After One Night Mistake

After One Night Mistake
Cintaku Bukan Cinta Biasa


__ADS_3

"Al mau bobo sama Kakek lagi?" tanya Aina memastikan. Meski dia tahu sekarang sang putra diperlakukan layaknya putra mahkota tetapi dia kadang tidak enak hati melihat Alvian terus menempel kepada Papa mertuanya yang sebenarnya memerlukan istirahat yang cukup, diusia senja.


Melihat sang cucu diam tertunduk, Antonio segera bergerak mengendongnya. "Yakin dong. Kapanpun Al mau, boleh tidur sama Kakek." Dia beralih melihat Aina yang nampak memasang wajah sendu. "Jangan merasa jika Al adalah beban Papa, sekarang dia adalah prioritas."


"Tapi, Pa--"


"Sudah biarkan saja, dari dulu Papa sudah memimpikan kehadiran Al," sahut El-barack yang tiba-tiba saja datang, melangkah mendekati sang istri.


"Itu fakta, kalau begitu Al sekarang ikut Kakek, Mama dan Papa mau pacaran." Tanpa membuang-buang waktu, Antony segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu bersama sang cucu.


"Bye.. bye.. Papa, Mama!" sahut Al sambil melambaikan tangan dengan riang gembira.


Aina hanya bisa menghela napas panjang, lalu beralih melihat sang suami. "Kamu mau makan atau mandi dulu?" Aina menggerakkan tangannya mengelus pelan pipi sang suami. "Hari ini kamu pasti sangat sibuk ya, wajah kamu terlihat lelah sekali."


Mendengar pertanyaan sang istri, El-barack malah tersenyum lalu perlahan mendekat, mendaratkan satu kecupan singkat di kening sang istri. "Aku mau kamu." Dia kembali menjauh lalu mengeluarkan sebuket bunga yang sejak tadi dia sembunyikan dibalik punggungnya. "Ini hadiah kecil, semoga kamu ... tidak bilang ini berlebihan lagi."

__ADS_1


Sungguh El-barack masih saja terlihat kaku, dia tidak biasa bersikap romantis dengan kata-kata penuh gombalan, namun dia terus berusaha untuk menjadi suami terbaik.


Sejenak Aina nampak mengerjap bingung dengan wajah memerah padam. Lagi-lagi jantungnya berdetak tak karuan, seolah menemukan kebahagiaan kecil yang selalu dia dambakan.


Sambil tersipu malu tangan Aina bergerak, meraih buket bunga mawar putih dari tangan sang suami. "Bunganya cantik sekali, terima kasih."


Ternyata kali ini berhasil, aku tidak akan melewatkan kesempatan ini, batin El-barack.


Diraihnya tangan sang istri lalu digenggam dengan erat. Malam ini dia sudah merencanakan malam panas yang tertunda, karena pagi tadi pagi Aina mengaku telah selesai datang bulan, lebih cepat dari biasanya. "Ayo kita ke


Aina menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah sang suami menaiki tangga menuju lantai dua. Sepanjang langkahnya naik keatas, Aina beberapa kali melirik sang suami.


Ada debaran yang begitu aneh, seolah dia telah tersadar jika hatinya benar-benar telah tertaut kepada seorang pria yang dulu ingin dia hindari meski harus lari ke ujung dunia sekalipun.


Namun semakin lama, hatinya semakin merasakan keegoisan, ingin merengkuh dan berada disisi El-barack seterusnya. Dia bahkan sudah terkena virus cemburu, cemburu untuk hal yang belum pasti.

__ADS_1


Sesampainya dikamar, El-barack melepaskan genggaman tangannya dari sang istri. Dia melangkah menuju sudut ruangan untuk melepaskan jas dan juga dasinya.


Sementara Aina masih berdiri disana, dua meter dari El-barack. Dia sempat tenggelam dalam pikirannya sendiri, tentang ungkapan yang belum tersampaikan secara langsung. "Aku mencintaimu, Sayang."


El-barack yang sedang melepaskan dasinya, langsung menoleh saat mendengar Aina memanggilnya dengan panggilan sayang. "Tadi kamu bilang apa?"


Aina kembali merasa gugup, hingga mencengkram erat kedua tangannya. Perasaan yang terus tertahan, kini membuncah hingga tak bisa ditutupi oleh ego sekalipun. "El Barack Alexander, suamiku. Aku mencintaimu."


Melihat El-barack terpaku, membuat Aina tertunduk malu dengan mata berkaca-kaca. "Huft, akhirnya aku merasa lega karena telah mengatakan semuanya. Sekarang aku tidak akan pernah ragu lagi mengantungkan harapanku padamu."


Tanpa mengatakan apapun, El-barack melangkah mendekat, meraih tekuk leher sang istri dan dengan cepat mendaratkan satu ciuman di bibir merah muda nan tipis itu.


Aina mencengkram erat punggung tegas sang suami, menikmati segala sensasi yang begitu hangat dan memabukkan. Tak lama matanya terbuka, saat El-barack melepaskan tautan mereka.


Beberapa detik mereka terdiam dalam keheningan. El-barack mengusap pelan pipi sang istri dengan wajah diliputi kebahagiaan. "Aku sangat mencintaimu Aina, sangat."

__ADS_1


__ADS_2