
"Rey dengarkan aku dulu." Lin melangkah cepat keluar dari dalam kamar itu, menyusul Reynald yang sudah tidak perduli, apalagi mendengar penjelasannya.
Namun langkah Lin tiba-tiba terhenti, saat sampai di ruang tamu apatemen. Dia kaget melihat disana ada Aina, El-barack, Boril, dan juga Yuna. Tak lupa disana juga ada Alex yang sedang duduk tertunduk sambil menahan rasa sakit pada wajahnya yang babak belur.
Reynald kembali berbalik, memandangi Lin yang langsung membisu melihat ternyata banyak orang yang menyaksikan kebodohannya. "Sekarang kamu bisa tinggal disini, aku akan mengemasi semua barang-barang dan ku kirim kesini."
Melihat Lin hanya diam, Reynald kembali beralih melihat Alex yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri. "Aku mempercayai kamu Lex, tapi ternyata kamu hanya musuh dibalik selimut. Kamu menginginkan dia? Ambillah, aku yang mundur."
Mendengar hal itu, Lin kembali menarik lengan sang suami seraya berderai air mata. "Rey, jangan. Aku mohon, kita bisa membicarakan semua ini dengan kepala dingin, tenangkan dulu diri kamu."
__ADS_1
Lagi-lagi Reynald menghempaskan tangannya. "Semua sudah berakhir." Reynald kembali terdiam, dia tidak pernah siap untuk mengucap kata pisah, namun tidak ada jalan lain yang lebih baik dari perpisahan.
Reynald menggerakkan tangannya, menyentuh pucuk kepala Lin dengan telapak tangan. "Semua orang yang ada di ruangan ini menjadi saksi. Saat ini juga, aku mengembalikan sumpahku untuk menjaga kamu, aku kembalikan semua janjiku saat mengikatmu secara hukum dan agama."
Lin hanya bisa menunduk seraya menangis tersedu-sedu, sentuhan Reynald di ujung kepalanya benar-benar menggetarkan nurani Lin, dia menyesal namun sayang dia tidak bisa memperbaiki semua seperti sedia kala.
Reynald mencoba menahan gejolak yang menyesakkan dada untuk menyelesaikan apa yang sempat dia mulai dengan kesungguhan. "Dan aku tarik kembali kata cinta yang selalu aku ucapkan setiap waktu. Lin, mari kita berpisah."
Sementara dipojok ruangan, Aina memejamkan matanya, saat mendengar sang Kakak mengucapakan kata perpisahan. Dia tidak siap untuk menyaksikan semua ini, namun jika bukan dia, siapa lagi yang bisa menemani sang Kakak melewati semua ini.
__ADS_1
Tak ingin terus larut dalam kesedihan tak bertepi, Reynald kembali melanjutkan langkahnya keluar dari unit apartemen itu. Diikuti, Boril dan juga Yuna.
Sementara Aina dan El-barack masih berada ditempat itu. El-barack menggenggam tangan sang istri dengan erat. "Kita keluar sekarang, ayo."
Sebelum pergi, Aina kembali menoleh memandangi Lin yang masih duduk lemas dilantai ruangan. "Setelah melihat semua ini dengan mata kepalaku sendiri, aku berjanji kepada diriku sendiri, aku tidak akan membiarkan Kak Reynald kembali meski hanya untuk menyapa mu. Akan aku pastikan dia mendapatkan kebahagiaan lain dari seorang wanita yang tulus dan menghargai setiap tetes air matanya. Selamat tinggal, Kakak ipar."
Aina menyeka air matanya, lalu melangkah beriringan dengan El-barack keluar dari unit apartemen tersebut. Semua sudah selesai, tinggal Reynald yang mungkin akan membutuhkan waktu untuk sembuh, dan juga Lin yang mungkin akan melewati sisa hidupnya dengan penyesalan.
Cinta dan keegoisan itu bedanya sangat tipis. Melibatkan dua hal itu secara bersamaan, hanya akan membuat mata hati seseorang buta, hingga tak bisa membedakan salah dan benar hingga berujung pada penyesalan.
__ADS_1
***