
Mobil yang di kendarai Boril akhirnya sampai di depan toko, namun acara pembukaan sudah selesai, langit yang menghitam pekat menjadi pertanda betapa terlambatnya dia.
"Tuan, kenapa berdiri disitu, masuklah saya akan tunggu disini," ucap Boril yang ikut berdiri disamping El-barack.
"Iya aku tau. Oh iya, kamu pulang saja nanti aku akan minta supir Mansion ke mari. Malam ini jalankan misi yang sudah aku beritahu di jalan tadi," ujar El-barack lalu melanjutkan langkahnya masuk kedalam toko.
Dari ekspresi wajah Boril nampak begitu lelah, namun bisakah dia menolak jika El sudah meminta sesuatu? Ya tentu saja tidak, dia harus menjalankan tugasnya meski ada hujan badai sekalipun. "Hm, semua demi ketentraman negara, aku harus kuat!"
Sementara didalam sana, El-barack nampak mencari-cari di mana keberadaan sang istri, hingga seorang pelayan datang menghampirinya.
"Selamat malam, Tuan. Nona Ai bilang jika anda datang langsung naik kelantai dua saja, Nona sedang di atas," ucap pelayan toko itu.
__ADS_1
Sekilas El nampak mendogak keatas, hingga detik selanjutnya kembali melihat pelayan wanita itu. "Baiklah, terima kasih." Tanpa menunda waktu, El-barack segera melangkah menaiki tangga.
Entah kenapa dia begitu grogi. Dia merasa telah melakukan banyak kesalahan kepada Aina sejak malam tadi. Sambil terus melangkah, dia terus berpikir bagaimana cara menghadapi Aina.
Semakin hari, El-barack semakin berubah menjadi pribadi yang positif. Dia yang dulu tidak pernah memikirkan perasaan orang lain kini selalu gelisah jika membuat Aina marah kepadanya.
Langkah El-barack terhenti saat melihat Aina sedang menata bunga lili kedalam vas. Dari jarak tiga meter dia tertegun, memandangi sang istri yang dulu tidak pernah ada dalam bayangannya.
Wanita ini, kenapa dia bisa membuat aku takut. Bagaimana jika aku terjatuh terlalu dalam hingga kehilangan harga diriku, tapi ... dia sungguh cantik dan mempesona, aku harus bisa mengontrol diri dihadapannya, ya aku bisa, batin El-barack.
Terkadang seorang wanita punya satu titik jenuh saat menginginkan sesuatu, lalu kemudian dia mulai pasrah dan menjalani semuanya sesuai dengan takdir yang di gariskan. "Kamu datang juga, akhirnya."
__ADS_1
Perlahan El-barack mendekat sambil beberapa kali menelan salivanya karena gugup. "Ai, maaf. Aku tidak tahu jika hari ini aku akan sangat sibuk, aku tahu kamu pas--"
"Sudah makan?" Aina memotong ucapan sang suami sambil berdiri dari posisinya. "Di bawah ada beberapa cake yang enak, kamu mau?"
El-barack memicingkan matanya, dia merasa ada yang berbeda dari sikap Aina. Kenapa senyumannya terlihat dipaksakan, apa dia sudah lelah berdebat denganku? Seharusnya aku lega, tapi aku malah merasa tidak nyaman, batin El-barack.
"Ayo kamu harus makan, setelah itu kita pulang, Al sudah pulang bersama Papa tadi." Aina kembali tersenyum lalu melangkah melewati El-barack.
Melihat Aina melangkah melewatinya begitu saja, El-barack segera berbalik, menarik tangan Aina. "Ai, masalah malam tadi aku juga minta maaf. Aku tidak suka kamu bersikap seperti ini, aku lebih suka melihat kamu marah dan meluapkan semuanya. Dan masalah cinta ... jika aku memang ditakdirkan untuk mencintai satu wanita seumur hidupku, maka itu adalah kamu."
Aina mengerjap bingung, saat dia tidak lagi mengharapkan hal yang menurutnya mustahil, ternyata pernyataan itu malah datang disaat yang tidak terduga.
__ADS_1
Takdir adalah misteri, begitu juga dengan cinta yang bisa menyapa kapan saja. Setelah ini, hubungan mereka akan semakin kuat, konflik antar hati pun semakin sengit, karena mereka sudah merasa mempunyai hak atas diri satu sama lain dan salah satu konflik hati yang umum terjadi adalah, cemburu.
Bersambung 💕