
Delapan jam penerbangan, akhirnya Larisa sampai di Bandara internasional xx. Sudah empat tahun sejak terakhir kali dia menginjakan kaki ditempat itu.
Langkah kakinya terlihat begitu anggun, dia membuka kacamata hitam yang sejak tadi menutupi kedua mata indahnya. "Sudah lama aku tidak merasa sebebas ini. Tante Merry benar-benar menjadi dewi penyelamatku."
Tante Merry benar-benar tidak kehabisan ide, diancam oleh El-barack ternyata tidak membuatnya jera. Bertemu dengan Larisa ditengah kota paris yang begitu luas, menurutnya adalah sebuah keajaiban.
Sekarang dari kejauhan dia bisa memantau Larisa seraya merencanakan sesuatu untuk menjatuhkan El-barack, mungkin setelah itu barulah dia akan berani kembali menampakkan dirinya.
***
Aina dan Alvian sudah di toko kue sejak pagi. Ya, hari ini Reynald berjanji akan datang menemui adik dan juga keponakannya Alvian. Terlihat beberapa orang pegawai toko sudah datang membantu Aina menyusun cake di etalase.
"Nona, biar saya saja," ucap seorang perempuan yang terlihat panik ketika Aina membersihkan etalase kaca.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, saya sedang menunggu Kakak saya datang jadi sekalian bersih-bersih saja. Kamu tolong awasi Al saja ya," ucap Aina lalu tersenyum ramah.
"Baik, Nona." Perempuan itu segera berbalik pergi menghampiri Alvin yang sedang bermain sendirian tak jauh dari sana.
Aina kembali melanjutkan aktivitasnya, menyusun cake yang baru saja keluar dari oven. Petugas dapur memang datang sejak subuh untuk membuat segala macam cake, sementara pegawai lain datang pukul delapan pagi.
Aina terlihat begitu menikmati setiap aktivitas yang dia lakukan, meski dirinya sudah bergelar sebagai seorang nyonya Alexander. Kehidupan yang dia lalui sebelum bertemu kembali dengan El-barack, memberinya banyak pelajaran berharga.
Saat melihat sang Kakak keluar dari mobil, senyum Aina mendadak surut. Bagaimana tidak, ternyata Reynald mengajak istrinya, Lin.
Jika dulu dia selalu berharap Lin akan datang mengunjungi tokonya, maka sekarang situasinya sudah berbeda. Dia harap Lin tidak pernah muncul lagi dihadapannya.
"Hy Aina, lama tidak bertemu," sapa Lin sambil mengulurkan tangannya kehadapan sang adik ipar.
__ADS_1
Sejenak Aina masih nampak terpaku, sepertinya dia masih tidak menyangka Lin akan ikut datang. Perlahan dia mengerakkan tangannya menjabat tangan Lin. "Ya, cukup lama. Aku tidak menyangka Kakak akan datang."
"Dia loh yang minta sendiri," sahut Reynald. "Kalian mengobrol lah, aku mau menemui Al, rindu." Tanpa menunda waktu, Reynald segera bergegas masuk menghampiri keponakannya.
Sementara itu Lin dan Aina masih bediri berhadapan di depan sana. Tatapan Aina membuat Lin tidak nyaman dan bertanya-tanya. "Hey, Ai. Kenapa kamu menatap aku seperti itu?"
Aina menundukkan kepalanya seraya menahan gejolak yang bergemuruh di dada. Setelah beberapa detik dia kembali menatap Lin. "Tidak apa-apa. Sepertinya kita benar-benar sudah lama tidak bertemu ya kak. Kadang aku bertanya apa Kakak bahagia hidup bersama Kak Rey yang selalu pulang pergi ke luar kota untuk menjalankan bisnisnya."
Mata Lin memicing tajam, sambil berpangku tangan dia melangkahkan kakinya agar semakin dengan Aina. "Kenapa kamu tiba-tiba saja bicara seperti itu, apa sekarang kamu sudah mulai ingin ikut campur masalah rumah tangga kami?"
Aina lagi-lagi tersenyum. "Tentu saja, selama Kakak setia dan mencintai Kak Rey. Sikapku tergantung Kakak juga." Aina berbalik, lalu melangkah masuk tanpa memperdulikan Lin.
__ADS_1