After One Night Mistake

After One Night Mistake
Dreams come true


__ADS_3

Di depan pintu keberangkatan Bandara Internasional xx. Aina memeluk erat sang Kakak yang akan segera berangkat ke Jepang. Air matanya pun tak bisa dibendung lagi.


"Kakak harus happy, jangan hanya sibuk kerja ya saat disana, ingat kesehatan. Kalau ada waktu, aku akan berkunjung kesana."


"Iya, jangan cemas. Kakakmu ini sudah baik-baik saja. Aina adikku, kamu juga harus terus bahagia, kamu sudah melalui banyak rintangan untuk sampai di titik ini. Kakak percaya, suatu saat Kakak pasti bisa seperti kamu juga."


"Tentu saja, Kakak pasti bisa."


Aina melepaskan pelukannya seraya menyeka air mata. Reynald beralih memeluk adik iparnya, El-barack Alexander. "El, aku titip Aina ya. Aku percaya kamu akan selalu membuat dia tersenyum bahagia."


"Tenang saja, aku akan selalu membahagiakan dia." El-barack melepaskan pelukannya seraya menepuk pundak Reynald. "Kak Rey, aku harap semua berjalan dengan baik disana. Jangan lupa buka hati, wanita di Jepang cantik-cantik loh."


Reynald tekekeh kecil mendengar ucapan El-barack. "Ck, kamu bisa saja."


Terakhir Reynald beralih kepada Alvian yang sejak tadi terlihat sedih, karena mengetahui dia akan pergi. "Al, tidak mau peluk uncle?"


Al menggelengkan kepalanya. "Uncle jahat, Al gak suka. Pelgi gak ngajak-ngajak."


"Al, uncle hanya pergi sebentar sayang. Ayo peluk Uncle dulu, nanti nyesel loh kalau Uncle sudah naik pesawat," sahut Aina seraya membelai pucuk kepala sang putra.


Al menghela napas, lalu perlahan mendekat ke arah Reynald yang sudah merentangkan kedua tangannya. "Uncle jangan lama-lama ya."


Reynald nampak terharu hingga matanya berkaca-kaca. "Hm, tentu saja Uncle hanya sebentar kok. Minggu depan Al ulang tahun ya, nanti Uncle kirim kado mainan yang banyak ya."


Al melepaskan pelukannya, menatap Reynald dengan wajah berseri-seri. "Yey asik, maaci Uncle."


"Sama-sama sayang."

__ADS_1


Reynald kembali memeluk Al, hingga akhirnya terdengar suara announcement untuk memberitahukan bahwa pesawat dengan tujuan Jepang akan segera terbang.


Aina kembali memeluk sang Kakak untuk terkahir kali, hingga akhirnya harus merelakan sang Kakak pergi, menata hati dan pikirannya.


Keluarga kecil itu melambaikan tangan mereka hingga Reynald menghilang dari balik pintu keberangkatan.


***


Pukul empat sore setelah mengantar Reynald ke bandara. Aina, El-barack dan Alvian sudah sampai di depan gedung Rich grup, Untuk memperingati anniversary Rich Grup yang ke-30, perusahaan mengadakan acara hiburan, kuliner dan juga donor darah di depan halaman gedung perusahaan.


Situasi nampak begitu ramai, karena acara tersebut terbuka untuk umum dan siapapun bisa berpartisipasi. Acara tersebut akan berlangsung selama satu minggu kedepan, lalu acara puncak akan dilaksanakan di sebuah hotel berbintang sekaligus untuk merayakan ulang tahun Alvian yang ke empat.


"Al cucu Kakek, ayo ikut Kakek kesana." Baru saja sampai, namun Antonio langsung mengambil alih cucu kesayangannya dari gendongan El-barack.


"Huruf, Papa semakin aktif semenjak punya cucu, biasanya dia tidak akan datang ke acara kantor," ujar El-barack sambil memandang kepergian sang Papa dan putranya.


"Biarkan saja, itu berarti Papa bahagia," sahut Aina.


"Sepertinya dia tidak sibuk mengatur acara, tapi sibuk pacaran, lihat disana." Aina menunjuk lurus kearah stand makanan, dimana Boril dan Yuna sedang makan siang bersama dengan saling suap suapan.


"Ck, hah sejak kapan mereka semesra itu." Tiba-tiba saja El-barack mencium singkat pipi sang istri.


"Hem kok tiba-tiba?" tanya Aina bingung.


"Tidak mau kalah sama yang baru jadian." El-barack menggenggam tangan Aina dengan erat. "Sekarang kamu mau apa? Disini banyak makanan, ada panggung musik."


"Aku mau kesana." Aina menunjuk lurus kearah stand donor darah milik organisasi resmi yang di fasilitasi Rich grup hari ini sebagai bentuk solidaritas sosial.

__ADS_1


"Kamu mau donor darah?" tanya El-barack memastikan.


"He'em, ayo." Aina menarik tangan sang suami agar mengikuti langkahnya.


***


Setelah mengisi formulir, Aina telebih dahulu diperiksa oleh seorang dokter untuk memastikan jika Aina menulis syarat untuk mendominasi darahnya.


"Ai, kamu yakin? jarumnya panjang dan besar," bisik El-barack.


"Yakin, donor darah bukan hanya bermanfaat untuk membantu orang tapi juga bagus untuk kesehatan, lagi pula aku sudah biasa disuntik kamu juga," ucap Aina berbisik.


Akhirnya El-barack diam seraya tersenyum-senyum sendiri.


"Maaf, Nona, Tuan. Sepertinya Nona Aina tidak bisa mendonorkan darahnya," sahut seorang dokter yang sejak tadi melakukan pemeriksaan fisik.


"Hah, kenapa?" tanya Aina dan El-barack secara bersamaan.


Dokter tersebut fokus melihat Aina. "Nona, apa anda telat datang bulan?"


Aina yang nampak bingung, mencoba untuk mengingat kapan terakhir kali dia datang bulan. "Sepertinya begitu, saya juga tidak terlalu mempedulikan, kenapa ya?"


"Dari hasil pemeriksaan fisik dan darah yang tadi saya ambil, sepertinya anda hamil," jawab dokter itu dengan santainya.


"Ha-hamil?" tanya El-barack dengan suara bergetar, dia berharap tidak salah dengar.


"Benar Tuan, tapu untuk memastikan semuanya, agar tidak ragu, Nona Aina bisa dibawa ke dokter spesialis kandungan untuk tindakan USG," jawab dokter itu lagi.

__ADS_1


Aina dan El-barack saling menatap tanpa bisa mengatakan apapun.


~


__ADS_2