
Boril terbangun dari tidurnya seraya memegangi kepala yang terasa berdenyut. Saat kesadarannya mulai pulih seratus persen, dia mulai menggedarkan pandangan melihat ke sekeliling ruangan yang terasa begitu asing.
"Aku dima ...." Matanya mulai membulat saat melihat foto wanita yang terpanjang di dinding. "Kenapa aku bisa disini." Boril segera beranjak turun dari atas tempat tidur lalu melangkah keluar kamar.
"Akhirnya Kak Boril bangun," sahut Yuna yang tiba-tiba saja muncul dihadapan Boril dengan celemek yang masih menempel di badannya.
"Kenapa aku bisa disini?" Boril kembali memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. "Apa yang sudah kamu lakukan kepadaku, kenapa aku bisa tidur kamarmu ... jangan-jangan kamu memper--"
"Hey! Jangan menuduh sembarangan ya. Dasar sudah di tolong malah begitu. Kalau pun ada yang rugi itu, aku. Kak Boril tiba-tiba datang dalam keadaan mabuk, tidak ingat?"
Boril tertegun sesaat mencoba mengingat-ingat apa saja yang dia lakukan malam tadi. Setelah beberapa saat akhirnya dia ingat bahwa malam tadi ikut pergi ke klub bersama pegawai kantor lain.
Seingatnya dia buru-buru pulang karena merasa pusing namun dia tidak menyangka jika akan pulang ke tempat yang salah. Ya, begitulah dia ketika mabuk.
Kejadian malam tadi bukanlah yang pertama kali, Boril juga pernah menerobos masuk kerumah orang lain dan karena itu dia harus berurusan dengan pihak berwajib. Untung saja Antonio dan El-barack datang membebaskannya.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Boril, Yuna yakin jika pria itu sudah mengingat semuanya. "Bagaimana, sudah ingat? Sudah dong, masa lupa. Untung saja Kakak masuk kesini, kalau ke unit lain, bisa jadi sekarang Kakak menginap di hotel prodeo."
Helaan napas boril seolah mewakili betapa malunya dia kepada Yuna. Dia kembali menatap Yuna sambil menumpukan kedua telapak tangan. "Maaf, aku benar-benar tidak tahu kenapa setiap mabuk aku menjadi seperti ini."
"Siapa suruh mabuk-mabukan. Untung aku orang baik. Sebelum pulang makanlah, Al Quran sudah masak." Yuna menunjuk lurus kearah meja makan sederhananya yang terhubung langsung dengan ruang tamu.
Boril mengerjap tak percaya, dia tidak menyangka jika ada wanita sebaik Yuna di dunia ini. Ya, Yuna adalah wanita yang tulus dan setia, selama empat tahun dia bahkan membantu Aina memenuhi kebutuhan Alvian.
"Kenapa bengong, ayo cuci muka lalu sarapan. Aku tunggu di meja makan." Yuna melangkah pergi meninggalkan Boril yang masih mematung disana.
Boril terus memandangi kepergian Yuna lalu detik selanjutnya dia terlihat tersenyum tipis. "Dia boleh juga. Aku tidak menyangka wanita ini akan menawarkan aku sarapan, padahal aku sudah merepotkan dia malam tadi."
Sementara di tempat berbeda. Aina melangkah cepat menuju balkon untuk menerima panggilan telepon dari Merry, Ibu Albert. "Hallo, Tante?"
[Maaf mengganggu kamu pagi-pagi Aina. Tante cuma mau mengabarkan kalau arisan Tante ditunda, tidak apa-apa 'kan?]
__ADS_1
"Oh tidak apa-apa Tante. Kebetulan pesanan Tante akan dibuat pagi ini, saya akan menghubungi bagian dapur untuk mencancel sementara."
[Syukurlah, terima kasih ya Ai. Nanti kalau Tante perlu Tante akan hubungi kamu. Kalau begitu Tante matikan dulu.]
"Iya Tante." Setelah panggilan telepon itu berakhir. Aina berbalik hendak kembali kedalam kamar. "Astaga!" Namun tiba-tiba saja El-barack sudah berada di belakangnya. "Kenapa kamu tiba-tiba saja disini?"
"Kenapa?" El mendekat seraya melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri. "Aku terbangun saat tidak mendapati kamu dipelukan ku. Siapa menelpon kamu pagi-pagi sekali? Mengganggu saja."
"Tante Merry," jawabnya singkat namun mampu membuat El-Barack menatap curiga kepadanya.
"Kenapa Tante mengubungi kamu? Ai, jangan terlalu dekat dengan Tante dia sama seperti serigala ber--" El tidak bisa melanjutkan ucapannya saat sang istri membungkam mulutnya dengan telapak tangan.
"Jangan bicara seperti itu, Tante Merry tetap bagian dari keluarga Alexander. Aku akan berhati-hati tenang saja," ujarnya.
El-barack menyingkirkan tangan Aina dari mulutnya. "Huuft, okey. Tapi aku harap kamu tetap hati-hati." El-barack mendekatkan wajahnya, mengecup singkat bibir sang istri. "I love you to sayang."
__ADS_1
Kening Aina mengerut mendengar bisikan cinta dari El-barack. "I love you to? kenapa 'to' memangnya aku pernah mengatakan I love you ke kamu?"
Bersambung 💕