
Didalam ruangan yang diterangi cahaya remang-remang lampu tidur, Liliana atau kerap disapa Lin, sedang dirangkul mesra oleh kekasih gelapnya.
Malam ini mereka kembali bertukar peluh, hingga aliran darah berdesir hebat. Rasa bersalah atas hubungan yang mereka jalin saat ini, seolah lenyap begitu saja.
Ya, semakin Lin memikirkan Reynald, maka dia semakin terjatuh semakin dipelukan Alex untuk itu saat ini dia mencoba untuk bersikap masa bodoh.
Dia menenggelamkan wajahnya di dada bidang Alex sambil memejamkan mata, rasanya begitu nyaman seperti menemukan tempat terbaik selain pelukan suaminya. "Dua hari lagi Rey akan pulang, mungkin setelah itu kita akan jarang menghabiskan waktu seperti ini."
Alex menggenggam erat tangan Lin, dia tidak siap untuk hari itu. "Aku akan memikirkan cara agar kita bisa tetap bertemu. Lin, hampir satu bulan kita menjalani hubungan ini, apa kamu masih merindukan suamimu?"
Helaan napas Lin terdengar lirih, saat mendengar pertanyaan itu, dia seperti kembali tersadar jika sekarang pernikahannya sudah ternoda. "Aku sudah bilang aku tidak bisa berpisah dengannya Lex, jika kamu menginginkan aku tetap disisimu, aku harap kamu mengerti aku."
"Ya, aku paham. Tapi sampai kapan? Aku tidak ingin egois tapi aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Lin, sekarang aku ingin tahu, apa kamu juga mencintai aku?"
Lin mendadak bisu. Ya, dia sadar jika saat ini dirinya telah terikat janji suci pernikahan dengan Reynald dan dia juga mencintainya. Tetapi di sisi lain, dia mempunyai Alex untuk selalu ada, mendengar semua keluh kesahnya dan amat mengerti dirinya.
Lin benar-benar telah membuat hidupnya begitu sempurna dengan keegoisan. Ya, dia pun tahu, tidak ada masa depan untuk hubungan terlarang, semua abu-abu namun sampai detik ini dia masih membiarkan dirinya nyaman di dekapan Alex.
__ADS_1
Percayalah, menorehkan noda merah dalam pernikahan adalah hal fatal yang mempunyai konsekuensi tinggi, dan yang terparah adalah penyesalan dan perpisahan.
***
Yuna membuka mata perlahan saat merasakan sesuatu menindih bagian perutnya hingga dia kesusahan. Sejenak dia mencoba untuk menormalkan dirinya yang masih setengah sadar.
Saat kesadarannya sudah pulih seratus persen, dia memberanikan diri menoleh ke sisi kirinya, hingga sedetik kemudian kedua mata itu membulat sempurna. "Kyaaaaa!!!"
Dia bangkit da langsung memukul Boril dengan bantal. "Bagaimana bisa kamu tidut disini! Bangun woy, bangun!!!"
"Akkh dasar kau!" Boril segera beranjak dari posisinya sambil meringis kesakitan akibat ulah Yuna yang tiba-tiba menindas tanpa ampun. "Masih pagi sudah main kasar, kenapa sih?"
Yuna terus mengoceh, meluapkan kekesalannya. Sementara Boril masih mencoba mengatur nafas agar dirinya lebih tenang menghadapi wanita bar-bar dihadapannya ini.
Setelah beberapa saat, Yuna akhirnya selesai meluapkan emosinya.
"Sudah?" tanya Boril.
__ADS_1
"Ya, kenapa!?" ketus Yuna.
"Sekarang kamu lihat sekeliling ruangan ini dengan baik. Aku yang salah masuk kamar, atau kamu yang tengah malam tadi berjalan seperti zombie dan langsung tidur disini?"
"Hm?" Bola mata Yuna menoleh kanan, kiri dan benar saja tempat dia duduk saat ini adalah sofa ruang tamunya. "Ahaha, ini ruang tamu ya? Sepertinya malam tadi aku mimpi berjalan lagi, itu hal biasa saat aku kelelahan."
"Huuft." Boril menggelengkan kepalanya. "Aku merasa terzolimi, dan lihat ini, lenganku biru. Pokoknya kamu harus tanggung jawab."
Yuna yang nampak bersalah segera mendekati Boril. "Kakak tidak akan melaporkan aku ke polisi 'kan? Terus aku Bertanggung jawab bagaimana?"
Boril menyunggingkan senyumnya sambil melangkah mendekat, hingga jaraknya dan Yuna hanya beberapa centimeter saja. "Kamu harus bertanggung jawab dengan cara ... hidup bersamaku selamanya, bisa?"
"Hah?" Yuna me gerjap bingung beberapa detik sampai akhirnya.
Ptak!
Dia menjitak kening Boril dengan cukup keras. "Nah, kalau sekarang Kakak yang ngigo, dasar!" Tanpa menunda waktu, dia segera bergabung pergi meninggalkan ruangan itu.
__ADS_1
"Hey, aku tidak mengigo!" seru Boril namun tidak ditanggapi Yuna.