After One Night Mistake

After One Night Mistake
Mari Berpisah!


__ADS_3

Jarum jam terus memutar waktu, saat Lin mulai bosan menunggu, namun Alex tak juga kembali. Dia segera beranjak dari posisi duduknya, hendak keluar dari dalam kamar.


Namun handel pintu tiba-tiba bergerak, seiring dengan Lin yang juga menghentikan langkahnya, dia mundur beberapa langkah, menyangka Alex akan masuk, namun sayang kali ini semua tidak seperti yang dia harapkan.


Takdir buruk yang sudah dia bayangkan sejak lama datang begitu cepat, sekujur tubuh Lin begetar, melihat seorang pria melangkah masuk dengan tatapan penuh kesedihan, kekecewaan, dan amarah.


Ya, Reynald hari ini harus menghadapi kenyataan yang memberatkan, dihadapannya sang istri berdiri dengan pakaian yang tak pantas, didalam sebuah kamar yang tak seharusnya dimasuki wanita yang telah bersuami.


"Rey ... a-aku bisa menjelaskan semuanya."


Lin terlihat panik, dia mulai memikirkan cara agar bisa selamat dari semua ini. Meski sudah jelas tidak ada yang bisa dibantah lagi, namun keyakinan Lin, masih sama, bahwa Reynald begitu mencintai dan mempercayainya.


Air mata Reynald menetes dari sudut mata, saat pandangannya menangkap tanda kemerahan di leher sang istri. "Ternyata ini bentuk kesetiaan yang kamu janjikan?"


"Bukan seperti itu." Lin meraih tangan sang suami dan digenggam dengan erat. "Aku hanya terjebak, aku hanya mencintai kamu, Rey. Percayalah, kamu tahu Alex adalah sahabatku 'kan? Kami hanya sedang khilaf saja."

__ADS_1


"Khilaf?" Reynald berdecak tak percaya, setelah semua yang dia lihat, Lin masih berusaha untuk mengelak. Begitu pedihnya, seolah perjuangan dia bertahan, sia-sia. "Katakan, apa tidur dengan pria lain berkali-kali bisa dikatakan khilaf?"


Tahun demi tahun dia lewati dengan rasa sabar, menelan pil pahit bahwa istri sendiri membenci adik kandungnya, Aina. Dia rasa semua pasti bisa diperbaiki. Namun bagaimana dengan pengkhianatan?


Apakah kali ini, Reynald juga akan berusaha menahan, menelan semua kenyataan yang mematikan hatinya secara perlahan? Sepertinya dia bukan pria sebodoh itu.


Reynald menarik tangannya dari genggaman sang istri. "Enam tahun lalu, aku bersumpah didepan almarhum ayah kamu, bahwa aku akan menjaga kamu sepanjangan hidupku. Aku merasa akan menginginkan janji itu, hari ini."


"Jangan Rey!" Lin menangis tersedu-sedu, dia memeluk sang suami dengan erat. Ya, penyesalan memang selalu datang terlambat, berani bermain api, berarti juga siap untuk terbakar. "Aku janji tidak akan mengulangi hal ini lagi, berikan aku kesempatan."


"Penyesalan terbesarku adalah, mengabaikan adikku yang sangat berharga demi mempertahankan kamu yang ternyata tidak lebih dari wanita murahan yang menjajakan meselangkangannya kepada pria lain!"


"Diam!" pekik Lin dengan napas tersengal-sengal. Dia berdiri dan mengangkat jari telunjuk tepat didepan wajah Reynald. "Jangan salahkan aku selingkuh jika kamu terus memikirkan adikmu itu, dia yang menyebabkannya kita selalu bertengkar, dia benalu, parasit!"


Paak!

__ADS_1


Satu tamparan mendarat tepat di pipi Lin. Untuk pertama kalinya Reynald melakukan hal itu selama pernikahan. Dulu semarah apapun dia, dia tidak pernah menggunakan kekerasan, dan memilih menghindar.


"Kamu berani menampar aku?"


"Tamparan itu seharusnya sudah aku berikan sejak lama, aku hanya menahan diri meski kamu terus berulah. Lin, tidak ada lagi alasan untuk mempertahankan hubungan yang tidak sehat ini, aku lelah dan aku menyerah."


Pada akhirnya Reynald menyadari, tidak ada gunanya mempertahankan setangkai bunga mawar berduri, meski nampak indah namun semakin erat kau genggam maka durinya akan melukai semakin dalam.


Lin kembali terlihat panik saat, Reynald berbalik pergi meninggalkan kamar itu. "Rey, jangan tinggalkan aku, aku mencintai kamu!"


Reynald tak bergeming dan terus melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan yang menjadi saksi, ketika dia menyerah pada kenyataan dan berdamai dengan keadaan yang tak seharusnya dia paksakan.


bersambung 💕


__ADS_1


__ADS_2