After One Night Mistake

After One Night Mistake
Memulai kembali


__ADS_3

Dua minggu sudah, hari ini Aina kembali mengunjungi sang Kakak yang masih menenangkan diri di rumah. Saat masuk untuk kesekian kalinya, Aina benar-benar mendapati keheningan.


Bukan hanya sang penghuni yang mati rasa, tapi rumahnya pun nampak sama. Mungkin akan membutuhkan waktu lama untuk sekedar terbiasa, setidaknya sampai kenangan itu tak lagi menyiksa.


Langkah Aina terhenti tepat diruang keluarga yang mengarah langsung ke taman belakang, favorit sang Kakak. Dari kejauhan dia bisa melihat Reynald duduk termenung masih seperti kemarin.


"Kak, aku datang."


Reynald menoleh kebelakang, dia tersenyum saat melihat kedatangan adiknya. Dia sudah berkata kepada Aina bahwa dia baik-baik saja, tapi sepertinya Aina lebih bisa menilai apakah dia benar-benar baik saja.


"Kemarilah, kenapa tidak ajak Al?"


"Ah, Al ikut Kakeknya seperti biasa."

__ADS_1


Aina meletakkan sup daging buatannya, lalu duduk disamping sang Kakak, pandangannya langsung tertuju ke taman belakang. "Bagaimana hari ini, sudah lebih baik?"


"Hem, aku harap begitu. Kamu tahu, menghapus semuanya tidak akab mudah, tapi aku yakin bisa. Mungkin aku harus kembali menyibukkan diri seperti biasa."


Reynald menghela napas panjang.


"Ai, terima kasih karena kamu selalu datang beberapa hari ini. Tapi percayalah Kakak sudah baik-baik saja. Sekarang fokuslah kehidupan sendiri, bersama El-barack dan Alvian."


"Tugasku hampir selesai." Aina meletakkan sebuah amplop ke hadapan sang Kakak. "Ini adalah tiket ke Jepang. Papa Antonio meminta aku untuk memberikan ini kepada Kakak. Awalnya aku tidak enak, tapi setelah aku pikir lagi, Papa dan El-barack benar juga. Disana Kakak bisa mengebangkan cabang baru Rich grup sambil berusaha untuk sembuh. Luka hati pasti luar biasa sakitnya ya kak?"


Aina menepuk pundak sang Kakak. "Iya, pikirkan saja dulu."


"Tapi Ai ... kalau Kakak benar-benar setuju pergi ke Jepang, apa boleh Kakak berpamitan dengan Lin untuk terakhir kali?"

__ADS_1


Aina mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan sang Kakak. Dia tahu Kakaknya sangat kecewa tapi dia adalah Reynald, pria yang tak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan.


Meski untuk menerima kembali, tidak mungkin lagi. "Kenapa tanya aku, Kak? Jika memang Kakak ingin seperti itu, maka lakukanlah. Kalian memulai secara baik, maka akhiri dengan cara yang sama."


"Huuft, kamu benar. Mungkin setelah sidang perceraian selesai, aku akan menemui dia secara pribadi untuk terkahir kali."


Aina mendekat dan menatapa sang kakak curiga. "Tapi Kakak tidak akan goyah 'kan?"


Ptak!


Satu sentilan mendarat tepat di dahi Aina. "Apa menurutmu aku selemah itu? Ai, aku mungkin bisa memaafkan tapi untuk melupakan kejadian beberapa waktu lalu, tidak akan bisa. Aku lebih baik sendiri seumur hidup dari pada kembali mengulang kisah yang sama."


Aina hanya tersenyum lalu menyadarkan kepalanya di pundak sang Kakak. "Aku percaya Kakak bisa. Meski sulit, cobalah membuka hati. Ingat Kak, kebahagiaan Bapak dan Ibu bukan hanya tentang aku, tapi Kakak juga. Kita harus sama-sama bahagia, agar mereka tersenyum disana."

__ADS_1


Dua kakak beradik itu, pada akhirnya bisa kembali merasakan momen berdiskusi berdua. Momen yang sempat hilang, karena Reynald salah menempatkan hati hingga Aina harus menepi.


Bersambung 💕


__ADS_2