After One Night Mistake

After One Night Mistake
Harusnya Aku


__ADS_3

Dua hari telah berlalu tepat pukul delapan malam, Reynald akhirnya kembali setelah 1 bulan belakangan mengorbankan seluruh waktunya demi membangun masa depan yang cerah untuk keluarga kecilnya bersama Liliana.


Saat keluar dari bandara, dia melambaikan tangan melihat sang istri yang sedang bersandar di badan mobil menunggu kedatangannya. segera saja dia menghampiri Lin.


Meski mereka sering bertengkar tetapi selama satu bulan Dia sangat merindukan Lin, merindukan hari-hari bahagia yang mereka lewati berdua meski tanpa adanya buah hati.


Reynald melangkah cepat dan langsung menggendong Lin sambil berputar-putar, saking rindunya. selang beberapa detik dia menurunkan Lin fan langsung memeluknya.


"I miss you, Lin.Satu bulan tidak bertemu kamu rasanya seperti ada yang kurang. Aku sadar jika selama ini kita terlalu sering bertengkar, sampai aku lupa jika kamu adalah satu-satunya wanita yang aku cintai, maafkan aku."


Mendengar penuturan sang suami, Lin tiba-tiba saja dilanda rasa bersalah. Bagaimana tidak, satu bulan belakangan ini dia telah bermain api dan melupakan komitmen yang mereka bangun bersama.


Meski sudah mengkhianati, Lin yakin bisa menutupi semua itu sampai akhir. Ya, dia pun tak ingin kehilangan Reynald, dia sangat mencintai suaminya. "Hm, aku juga sangat merindukan kamu, sangat." Mata Lin terpejam sambil mengeratkan pelukannya.


Sementara itu tak jauh dari sana, Alex memantau dari kejauhan. Kedua tangannya tercengkram erat, dia cemburu tetapi apa yang bisa dia lakukan, dia membutuhkan Lin disisinya tetapi Lin membutuhkan Reynald selamanya.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang, dia segera berbalik, melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


***


Aina menghela napas panjang saat melihat Anak dan juga suaminya bermain perang-perangan hingga membuat kamar berantakan, padahal saat ini sudah waktunya Al tidur.


Sempat terdiam di ambang pintu, Aina segera melangkah masuk untuk menghentikan kedua pria kesayangannya itu. "Stop! Sekarang waktunya tidur, kanapa malah main perang-perangan sampai berantakan seperti ini." Aina melangkah mendekat, memungut selimut yang teronggok di lantai kamar.


"Main sih main, tapi lihatlah kamar ini sudah seperti kapal pecah." Aina menoleh menatap kedua pria kesayangannya. "Al, Papa. Kok diam saja, ayo bantu Mama beres-beres dong."


Al dan El Barack saling menatap satu sama lain, sambil berusaha menahan tawanya. Setelah beberapa saat, bukannya beranjak mereka malah mengambil posisi berbaring diatas ranjang.


"Papa juga ngantuk, Ma. Mau tidur sama Al.", El segera mengubah posisinya memeluk sang putra. Ya, mereka benar-benar kompak jika menyangkut urusan membuat Aina kesal.


Aina mencengkram erat selimut tebal yang ada ditangannya, "Anak sama Papa sama saja," gumamnya lalu kembali melanjutkan aktivitas memunguti satu persatu mainan yang memenuhi lantai kamar. Ukuran kamar itu cukup luas untuk membuat Aina berolahraga malam.

__ADS_1


Saat tengah asik membereskan mainan sang putra, tiba-tiba Aina menoleh saat mendengar ponselnya yang terletak diatas nakas, begetar. Tanpa membuang waktu, dia segera melangkah meraih ponsel itu.


"Kak, Rey ... apa dia sudah kembali."Aina segera mengangkat panggilan telepon itu sambil melangkah menuju balkon utama agar suaranya tidak membangunkan Al dan El-barack.


"Hallo, Kak."


[Ai, Kakak sudah sampai di rumah. Kamu kenapa tidak menjemput Kakak di bandara tadi?]


Aina nampak tertegun sesaat. "Ah itu ... aku sedang tidak enak badan. Bagaimana kalau besok kita bertemu di toko ku, bisa?"


Aina lagi-lagi hanya bisa berdalih, padahal dia hanya ingin menghindari Lin. Dia takut saat bertemu Kakak iparnya itu, dia tidak akan bisa menahan diri.


[Baiklah, Kakak akan datang besok. Kalau begitu Kakak tutup dulu, Kakak ingin beristirahat, kamu juga harus beristirahat.]


"Ya, Kak. Selamat beristirahat." Aina mematikan panggilan telepon itu. Pandangannya menatap lurus kearah langit malam. "Bagaimana ini, kenapa waktu tiba begitu cepat. Apa Kak Rey akan baik-baik saja saat mengendarai tentang perselingkuhan Kak Lin," gumamnya dengan gelisah.

__ADS_1


Bersambung 💕



__ADS_2