seperti yang dilakukan pagi ini. "Kenapa dia menatapku seperti itu, apa dia sudah merasa menjadi seorang nyonya sekarang, ck kalau bukan karena Rey, aku juga ogah ke tempat ini."
Lin terus memperhatikan dari kejauhan Suami dan Adik iparnya yang terlihat begitu bahagia bermain bersama Al. Sampai akhirnya Aina terlihat berdiri dan melangkah menghampiri sang Kakak ipar.
***
"Malam ini aku akan datang ke apartemenmu, pulang lah lebih awal untuk membereskan rumah," sahut El-barack seraya melangkah beriringan bersama sekretaris Boril.
"Apatemen saya?" Boril nampak bingung, karena sejak kembali dari Melbourne, sang atasan tidak pernah sekalipun datang. "Apa anda sedang bertengkar dengan Nona, anda diusir tidak boleh masuk kamar?"
Mendengar itu, El-barack menghentikan langkahnya, berbalik menatap sang sekretaris dengan tatapan tajam. "Huuft, itu tidak akan pernah terjadi, aku ini bukan suami takut istri. Aku datang ke apartemenmu karena aku ingin mengajak Reynald."
__ADS_1
Sontak saja Boril langsung terperangah. "Maksudnya Tuan akan menjadikan apatemen saya tempat untuk membicarakan masalah perselingkuhan itu?"
"Ya, begitulah. Kami butuh waktu bicara secara pribadi dan kamu harus ikut bergabung, mau bagaimanapun kamu yang mengetahui secara detail bagaimana Lin mengkhianati Reynald."
El-barack kembali menghela napas berat. Andai bukan karena Aina, dia enggan untuk ikut campur, namun sekarang baginya luka Aina adalah lukanya juga, dan dia tahu salah satu sumber kekuatan sang istri adalah ada pada kebahagiaan Kakaknya, Reynald.
"Pulanglah, aku akan menyelesaikan pekerjaan hari ini sendiri. Bereskan rumah dan ambil ini, beli makanan dan minuman untuk pertemuan malam nanti," ucap El-barack sambil menyodorkan sebuah Black card kepada Boril.
Mata Boril nampak berbinar-binar saat melihat sang atasan menawarkan kartu saktinya. Dengan sigap dia segera meraih kartu itu, berpindah ke tangannya. "Baiklah, kalau begitu saya pulang dulu." Setelah menunduk hormat, dia segera pergi.
"Maaf, Tuan. Saya menggangu sebentar," ucap Wanita itu sambil mencoba mengontrol napasnya.
"Ada apa?" tanya El-barack yang terlihat begitu bingung.
"Tadi ada seorang wanita yang menitipkan sesuatu untuk anda," ucap wanita itu sambil menyodorkan sebuah paper bag kehadapan El-barack.
__ADS_1
Nampak keraguan yang begitu jelas dari wajah El. "Apa ini?"
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Tapi petugas kemanan sudah memeriksa, mereka bilang bukan barang berbahaya. Tapi jika Tuan ragu saya akan kembalikan."
El-barack meraih paper bag itu. "Baiklah, terima kasih. Kamu boleh kembali bekerja.
Perempuan itu menunduk hormat lalu begegas melangkah pergi.
Merasa semakin penasaran, El-barack segera masuk kedalam ruangannya. Diletakkannya paper bag itu diatas meja kerja. "Apa ini, apa Aina mengirim kejutan."
Nampak dia tersenyum tipis saat membayangkan wajah cantik Aina.
Setelah beberapa saat dia duduk di kursi kebesarannya dan mulai membuka bingkisan itu. Dia berharap bingkisan itu benar-benar datang dari Aina, namun detik selanjutnya ekspresi wajah El-Barack nampak berubah, pias.
...
__ADS_1