
"Apa!" Lin berdiri dari posisinya, mendekati sang suami dengan raut wajah kesal yang tidak bisa dikondisikan. "Aina dan suaminya akan datang kesini untuk makan malam?"
"Iya, jadi sekarang aku minta kamu bersiap-siap, minta bibi untuk memasak menu spesial malam ini." Reynald memperlihatkan layar ponselnya kepada sang istri. "Tolong kamu juga pesan kue ini. Dulu Aina sangat menyukainya."
Lin memalingkan wajahnya sambil berpangku tangan. "Memangnya yang datang itu ratu dan raja? Untuk apa menyiapkan hal istimewa. Aku sudah berusaha melupakan dia, dan tidak membahasnya, tapi kamu malah ingin mengundang dia kesini."
Reynald terlihat menahan diri, agar mulutnya tidak mengumpat, sekarang yang ada didalam pikirannya hanyalah bagaimana acara malam ini berjalan dengan lancar. Apalagi yang meminta untuk makan malam bukanlah dirinya, tapi El-barack sendiri.
"Lin, sudah aku peringatkan agar kamu bisa belajar menerima Aina. Aku lelah untuk bertengkar tentang masalah ini. Jika kamu masih menganggap aku suamimu, siapkan semuanya sebaik mungkin, sambut Aina dan keluarganya dengan tangan terbuka, paham?"
Tanpa mengatakan apapun lagi, Reynald berbalik melangkah pergi menaiki tangga menuju lantai dua. Rumah tangganya dan Lin sudah menyimpang sejak lama, mereka sering bertengkar namun enggan melepaskan satu sama lain.
Alasannya begitu klise, Reynald pernah berjanji didepan Ayah Lin yang sedang sekarat. Dia berjanji akan menjaga dan mencintai Lin sampai akhir hayat.
Saat itu dia pikir, Lin adalah sosok wanita yang terbaik untuknya. Namun ternyata dia salah, menikahi Lin adalah awal masalah yang terus berkembang sampai saat ini.
__ADS_1
Cara Lin mencintai sang suami adalah bentuk keegoisannya yang tidak ingin berbagi tempat bahkan untuk adik suaminya sendiri. Ya, begitu rumit hingga susah untuk dimengerti dan diterima akal sehat.
Ada satu hal lagi yang membuat rumah tangga mereka semakin toxic, yaitu masalah keturunan. Lin terus menyalahkan sang suami, yang tidak kunjung membuat dirinya hamil. Padahal bisa saja yang bermasalah adalah dirinya sendiri.
***
"Sepertinya dres ini bukan yang aku belikan untukmu 'kan? Ganti, ini terlalu biasa, aku sudah membeli banyak dres untukmu kenapa pakai yang ini," celoteh El-barack saat Aina memperlihatkan penampilannya.
"Kenapa, bukannya kamu bilang aku cantik dengan pakaian apapun? Sebenarnya kita mau kemana sih, penampilanmu sepertinya juga sangat berlebihan," ujar Aina seraya memperhatikan penampilan El-barack.
Alvian yang sedang menonton film kartun di ponsel sang Mama, terlihat menutup kupingnya. "Belisik! Aal yagi nonton nih. Kayo gak jadi pelgi Aal mau ke kamal Kakek aja."
"Jadi dong haha, Mama kamu memang suka cari masalah sama Papa," ucap El-barack sambil mencium pucuk kepala sang putra. "Sebentar lagi ya sayang. Papa bantu Mama ganti baju dulu."
Tanpa menunda waktu, El-barack menarik tangan Aina menuju Walk in closed. Di mana semua pakaian, baju dan lain-lainnya tertata dengan rapi.
__ADS_1
"Kamu mau apa?" tanya Aina dengan ekspresi wajah panik.
El yang sedang membuka lemari, menoleh kebelakang dimana Aina berdiri. "Aku akan membantu kamu berganti pakaian." Dia kembali melihat semua isi lemari dan mengambil satu dres yang tergantung disana. "Sepertinya ini cocok."
Aina segera mengambil alih dres itu dari tangan sang suami. "Oke, aku ganti. Sekarang kamu keluar."
Saat hendak berbalik, El begerak cepat menarik tangan Aina. "Aku yang akan menggantinya. Perlahan tangan kanan El menarik resleting belakang baju Aina, sementara tangan lain, malah menjelajah sembarangan.
"Apa kamu ingin bermain-main di situasi seperti ini?" Aina memejamkan matanya saat merasakan kecupan bibir El-barack menyapu bersih leher jenjangnya.
Sementara El-barack terus mencoba menahan hasratnya yang selalu saja datang disaat terdesak, mencoba mengatur napas hingga akhirnya dia bisa mengontrol diri meski saat ini tubuh indah sang istri terpampang nyata di hadapannya.
Dengan tatapan sayu, dia kembali menatap Aina. "Ck, sejak kapan aku mulai tergila-gila seperti ini hanya karena melihat leher dan pundak. Belum lagi bagian lain, kamu luar biasa, Aina."
Mendengar pernyataan sang suami, ingin rasanya Aina bertanya tentang perasaan El-barack padanya. Namun lagi-lagi dia tidak punya keberanian untuk itu, dia memalingkan wajah sambil menunjuk kearah pintu keluar. "Tunggu diluar, jika terus disini aku yakin kamu tidak akan bisa menahan diri."
__ADS_1
Bersambung 💕🙏